Welcome to my blog :)

rss

23 April 2009

Kesenian Jemblung

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Balakang

Selama ini yang kita ketahui tentang kesenian tradisional rakyat Jawa, terutama di daerah Jawa Timur mungkin hanyalah wayang, jaranan atau reog, tetapi ternyata ada kesenian tradisional yang menggabungkan antara musik tradisional Jawa dengan selingan dakwah Islam. Kesenian ini namanya Jemblung.

Memang agak asing di telinga kita jika mendengar kata jemblung. Maklum, kesenian ini mulai tidak dikenal oleh masyarakat. Keberadaan mulai terpinggirakan seiring semakin banyaknya kesenian modern yang digandrungi oleh masyarakat, sehingga Kesenian Jemblung dianggap kuno dan ketinggalan zaman.

Semua itu akibat pergeseran fungsi yang dialami oleh kesenian ini, dulu kesenian ini digunakan sebagai media dakwah tapi sekarang fungsinya telah bergeser sebagai kesenian pentas. Inilah kosekuensi dari jaman globalisasi di mana kebudayaan dari luar bebas masuk sehingga kebudayaan masyarakat asli mulai tak tampak. Karena kita tahu sekarang masyarakat lebih menyukai kesenian modern yang notabene berasal dari luar negeri dari pada kesenian tradisional yang asli dari negeri sendiri.

Indonesia memiliki keanekaragaman yang bermacam-macam, namun keanekaragaman tersebut mulia terancam dengan datangnya budaya modern. Bangsa kita bisa menjadi bangsa yang kehilangan identitas karena sudah tidak menghargai budaya sendiri. Bangsa kita bisa kehalangan budaya sendiri apabila lebih memilih budaya modern. Keadaan ini yang harus dicari jalan keluarnya agar nantinya budaya bangsa kita tidak hilang. Beberapa waktu lalu budaya kita dikilm oleh Negara tetangga dan kita hanya bisa marah saja. Padahal tidak ikut melestarikannya. Jangan sampai hal itu terjadi lagi apalagi terhadap kesenian Jemblung yang mulai terancam punah. Kesenian ini harus dilestarikan kepada anak cucu kita sebagai warisan budaya.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusam masalah merupakan upaya yang menyatakan secara tersirat pertanyaan-pertanyaan, mengingat demikian pentingnya dalam penelitian, maka sesuai dengan judulnya dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:

1. Permasalahan yang berkenaan dengan kesenian jembung yang meliputi sub permasalahan sebagai berikut :

1.1 Apa itu kesenian Jemblung?

1.2 Bagaimana sejarah kesenian jemblung?

2. Permasalahan yang berkenaan dengan perkembangan serta keberadaan Kesenian Jemblung

2.1 Apa upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kesenian Jemblung?

2.2 Apa kendala yang dihadapi untuk mengembangkan kesenian Jemblung?

2.3 Bagaimana keadaan kesenian jemblung saat ini di tengah banyaknya kesenian modern?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai rumusan masalah tersebut, maka tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memecahkan dua pokok masalah, yaitu mengenai budaya dan perkembangan serta keberadaan kesenian Jemblung. Tujuan penelitian ini dapat dirinci kedalam beberapa tujuan permasalahan sebagai berikut :

1.2.1.1 Untuk menganalisis seni pertunjukan Jemblung. Tujuan pokok ini dapat dirinci menjadi tujuan yang lebih khusus

1.1 Untuk mengetauhi kesenian Jemblung.

1.2 Untuk mengetauhi bagaimana sejarah kesenian Jemblung.

1.2.1.2 Untuk menganalisis perkembangan serta keberadaan Kesenian Jemblung. Tujuan pokok ini dapat dirinci kedalam beberapa tujuan yang lebih khusus sebagai berikut

2.1 Untuk menganalisis upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan Kesenian Jemblung.

2.3 Untuk menganalisis keberadaan kesenian Jemblung sekarang ini di tengah banyaknya kesenian modern.

1.3 Manfaat Penelitian

Penelitaian yang berjudul “ Kesenian Jemblung Sebagai Salah Satu Kesenian Tradisional Rakyat Yang Mulai Terlupakan” ini diharapkan memiliki konstribusi penting bagi berbagai pihak antara lain sebagai berikut:

1.Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai modal telaah dalam rangka mengupas tentang seni tradisional Jemblung. Demikian juga diharapkan dapat menjadi informasi yang bermanfaat untuk memahami salah satu bagian bentuk kesenian yang merupakan warisan budaya.

2.Pemerintah

Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi sekaligus pertimbangan perlunya usaha pelertarian kesenian Jemblung sebagai salah satu seni kesenian tradisional rakyat.

3.Seniman Jemblung

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi untuk mengembangkan kesenian Jemblung agar tetap eksis dan tidak punah serta dapat dihargai dan diterima oleh masyarakat luas.

4.Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi untuk disampaikan kepada masyarakat agar lebih mengenal kesenin Jemblung serta dapat memahami pentingnya manfaat Jemblung dan sekaligus penghargaan terhadap hasil budaya nenek moyang.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini difokuskan kepada Kesenian Jemblung. Analisis mengenai perkembangan Kesenian Jemblung. Disamping itu juga mengenai Sejarah Kesenian Jemblung dengan upaya-upaya dan kendalanya dalam mengembangkan.mengenai ruang lingkup waktu penelitian ini membutuhkan 5 bulan untuk diselesaikan mulai dari tahap pengumpulan data sampai dengan kesimpulan. Mengenai ruang lingkup daerahnya penelitian ini berkisar di wilayah Kota Kediri.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Perubahan Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari kata budaya, kata budaya sendiri berasal dari kata Sansekerta yaitu buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Kata budaya dirunut dari arti kata majemuk budi daya atau kekuatan dari akal, akal atau budi itu mempunyai unsur-unsur cipta atau pikiran, rasa dan karsa atau kehendak. Hasil dari ketiga unsur itulah yang disebut kebudayaan (Yad Mulyadi, 1991: 20)

Orang yang pertama kali merumuskan definisi kebudayaan adalah E. B. Taylor (1832-1917), guru besar antropologi di Universitas Oxford pada tahun1883. Pada tahun 1871, E. B Taylor mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut : “Kebudayaan adalah mencakup ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat” (M. Effendhie, 1992:2)

Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga terjadi keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan (Posman, 2003 :172). Definisi-definisi perubahan kebudayaan banyak diutarakan para sarjana sosiologi dan antropologi antara lain:

- Samuel Koening yang mengatakan perubahan kebudayaan menunjuk pada modifikasi yang terjadi dalam pola – pola kehidupan manusia.

- Selo Soemarjan mengatakan perubahan kebudayaan adalah perubahan keseluruhan pada lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem social.

Perubahan-perubahan menjalar dengan cepat dan merupakan gejala yang normal dikenal dengan istilah Globalisasi. Faktor perubahan kebudayaan tersebut ada yang internal yaitu berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang eksternal yaitu berasal dari luar masyarakat.

Faktor internalnya adalah:

- Adanya ketidak puasan terhadap sistem nilai yang berlaku

- Adanya individu yang menyimpang dari sistem nilai yang berlaku

- Adanya penemuan baru yang diterima oleh masyarakat

Faktor eksternalnya adalah :

- Adanya bencana alam

- Timbul peperangan

- Kontak dengan masyarakat lain (Posman, 2003:173)

2.1.1 Mekanisme Perubahan Kebudayaan

Mekanisme perubahan kebudayaan menurut Posman (2003: 176-182) terdiri atas beberapa sebab, yaitu:

2.1.1.1 Inovasi

Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari pembangunan sumber-sumber alam dan pengunaan teknologi yang menyebabkan adanya sistem produksi dan produk baru. Dalam setiap masyarakat terdapat individu yang sadar akan adanya berbagai kekurangan dalam kebudayaan mereka.

Oleh sebab itu, mereka berbuat sesuatu untuk memperbaiki kekurangan, muncullah para pencipta denagn penemuan-penemuan baru yang bersifat discovery maupun invention. Karena itulah proses inovasi sangat erat kaitannya dengan penemuan baru dalam teknologi.

2.1.1.2 Discovery

Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru baik berupa suatu alat baru ataupun ide baru. Ada beberapa pendorong bagi penemuan baru dalam masyarakat antara lain:

- Kesadaran dari orang perorangan,

- Kualitas ahli-ahli dalam suatu kebudayaan, dan

- Perangsang bagi aktifitas-aktifitas penciptaan dalam masyarakat.

2.1.1.3 Invention

Penemuan baru (invention) menimbulkan pengaruh yang bermacam-macam di dalam masyarakat. Adapun jenis pengaruh tersebut adalah sebagai berikut:

- Suatu penemuan baru dapat menyebabkan perubahan dalam bidang antara lain seperti politik, sosial, dan pendidikan.

- Suatu penemuan baru menyebabkan perubahan-perubahan menjalar dari suatu lembaga kemasyarakatan ke lembagaan lain.

2.1.1.4 Difusi

Difusi dalah suatu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dan satu kelompok ke kelompok lain atau dari suatu masyarakat ke masyarakat lain. Dengan adanya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sehingga menjadi pendorong bagi pertumbuhan suatu kebudayaan. Ada dua jenis difusi, yaitu difusi intramasyarakat dan difusi antarmasyarakat.

1. Difusi intramasyarakat

Difusi intramasyarakat adalah proses difusi yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri, dipengaruhi oleh beberapa faktor:

- Suatu pengakuan bahwa unsur yang baru tersebut mempunyai kegunaan,

- Pemerintah dapat membatasi proses difusi tersebut,

- Ada tidaknya unsur-unsur kebudayaan yang mempengaruhi diterima tidaknya unsur-unsur yang baru,

- Unsur baru yang berlawanan dengan fungsi unsur lama kemungkinan besar tidak akan diterima, dan lain-lain.

2. Difusi antarmasyarakat

Difusi antarmasyarakat adalah proses difusi yang terjadi antarmasyarakat satu dengan yang lainnya dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

- Adanya kontak antarmasyarakat tersebut,

- Paksaan dapat juga digunakan untuk menerima suatu penemuan baru,

- Pengakuan akan kegunaan penemuan baru,

- Kemampuan untuk mendemonstrasikan manfaat penemuan baru, dan lain-lain.

2.1.1.5 Globalisasi

Globalisasi adalah proses terbentuk sebuah sistem organisasi dan sistem komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah yang sama. Beberapa faktor penyebab berkurangnya arti penting batas-batas negara antara lain, yaitu:

- Meningkatnya perdagangan internasional,

- Kemajuan sistem komunikasi dan alat perhubungan,

- Pariwisata, dan lain-lain.

2.1.1.6 Budaya Nasional

Budaya nasional adalah perwujudan rasa, karsa, dan karya bangsa. Wujud budaya nasional adalah bahasa, seni pakaian, dan perilaku.

2.1.1.7 Pembangunan

Pembangunan adalah usaha terencana dan terarah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia yang menuntut adanya perubahan sosial budaya sebagai pendukung keberhasilan. Perencanaan pembangunan sosial didasarkan pada suatu pengertian yang mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern.

2.1.1.8 Modernisasi

Modernisasi adalah proses perubahan masyarakat dan perubahan modern dalam seluruh aspek. Maksud dari modernisasi adalah mengadakan perubahan yang terarah bagi kemajuan serta perbaikan nasib manusia dimana dalam perubahan ini sering terjadi disorganisasi yaitu memudarnya atau melemahnya norma-norma dan nilai lama dalam sebuah masyarakat.

2.1.2 Budaya cenderung bertahan atau berubah sesuai situasi masyarakat

Setiap budaya cenderung untuk bertahan (tidak berubah) karena budaya digunakan sebagi pedoman hidup dan perubahan menggoyahkan keseimbangan sistem, akan tetapi pada kenyataan tidak ada kebudayaan yang tidak berubah. Dalam mempelajari budaya, selalu harus diperhatikan hubungan antara unsur-unsur yang mempengaruhi budaya tersebut

2.1.2.1 Budaya cenderung bertahan

Cenderung bertahannya budaya disebabkan beberapa unsur, yaitu:

1. Unsur Ideologi

Unsur Ideologi merupakan kumpulan gagasan, dasar serta tatanan yang baik dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Menyebabkan suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dan digunakan sebagai pedoman hidup.

2. Unsur kepercayaan

Semua aktifitas manusia yang berhubungan dengan kepercayaan atau religi didasarkan pada getaran jiwa, misalnya : upacaya hamil tujuh bulan dan upacara kelahiran.

3. Unsur seni

Seni melahirkan cinta kasih dan seni itu dapat melalui media musik, tari, lukis dan lain-lain sebagai hasil cipta manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang (Posman, 2003:151).

2.1.2.2 Budaya cenderung berubah

Budaya cenderung berubah karena adanya perubahan dalam unsur berikut:

1. Unsur Mata Pencaharian

Mata pencarian bersifat tradisional cenderung berubah menjadi satu sistem yang lebih maju. Perubahan tersebut disebabkan oleh:

- Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada,

- Sadar akan adanya kekurangan dalam budaya sendiri, dan

- Usaha-usaha menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

2. Unsur Sistem Teknologi

Kemajuan teknologi pada abad ke-20 telah mengubah pola hidup manusia secara keseluruhan. Perkembangan ini terlihat dari periode zaman yaitu zaman batu, zaman perunggu, dan besi kemudian berkembang sampai zaman modern.

3. Unsur Pengetahuan

Ilmu pengetahuan (science) bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segi kehidupan. Budaya cenderung berubah karena manusia berusaha mempelajari ilmu pengetahuan antara lain seperti ilmu Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari alam baik yang dihayati (Life Sciences) maupun yang tidak hayati (fisika) dan ilmu pengetahuan kerohanian mempelajari perwujudan spiritual kehidupan bersama manusia.

Yang didasarkan pada objeknya dari sudut sifatnya dapat dibedakan antara ilmu pengetahuan yang eksak dengan ilmu pengetahuan yang non eksak. (Posman, 2003:152)

2.2 Seni Pertunjukan

2.2.1 Pengertian Seni

Dalam bahasa Indonesia, salah satu arti seni adalah halus, sedangkan arti lainnya adalah kecil atau indah, dari kata seni inilah terbentuk kata kesenian yang dalam bahasa Belanda disebut schone kunsten atau fine art dalam bahasa Inggris. Semua kata tersebut memiliki pengertian yang sama dengan kata kesenian yaitu ketrampilan daerah.

Menurut John Dewey pengertian kesenian adalah mutu suatu serta hasilnya sekaligus. Maksudnya tidak sekedar produk dari setiap tingkah laku melainkan karya yang berbeda berdasarkan citra rasa keindahannya. (Tim MGMP, 2005:1)

2.2.2 Perkembangan Seni Pertunjukan Indonesia

Sejarah Indonesia dimulai dengan zaman prasejarah yang meliputi zaman paleolitikum, mesolitikum, neolitikum, dan zaman perunggu-besi. Pada zaman paleolitikum dan mesolitikum masyarakat masih mengandalkan berburu dan meramu sebagai mata pencaharian, jejak itu masih tampak pada tarian beberapa daerah di Indonesia.

Pada tahap berikutnya yaitu zaman neolitikum masyarakat mulai hidup menetap dan mengenal pertanian. Bentu seni yang berkembang pada masa itu merujuk pada cerita rakyat upacara kesuburan dan penghormatan nenek moyang.

Berbagai pengaruh asing mulai masuk, mulai dari pengaruh Hindu dari India, Islam dan Eropa masing-masing memberikan pengaruh terhadap perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Pengaruh budaya India mendorong perkembangan keindahan dalam seni tari dan drama, pengaruh Islam memperkenalkan gagasan berbaris dalam tari serta rampak gendang dan orang Eropa memperkenalkan drama modern (Juju dan Kun, 2005:22).

2.2.3 Ragam Seni Pertunjukan

Indonesia memiliki beragam jenis seni pertunjukan. Ragam yang ada biasanya dapat dibedakan berdasarkan fungsi dari seni itu sendiri. Uraian mengenai ragam seni pertunjukan berdasarkan fungsinya adalah sebagai berikut:

2.2.3.1 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana ritual

Fungsi-fungsi ritual seni pertunjukan di Indonesia masih banyak berkembang di kalangan masyarakat yang tata kehidupannya masih mengacu pada nilai-nilai budaya agraris. Selain itu masyarakat juga memeluk agama-agama yang dalam ibadahnya melibatkan seni pertunjukan, misalnya masyarakat Bali yang memeluk agama Hindhu Dharma.

2.2.3.2 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana hiburan

Indonesia kaya akan tarian yang fungsinya sebagai media hiburan pribadi. Biasanya tarian hiburan dibawakan secara berpasangan (pria dan wanita). Selain tari-tarian yang terdapat hiburan teater, seni, dan musik seperti tayub dan ronggeng melayu.

2.2.3.3 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai presentasi estetis

Seni pertunjukan estetis biasanya didanai oleh para penonton dengan membeli karcis. Oleh karena itu, jenis pertunjukannya dinamakan pertunjukan komersial (commersial show) seperti wayang orang sriwedari dan ludruk.

2.2.3.4 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana pariwisata

Di negara berkembang, seni pertunjukan yang disajikan kepada para wisatawan terutama mancanegara dapat tumbuh lebih subur. Seorang antropolog dan pemerhati seni J. Maquet mengemukakan seni pertunjukan untuk pariwisata telah mengalami metamorfosis berbeda dengan seni yang diciptakan untuk masyarakat lokal sendiri. Hal itu disebabkan karena para wisatawan asing memiliki budaya yang berbeda dan pasti selera estetisnya juga berbeda (Juju dan Kun, 2005:22).

2.2.4 Ragam Seni Pertunjukan Menurut Subjeknya

2.2.4.1 Seni Pertunjukan Keraton

Seni pertunjukan ini kebanyakan seperti pertunjukan wayang yaitu wayang boneka, wayang orang, dari data sejarah sekitar tahun 1900 di Indonesia sudah dikenal adanya wayang kulit yang diselenggarakan di istana kerajaan Kediri. Pada masa itu fungsi wayang hanya berupa media upacara untuk memanggil roh nenek moyang

2.2.4.2 Seni Pertunjukan Rakyat

Seni pertunjukan rakyat sangat banyak jumlahnya, hamper disetiap suku bangsa memiliki satu atau lebih kesenian rakyat. Di jawa timur sendiri banyak pertunjukan rakyat. Seperti wayang beber di Pautan serta kesenian rakyat Jemblung yang menyerupai wayang. Hanya dialog gamelang, dan sebagainya dilakukan dengan suara mulut. (Machoed Effendi, 1999:115)

2.2.5 Seni Pertunjukan Modern

Seni pertunjukan modern bermula dari teater yang dipentaskan. Perintis teater modern di Indonesia adalah satu rombongan teater yang disebut teater bangsawan. Tahun 1870-an di, Penang Malaysia. Rombongan ini mengadakan pentas di Jakarta. Sejak saat itulah berkembang seni pertunjukan modern di Indonesia. ( Machoed Effendi, 1999:115)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan jenis penelitian

Jenis pendekatan yang dilakukan ini adalah pendekatan kualitatif pada jenis peneliti deskriptif-analitif. Keutamaan penelitian kualitatif menurut Chad wick (dalam Fakhris, 2002:85) adalah suatu penelitian yang menekankan upuya untuk mendekati data dan memiliki kekhasan dalam pemehaman data secara mendalam dengan penekanan pada intepretasi. Langkah awal yang dilakukan adalah berupa usaha untuk mendeskripsikan gejala secara lengkap dalam aspek yang diselidiki. Data yang sudah diperoleh, diolah, dan disajikan dalam bentuk uraian naratif bukan dalam bentuk statistic. Penelaah dilakukan pada status kelompok manusia, objek suatu system pemikiran, dan peristiwa-peristiwa masa sekarang, sehingga dapat dibuat suatu gambaran yang sistematis, factual, dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Sedangkan jenis penelitian deskriptif-analitis adalah yang hanya melukiskan, memaparkan, menuliskan, dan melaporkan suatu keadaan suatu objek suatu peristiwa fakta adanya dan berupa penyingkapan fakta (Tim sosiologi, 2000:95)

3.2 Kehadiran peneliti

Untuk mendapatkan fakta-fakta yang diperlukan, peneliti harus terjung langsung kelapangan. Kehadiran peneliti dilapangan bersifat nonpartisipatif yaitu peneliti tidak ikut terlibat secara langsung dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek penelitian, peneliti heanya berperan sebagai pewawawancara atau observer. Oleh karena itu, peneliti harus menentukan dan memilih nara sumber yang akan diwawancarai. Adapun tahap dalam penelitian di lapangan sebagai beriku:

a. Penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk mendapatkan data dan iformasi secara umum

b. Peneliti di lapangan yang bertujuan untuk memperoleh data secara khusus

c. Kunjungan sewaktu-waktuyang bertujuan untuk melengkapi data-data yang telah terkumpul

3.3 Tehnik pengumpulan data

Data- data dalam penelitian diperoleh dari:

a. Studi pustaka

Studi pustaka merupakan suatu kegiatan dan pemilihan secara teratur dengan cara menggunakan bahan-bahan dokumentasi seperti buku, majalaah, surat kabar dan lain-lain.(Fathoni 2004:12)

b. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab secara langsung antara sipenanya yang disebut pewawancara dengan si penjawab yang disebut respsnden atau infomen (M. Sitorus, 2003;36)

Pada dasarnya wawancara dalam peneliyian merupakan suatu kegiatan untuk mempeoleh informasi atau data dengan cara bertanya langsung kepada responden. Wawancara dilakukan denagan komunikasi secara langsung dengan secara langsung tatap muka, nmun berbeda dengan seperti biasa dilakukan setiap hari (Tim Sosiologi, 2000:121)

c. Observasi

Observasi adalah cara mengumpulkan data melalui pengamatan indrawidengan melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala yang terjada pada objekpenelitian secara langsung di tempat penelitian.(M. Sitorus, 2003;36)

3.4 Tahap-tahap penelitian

Dalam setiap penelitian diperlukan 2 macam tahap agar hasil yang ingin dicapai bias maksimal yaitu tahap pra langan dan tahap lapangan

1. Tahap Pra Lapangan

a. Menentukan topic dan judul yang akan diteliti

b. Merumuskan masalah yang hendak di angkat

c. Menentukan metode dan pendekatan yang sesuai dengan jenis peristiwa

d. Mencari referensi yang berhubungan dengan objek penelitian

e. Membuan pertanyaan untuk wawancara

f. Memilih narasumber yang sesuai

2. Tahap-tahap lapangan

Tahap-tahap ini merupakan cara utama untuk mendapatkan data meliputi:

a. Observasi

Untuk mengetauhi keadaan objek yang diteliti secara langsung, observasi ini dilakukan dengan cara mendatangai sejumlah pertunjuakan seni Jemblung diberbagai lokasi

b. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk memperoleh data selengkap mungkin mengenei seluk beluk Jemblung dan aktifitas yang dilakukan pemerintah dalam rangka pelestarian kesenian Jemblung

3.5 Prosedur dan tehnik Penelitian

Sebuah penelitian merupakan usaha untuk menjawab permasalahan dalam penelitian, maka diharuskan melalui serangkain kegiatan yang dilaksanakan dengan mengundahkan berbagai tahap secara rinci. Separti hal nya dalam penelitian sebuah budaya, proses ini menggunakan tahap-tahap sebagai berikut :

1) Tahap pengumpulan data

2) Tahap revisi data

3) Tahap reduksi data

4) Tahap analisa data

5) Tahap penyajian data

6) Tahap pengambilan kesimpulan, dan

7) Tahap penulisan hasil penelitian

mengenai metode dan tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan sumber data yang digunakan.

1. Tahap Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam rangka pengumpulan data yang tidak selalu sama antara sumber data yang lain, hal ini disesuaikan dengan jenis sumbsr data yang digunakan serta dimungkinkan agar lebih mudah bagi peneliti untuk mengumpulkan sumbsr data yang akan digunakan dalam penelitian.

a. Sumber data primer

Data primer adalah data yang didapat dari sumber data dari penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dan observasi.

b. Sumber data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain yang bukan sumber utama, biasanya data sekunder diperoleh melalui sumber tulisan. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan.

2. Tahap Revisi Data

Setelah semua data lengkap, maka dilanjutkan revisi atau perbaikan dengan jalan

a. Pengamatan yang mendalam

b. Memilih keabsahan yang ideal

c. Pengulangan

3. Tahap Reduksi Data

Setelah direvisi maka dilanjutkan dengan mereduksi data, dengan cara data yang terkumpul dan terekam dalam catan-catan lapangan kemudian dirangkum dan diseleksi. Merangkum dan menyeleksi data didasarka pada focus katagori atau pokok masalah tertentu yang telah ditetapkan dan dirumuskan sebelumnya:

Klasifikasi tersebut didasarkan pada permasalahan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

a. Kelompok data yang berkenaan dengan budaya seni Jemblung

b. Kelompok data yang berkenaan dengan perkembangan serta keberadaan seni Jemblung

4. Tahap Analisa Data

Setelah data dikumpulkan dan dideskrisikan langkah selanjutnya adalah melakukan anlisis data. dalam hal ini, konsep dari teori yang telah diuraikan di atas dapat dijadikan sebagai perangkat bantu analisis dalam memecahkan keempat permasalahan pada rumusan masalah yaitu:

4.1 Permasalahan tentang apa yang dimaksud kesenian Jemblung.

Tekhnik pengumpulan data pada permasalahan ini menggunakan sumber data primer berupa wawancara kepada dalang Jemblung serta observasi ke pertunjukan Jemblung.Untuk sumber data sekunder berupa studi pustaka serta mencari referensi dari internet . Wawancara dilakukan kepada Bapak Sujiman selaku pimpinan grup Jemblung Putra Budaya serta Bapak Maksum sebagai dalang Jemblung.Sedangkan studi pustaka dilakukan dengan mencari literatur yang berhubungan dengan masalah penelitian.

4.2 Permasalahan tentang sejarah kesenian Jemblung

Dalam hal ini,pemecahan masalah menggunakan sumber data primer berupa wawancara dan sumber data sekunder berupa mencari referensi dari internet.Wawancara dilakukan kepada Bapak Sujiman selaku pimpinan grup Jemblung Putra Budaya serta Bapak Maksum sebagai dalang Jemblung.

4.3 Permasalahan tentang upaya-upaya dalam mengembangkan kesenian Jemblung.

Tekhnik pengumpulan data pada permasalahan ini menggunakan sumber data primer berupa wawancara.Wawancara dilakukan kepada Bapak Maksum sebagai salah satu dalang Jemblung dan Bapak Sujiman selaku pimpinan grup Kesenian Jemblung Putra Budaya.

4.4 Permasalahan tentang keberadaan kesenan Jemblung di tengah kesenian modern.

Dalam hal ini tekhnik pengumpulan data menggunakan sumber data primer berupa wawancara terhadap Bapak Maksum sebagai salah satu dalang Jemblung dan kepada Bapak Sujiman selaku pimpinan Grup Jemblung Putra Budaya.

5. Tahap Penyajian Data

Tahap Penyajian Data adalah proses menyajikan data-data yang telah didapatkan, direvisi, direduksi, dan dianalisis kedalam bentuk laporan yang sistematis.

6. Tahap Pengambilan Kesimpulan

Pangambialan kesimpulan adalah menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

7. Tahap Penulisan Hasil Penelitian

Adapaun tahap yang paling terakhir dalam suatu penelitian. Seluruh data yang telah disimpulkan akan ditulis ke dalam suatu karya tulis yang sesuai dengan sistematika penulisan karya Ilmiah.

SKEMA PROSEDUR DAN TEKNIK PENELITIAN

Pengumpulan data

Analisis data

Pengambilan Kesimpulan

Penulisan Hasil Penelitian


BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Profil Kediri

Kota Kediri terletak di wilayah selatan bagian barat Jawa Timur. Wilayah Kabupaten kediri diapit oleh dua gunung yang berbeda sifatnya, yaitu Gunung Kelud di sebelah Timur yang bersifat Vulkanik dan Gunung Wilis disebelah barat yang bersifat non vulkanik, sedangkan tepat di bagian tengah wilyah Kabupaten Kediri melintas sungai Brantas yang membelah Wilayah Kabupaten Kediri menjadi dua bagian, yaitu bagian Barat sungai Brantas: merupakan perbukitan lereng Gunung Wilis dan Gunung Klotok. dan bagian timur Sungai Brantas.

Struktur wilayah Kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Mayoritas Kota Kediri (80,17%) berada pada ketinggian 63-100 meter dari permukaan laut yang terletak sepanjang sisi kiri-kanan Kali Brantas.

Sehingga pada umumnya air tanah di Kota Kediri dalam keadaan jernih (kedalaman air tanah 3-12 m) dan dapat dimanfaatkan untuk air minum (sumur gali, sumur pompa) terutama bagi penduduk yang tidak mendapat fasilitas air minum PDAM.

Kota Kediri mempunyai curah hujan rata-rata antara 1000-2000 mm pertahun. Curah hujan tidak merata sepanjang tahun, bulan kering Mei-Oktober dan bulan basah November-April.

Wilayah dataran rendah terletak di bagian timur sungai, meliputi Kec. Kota dan kec. Pesantren, sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto yang mana di bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m).

Mayoritas Kota Kediri (80,17%) berada pada ketinggian 63-100 meter dari

permukaan laut yang terletak sepanjang sisi kiri-kanan Kali Brantas.

Secara geografis Kota Kediri terletak diantara 7o45 Lintang Selatan dan - 7o55 Lintang Selatan dan 111o05 Bujur Timur - 112o03 Bujur Timur

Keadaan geologi Kota Kediri dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Alluvium : hampir 77,49% (4.921 Ha) wilayah Kota Kediri terbentuk dari Kedirian induk alluvium.

b. Young Quertenery Volcanic Product : terdapat di bagian timur Kota Kediri dengan luas 1.127 Ha (17.78%), wilayah ini merupakan tanah pertanian yang

subur karena berasal dari K edirian vulcanic muda (Gunung Kelud).

c. Undefferentiated Vulcanic Product : kelompok K edirian ini terdapat disebelah barat Kota Kediri yang terletak pada daerah berbukit seluas 300

Secara administratif, Kota Kediri berada di tengah wilayah Kabupaten Kediri dengan batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah utara : Kec. Gampengrejo dan Kec. Grogol

Sebelah Selatan : Kec. Kandat dan Kec. Ngadiluwih

Sebelah Timur : Kec. Wates dan Kec. Gurah

Sebelah Barat : Kec. Grogol dan Kec. Semen

Wilayah Kota Kediri, secara administratif terbagi menjadi 3 wilayah kecamatan, yaitu:

Kecamatan Kota, dengan luas wilayah 14,900 Km2 terdiri dari 17 Kelurahan

Kecamatan Pesantren, dengan luas wilayah 23,903 Km2 tediri dari 15 Kelurahan

KelurahanKecamatan Mojoroto, dengan luas wilayah 24,601 Km2 tediri dari 14 kelurahan. (http://bisniskediri.blogspot.com)

4.1.2 Hikayat Amir Hamzah

Hikayat Amir Hamzah adalah suatu karya sastra yang menceritakan peristiwa dan kejadian yang berlaku pada abad ke-7 di Timur Tengah. Tokoh yang memegang peranan penting adalah Amir Hamzah bin Abdul Mutalib (paman Nabi Muhammad saw.). Dalam sastra Jawa, cerita Amir Hamzah dikenal dengan nama Serat Menak yang kemungkinan besar disadur dari HAH Melayu. Teks Amir Hamzah dalam Serat Menak jauh lebih luas daripada dalam HAH sebab orang Jawa suka menambah dan memperluas semua cerita yang dibacanya (Poerbatjaraka, 1954:109; Yock Fang, 1982:151). Teks Amir Hamzah Melayu disadur ke dalam kesusastraan Jawa diperkirakan pada zaman Mataram, yakni abad ke-16-17 dan banyak dikenal orang di daerah-daerah Pesisir Utara, Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Versi Jawa ini dipengaruhi oleh cerita Panji yang pada saat itu berkembang di Jawa (Poerbatjaraka, 1940:3). Serat Menak sebagaimana HAH merupakan cerita yang panjang dan luas. Beberapa redaksi Serat Menak ditulis di istana-istana Jawa Tengah; dan yang pertama-tama di istana Kartasura pada tahun 1639 atas kehendak Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sri Paduka Paku Buwana I (Pangeran Puger). Adapun yang mendapat perintah bernama carik Narawita. Serat Menak Kartasura ini terdiri atas 145 pupuh (Poerbatjaraka, 1940: 2, 9- 30). Pada awal abad ke-18, Pujangga Keraton Surakarta Yasadipura menulis kembali cerita-cerita menak ini. Teks Serat Menak yang disusun oleh Yasadipura I ini dikenal dengan versi Yasadipura atau versi Surakarta, yang merupakan terjemahan langsung dari versi Kartasura (Poerbatjaraka, 1954: 148). Hingga awal abad ke-20, Serat Menak paling sedikit sudah empat kali diterbitkan, yaitu oleh C.F Winter pada tahun 1854 di Batavia; yang kedua ditulis oleh R. Ngabehi Jayasubrata dan diterbitkan oleh Penerbit Van Dorp, Semarang dalam 11 jilid, tanpa tahun terbit; kemudian tahun 1933 diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam 46 jilid, dan kemudian diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982 dalam bahasa Indonesia. Beberapa judul di antaranya adalah (1) Menak Sarehas, (2) Menak Lare (4 jilid), (3) Menak Serandil, (4) Menak Sulub (2 jilid), (5) Menak Ngajrak, (6) Menak Demis, (7) Menak Kaos, (8) Menak Kuristam, (9) Menak Biraji, (10) Menak Kanin, (11) Menak Gandrung, (12) Menak Kanjun, (13) Menak Kandabumi, (14) Menak Kuwari, (15) Menak Cina (5 jilid), (16) Menak Malebari (5 jilid), (17) Menak Purwakanda (3 jilid), (18) Menak Kustup (2 jilid), (19) Menak Kalakodrat (2 jilid), (20) Menak Sorangan (2 jilid), (21) Menak Jamintoran (2 jilid), (22) Menak Jaminambar (3 jilid), (23) Menak Talsamat, dan (24) Menak Lakat (3 jilid). Serat Menak didukung oleh banyak naskah, tersimpan di berbagai tempat, di dalam dan di luar negeri (Pigeaud, 1967; Poerbatjaraka, 1 40; Vreede, 1892). Dalam sastra Jawa kata menak berarti wong sing kepenak, ‘orang yang selalu enak hidupnya, luhur, misalnya Amir Hamzah‘ (Effendi, 1977:22-23). Versi Jawa ini menjadi sumber saduran versi Bali (Yock Fang, 1982: 151). Di kalangan masyarakat Jawa cerita menak dituangkan pula dalam bentuk wayang golek menak dan selanjutnya digubah dalam bentuk fragmen tarian lepas, yang disebut tari golek menak. Tarian ini diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono IX, dan dicoba disempurnakan oleh Tim Penyempurnaan Tari Golek Menak di bawah pimpinan Prof.Dr.R.M. Soedarsono pada tahun 1988 (Pigeaud, 1967: 212-217; Hooykaas, 1947: 155; Soedarsono, 1989: 37-69). Wayang adalah alat dakwah Islam yang sangat hebat. Alat ini telah diwariskan oleh para wali (Wali Songo). Perkembangan sejarah pewayangan tidak dapat terlepas dari perkembangan kebudayaan, keagamaan, dan politik di Indonesia, khususnya di Jawa. Islam mulai berkembang di Jawa diawali dengan berdirinya kerajaan Demak dan runtuhnya kerajaan Majapahit. Pada saat itulah, wayang mulai berkembang dan disempurnakan oleh para wali. Jadi, wayang sangat besar peranannya dalam penyebaran agama Islam. Ada beberapa macam wayang dan cerita yang digambarkan di antaranya adalah wayang purwa (cerita Mahabarata), wayang gedog (cerita Panji) dan wayang golek menak (cerita menak) (Effendi, 1977: 13-26). Dalam wayang golek menak diceritakan riwayat Amir Hamzah dan hubungannya dengan negeri Arab dan Parsi pada zaman permulaan Islam. Tari menak di Jawa yang terkenal di antaranya adalah Tari “Umar Maya-Umar Madi” (nama tokoh panakawan Amir Hamzah), tari “Menak Kelaswara” (nama salah satu istri Amir Hamzah yang berasal dari Cina). Dalam sastra Sunda, teks Amir Hamzah mendapat sambutan secara konkret. Bentuk transformasinya yang terdapat di dalam sastra Sunda berjudul Amir Hamjah (Behrend, 1998: 569). Cerita itu amat dikenal dikalangan masyarakat Sunda. Grashuis (via Ronkel, 1895: 207-211) telah meneliti cerita Amir Hamzah Sunda dengan menggunakan naskah yang b rukuran folio, tebal 370 halaman, huruf Pegon (huruf Arab, bahasa Jawa). Naskah itu selesai disalin pada 13 Syakban 1271 H/ 1854 M. Teks Amir Hamzah Sunda ada persamaan dengan HAH dan tidak ada hubungan genetis dengan Serat Menak. Namun demikian, cerita Amir Hamzah Sunda dan Serat Menak bersumber pada HAH.Di dalam masyarakat Sunda istilah menak digunakan untuk menunjukkan suatu golongan dalam lapisan masyarakat yang berdasarkan hukum memiliki hak-hak yang istimewa. Mereka itu adalah kelompok aristokrasi lokal yang terdiri atas para bupati, bawahan bupati, dan sanak kerabat mereka. Menak dianggap sebagai keratabasa dari rangkaian kata nu dimemen-memen di enak-enak, artinya ‘kaum menak adalahmereka yang harus dilayani segala keperluannya (oleh orang lain) sehingga hidupnya menjadi enak‘. Kiranya keratabasa ini sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan kaum menak di Sunda (Nina, 1998:vii,12,21). Dalam sastra Bugis, cerita Amir Hamzah dikenal dengan nama Hikayat Amir Hamzah yang merupakan saduran dari HAH. Isi cerita Amir Hamzah Bugis lebih luas daripada HAH karena mengandung 92 cerita (Matthes via Ronkel, 1895: 248)

4.2 Kesenian Jemblung

Indonesia terkenal dengan keanegaraman budayanya seperti kesenian yang meliputi lagu daerah, tari daerah, ataupun kesenian tradisional. Letak geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau yang memiliki kesenian tradisional sendiri semakin menambah keanekaragaman budaya Indonesia. Kesenian sendiri diklasifikasikan menjadi beberapa bagian salah satunya seni pertunjukan dan seni pertunjukan dibagi dua yaitu kesenian pertunjukan keraton dan seni pertunjukan rakyat. Untuk seni pertunjukan keraton memang berkembang dari istana kerajaan dan golongan bangsawan saja yang bisa menikmati, sedangkan pertunjukan rakyat berkembang dikalangan rakyat jelata dan bisa dinikmati oleh siapapun. Golongan kesenian ini sangat sederhana dipentaskan.

Seni pertunjukan rakyat sangat banyak jumlahnya dan hampir ditemukan disetiap daerah. Dari sekian banyak seni pertunjukan rakyat terdapat kesenian Jemblung yang asli dari daerah Banyumas Jawa Tengah. Jemblung merupakan salah satu jenis teater tutur yang unik dan spesifik khas Banyumasan yaitu merupakan terater tutur yang tidak menggunakan peralatan musik tradisional dan para pemainnya mengandalkan suaranya sebagai musik pengiring. Dengan suaranya sendiri para pemainnya menirukan bunyi Gamelan bahkan merangkap memainkan peran tokoh yang dibawakan. Jemblung biasanya dimainkan oleh 4 atau 5 orang. Kalau 4 terdiri dari 3 laki-laki dan 1 perempuan, salah seorang dari 4 pemain itu menjadi dalang dan sekaligus menjadi pemain.

Bentuk pementasan Jemblung sangat sederhana dan cukup dilakukan di dalam rumah, karena pemainnya hanya 4 atau 5 orang. Para pemain Jemblung duduk bersila mengelilingi meja kecil dan pendek serta kosong dan tidak ada pelengkap lainnya. Perlengkapan pemain hanyalah Kudhi (semacam pisau khas Banyumasan). Fungsinya Kudhi sebagai peralatan untuk membantu para pemain dalam pementasan. Dan dapat berfungsi sebagai senjata dalam adegan perang, atau sebagai pelengkap lainnya. Pakaian para pemain Jemblung sangat sederhana, yaitu pakaian biasa penduduk tradisi Banyumas (yaitu pakaian lengkap Banyumas terdiri Jas Tutup atau Surban, Kain Batik, belangkon atau Iket dan memakai Selop/Sandal). Semua itu merupakan pakaian adat Jawa. Pada umumnya pakaian ini dipakai hanya untuk keperluan suatu upacara atau pertemuan resmi. Jemblung merupakan teater tutur yang paling sederhana dan paling murni, yang semua diungkapkan lewat media ungkap yang paling esensial, yaitu suara. Dengan kemampuan suaranya para pemain dapat menggambarkan suasana cerita, kejadian dan watak dari berbagai tokoh yang seolah-olah dimainkan oleh berpuluh-puluh orang (http://www.wikipedia.org) .

Untuk lakon cerita yang disajikan tidak ubahnya seperti cerita Wayang lainnya. Sebab, Jemblung merupakan akulturasi antara Wayang dengan agama Islam. Jadi masih terdapat pengaruh Hindu dengan Agama Islam. Sehingga lakon dalam Jemblung seperti cerita Wayang pada umumnya, dalam Jemblung Banyumasan sering juga mengambil cerita menak atau golek menak yang sering disebut Babat Menak atau Serat Menak .Ceritanya banyak menyangkut masalah penyebaran agama Islam antara lain cerita yang sangat populer ialah cerita :Wong Agung Minak serta Serat minak.Cerita serat Minak sering dimainkan oleh wayang golek. Cerita Menak juga dimainkan oleh wayang Tingul .Dengan cerita dan tokoh yang terkenal Amir Hamzah dan Umar Maya . Dalam Jemblung pun tokoh yang terkenal disebut disebut Umar Maya dan Umar Madi .Tidak menutup kemungkinan cerita yang dihidangkan dapat berupa cerita rakyat daerah Banyumas atau cerita Panji yang terkenal. Kesenian Jemblung sebagai sebuah produk budaya, juga mengalami difusi atau penyebaran ke daerah lain dan terus mengalami perkembangan sampai sekarang. Penyebaran Jemblung ke daerah lain sampai daerah Kediri. Kediri yang dulunya sebagai pusat kebudayaan dengan kerajaan Dhohonya sebenarnya juga mempunyai kesenian tradisional yaitu Jaranan, namun pengaruh Jemblung juga sampai ke Kediri. Untuk Jemblung di Kediri berbeda dengan Jemblung yang berada di Banyumas. Ketika dipentaskan kesenian ini seperti pertunjukan wayang kulit biasa tetapi bedanya Jemblung tidak ada perantara wayangnya hanya berupa suara mulut saja. Hal itu ada pada pementasan Jemblung Putra Budaya yang menampilkan 10 pemain, 7 orang bertugas memainkan alat musik. Ketujuh alat musik yang dimainkan ialah Gendang, Terbang ,Ketuk, Kenong, Dimplung, Tengeruh, dan Jidor. 2 orang bertugas sebagai dalang. Ada dalang cerita dan dalang shalawat, Dalang cerita berfungsi menceritakan jalannya cerita dalam lakon Jemblung. Sementara dalang shalawat hanya berfungsi melantunkan shalawat pada sela-sela pementasan Jemblung. Sementara 1 pemain terakhir ialah Sinden wanita, menurut Sujiman selaku Dalang sekaligus pimpinan Jemblung Putra Budaya adanya Sinden pada pementasan kali ini hanya sebagai penyegaran saja agar penonton tidak jenuh ketika menyaksikan Jemblung. Ketika pementasan Jemblung dalang dan para pemain yang lain duduk bersila. Dalang selalu berparikan (berpantun) dalam menyampaikan lakon Jemblung. Awal pementasan diisi dengan Shalawat dan memuji Rasulullah. Lakon yang disampaikan ialah tentang Saudagar Dul Jalal dan Peksi Cucak Ijo (Observasi, 7 Mei 2009).

Suatu ketika Saudagar Dul Jalal jatuh cinta kepada seorang wanodyayu (wanita cantik) yang bernama Nyai Muridal Sari. Nyai Muridal ini memiliki pusaka Peksi Cucak Ijo (Burung Cucak Hijau) yang kalau dimakan akan membuat seseorang menjadi Satria. Terus saudagar Dul Jalal melamar Nyai Muridal dan Nyai Muridal menerimanya. Sejak saat itu Nyai Muridal berganti nama menjadi Nyai Dul Jalal. Tahun demi tahun dilewati dan mereka dikaruniai dua putra yang bernama Ahmad dan Muhammad. Mereka dipondokkan oleh orang tuanya ke negeri seberang. Suatu ketika Ahmad dan Muhammad pulang dari menuntut ilmu, mereka mendapati tidak ada orang di rumah. Pada saat itu mereka lapar, mereka melihat Burung Cucak Ijo dan berinisiatif untuk memakannya. Singkat cerita mereka memakan Peksi Cucak Ijo, dan kebetulan Dul Jalal pulang serta melihat hal itu. Dul Jalal marah besar dan langsung mengusir kedua putranya. Namun Nyai Dul Jalal tetap mendoakan kedua anaknya. Ahmad dan Muhammad merantau ke negeri Mesir, di tengah perjalanan mereka berhenti untuk minum di telaga. Ternyata air yang ada di telaga tersebut ialah air sakti yang bercampur dengan kekuatan Peksi Cucak Ijo sehingga membuat Raden Ahmad dan Muhammad menjadi seorang kesatria. Raden Ahmad berada di Negara Mesir yang diperintah oleh Ratu Candrasari. Melihat ketampanan Raden Ahmad membuat Ratu Candrasari mengutus gajah untuk melamarkan Raden Ahmad. Gajah menunaikan tugasnya, namun iktikad baik gajah tidak disambut oleh Raden Ahmad. Raden Ahmad malah mengajak berkelahi gajah, pertarungan berlangsung seru dan akhirnya dengan bantuan adiknya Muhammad, Ahmad berhasil mengalahkan gajah. Mendengar Gajah kalah Ratu Candrasari bergegas menyusulnya, dan akhirnya Candrasari bertemu Ahmad. Ahmad langsung jatuh hati dan akhirnya mereka sepakat menikah. Sementara Muhammad dinikahkan dengan Ratu Gandawati adik dari Candrasari. Akhirnya raden Ahmad menjadi raja dan bergelar Prabu Ganda Supeno. Sedangkan adiknya menjadi senopati dan bergelar Senopati Gandasari. Mendengar anaknya menjadi raja. Nyai Dul Jalal memutuskan kabur dan menemui anaknya. Akhirnya mereka bertemu dan memerintah Negara Mesir dengan bahagia. Itu semua berkat pusaka Peksi Cucak Ijo yang dimakan oleh Ahmad dan Muhammad sehingga membuat mereka menjadi raja Itu tadi salah satu lakon yang ada dalam pementasan Jemblung.

Ada lakon yang memuat tentang perjuangan Islam seperti perjuangan Sunan Kalijaga dalam melaksanakan dakwah ada juga lakon lahirnya Sunan Giri serta berdirinya Kerajaan Demak. Itu semua merupakan lakon yang berkenaan dengan perjuangan awal mula Islam di Indonesia. Ada juga lakon tambahan yang bercerita tentang pahlawana Islam dalam perjuangan mengusir penjajah seperti Pangeran Diponegoro, kyai Mojo, dan Untung Soropati. Pada penceritaan Lakon juga diiringi dengan Shalawat seperti sholawat Badar, Sholawat Tombo Ati ataupun Sholawat Munjiyat. Dalang bertutur sambil diiringi musik, dalang dan dan para pemain lain juga merangkap menjadi pemainnya. Seperti sinden yang menjadi Ratu Candrasari atau Nyai Dul Jalal. Adegan lamaran yang berisi rayu-rayuan dilakukan oleh dalang dan sinden namun hanya dalam suara saja. Ada juga pementasan Jemblung yang menggunakan media wayang sebagai visualisasi tokohnya, Ini ada pada Jemblung Murtadho dari Blitar. Grup kesenian Jemblung ini menggunakan 14 pemain dalam mementaskan Jemblung. Yaitu 8 orang memainkan alat musik, alat musik yang dimainkan ialah Gendang, Terbang, Ketuk, Dimplung, 2 Kenong, Tengeruh, Jidor, serta Organ. Organ digunakan untuk menciptakan musik campursari. 2 orang sebagai dalang cerita dan shalawat. Dan ada 4 sinden. Jemblung Murtadho menambah Jemblung dengan tambahan wayang, pada saat itu Lakon Yang diceritakan ialah Babat Tanah Jawi. Pada saat itu tanah Jawa masih dihuni oleh bangsa lelembut dan Syeh Subakir dan Semar menumbalkan dirinya untuk mengusir lelembut ke Segara Kidul (laut selatan) dan tanah Jawa bisa dihuni. Selain menggunakan wayang, Jemblung Murtadho juga menambahkan musik campursari namun menurut Sujiman hal ini akan mengurangi misi dakwah Jemblung karena orang-orang akan lebih menikmati campursarinya daripada dakwahnya.(Wawancara, 2 Mei 2009).

Meskipun Jemblung di daerah Banyumas dan Kediri banyak sekali perbedaan tetapi tetap tidak meninggalkan identitas Jemblung sebagai kesenian yang Islami, hal itu terbukti dengan lakonnya yang tetap mengusung perjuangan Islam. Sebagaimana umumnya teater tutur, Jemblung mengusung perjuangan Islam. Sebagaimna umumnya teater Jemblung mengandalkan keahlian para pemainnya untuk memainkan tokoh-tokoh dalam pertunjukannya. Apalagi dalangnya harus dituntut berimprovisasi dengan ide baru disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat lingkungannya. Meskipun ceritanya sudah dikenal dan mentradisi, namun dengan kepandaian dalang Jemblung dapat menciptakan suasana yang segar dan baru. Cara bermain tetep mengikuti, cara pendahulunya, namun pemain itu mempunyai ide yang segar dan cara membawakannya yang penuh humor yang dapat memikat para penonton. Cara membawakan penuh variasi, tidak monoton, dan sering membawakan situasa terakhir yang sedang hangat menjadi topik pembicaraan di daerah tersebut.

4.2.1 Fungsi Jemblung

Sejak Jemblung lahir pada abad ke-15 (Wawancara, 21 Maret 2009). Jemblung terus mengalami perkembangan sampai saat ini. Berbagai perubahan konvesional telah dialami oleh kesenian ini. Salah satunya pergeseran fungsi, fungsi Jemblung masa kini sudah berbeda dengan Jemblung dulu. Pada awal perkembangannya Jemblung digunakan sebagai media dakwah agama Islam oleh para wali. Pada zaman tersebut budaya Hindu masih kental di Nusantara dan orang Jawa sangat menyukai kesenian seperti Tembang dan Gamelan. Melihat peluang tersebut para wali mengakulturasi wayang dengan agama Islam hingga lahirlah Jemblung yang digunakan sebagai media dakwah para wali. Hal ini terus terjadi pada awal masuknya Islam pada zaman kolonialpun Jemblung masih digunakan sebagai media dakwah, itu terbukti dengan adanya lakon Jemblung yang mengisahkan Pangeran Diponegoro. Tahun 1960an Jemblung terkenal di wilayah Blitar dan Kediri, saat itu Jemblung berfungsi sebagai media dakwah dan komersialis, karena tawaran tawaran pentas yang mengalir deras akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama karena pamor Jemblung dari tahun ketahun semakin surut. Fungsi Jemblung sekarang menjadi fungsi komersialis dimana Jemblung dipentaskan dalam rangka tertentu. Seperti pada seorang hajatan, syukuran, atau Peringatan Hari Besar Islam seperti Maulid nabi dan Isra’ Mi’raj nabi. Jemblung sekarang juga ada fungsi penyuluhan fungsi ini merupakan progam pemerintah yang menyelipkan tentang progam-program pemerintah seperti KB, konvensi minyak gas dalam hal ini pemerintah bekerja sama dengan seniman Jemblung untuk menginformasikan progam pemerintah ketika pementasan Jemblung (Wawancara,21 Maret 2009)

4.3 Sejarah Kesenian Jemblung

Indonesia sebagai negara kepulauan dikenal memiliki banyak kesenian tradisional. Salah satunya kesenian Jemblung yang berasal dari daerah Banyumas Jawa Tengah. Jemblung lahir melalui proses Akulturasi.. Di wilayah banyumasan terdapat suatu tradisi, apabila ada seorang yang melahirkan bayi, maka didakan acara nguyen. Yaitu suatu bentuk tirakatan pada malam hari bersama sanak saudara dan tetangga dekat semalam suntuk sampai menjelang subuh. Didalam nguyen tersebut sering diadakan macapatan dari selah peserta nguyen. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kantuk dan juga menolak makhluk halus yang akan mengganggu bayi yang baru lahir atau ibunya yang baru melahirkan. Tradisi seperti ini ada pada abad ke 15 dimana pada saat itu masa awal mula Islam masuk ke Jawa. Macapatan ialah kegiatan menyampaikan sastra lisan dalam bentuk tembang/nyanyian, macapatan ini sangat digemari masyarakat karena pelaksanaannya sangat mudah, sederhana dan murah. Macapatan ini berkembang menjadi Macakanda kemudian karena pengaruh perkembangan teater rakyat lainnya, kemudian berkembanglah menjadi kesenian Jemblung, yaitu salah satu jenis teater tutur (http://www.wikipedia.org), Sedangkan menurut Bapak Maksum lahirnya Jemblung bermula dari dakwah yang dilakukan oleh Wali Sanga untuk menarik minat masyarakat Jawa yang saat itu masih memeluk agama Hindu. Pada saat itu masyarakat Jawa sangat menggandrungi kesenian seperti wayang yang pada saat itu masih menjadi pertunjukan kraton. Selain wayang masyarakat juga menyukai bunyi-bunyian seperti bunyi alat musik gamelan ataupun, bunyi-bunyian, tembang/nyanyian. Melihat hal itu akhirnya Wali Sanga memanfaatkannya sebagai media dakwah sehingga banyak kesenian yang diciptakan oleh wali sanga yang merupakan campuran antara budaya Jawa yang berbau Hindu dengan Islam. Banyak kesenian yang dihasilkan oleh Wali Sanga seperti wayang kulit oleh Sunan Kalijaga, macapatan oleh Sunan Bonang, Tembang Lir Ilir oleh Sunan Bonang. Dalam hal ini sunan Kalijaga lebih banyak menciptakan kesenian Jawa Islami karena sunan Kalijaga merupakan satu-satunya wali dari anggota Wali Sanga yang asli penduduk Jawa sehingga benar-benar mengetauhi budaya mesyarakat jawa. Saat menciptakan kesenian Jawa Islami, Sunan Kalijaga mengakulturasi kebudayaan Hindu dengan Islam. Hal itu bisa dilihat dari wayang kulit yang ceritanya dikarang sendiri. Selain itu juga terdapat Jemblung yang merupakan akulturasi wayang dengan agama Islam sehingga tercipta cerita yang disajikan tidak ubahnya seperti wayang lainnya. Sunan Kalijaga mengemas Jemblung dan wayang kulit secara apik (Wawancara, 21 Maret 2009) Ketika Jemblung dipentaskan orang yang ingin menyaksikan tidak dikenakan biaya masuk, akan tetapi diganti dengan kalimat Syahadat sebagai bukti masuk Islam. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu Jemblung berfungsi sebagai media dakwah. Sedangkan menurut analisa Bapak Sujiman selaku Dalang sekaligus pimpinan grup Jemblung Putra Budaya, Sebenaranya kesenian Jemblung diciptakan oleh kalangan wali putihan bukan diciptakan oleh kalangan wali abangan seperti sunan Kalijaga. Hal itu bisa dilihat pada aturan dasar Jemblung yang melarang wanita untuk menjadi pemain Jemblung. Selain itu pada pementasan Jemblung juga lebih menekankan misi dakwahnya. Sejarah Jemblung menurut Bapak Sujiman berawal dari kegiatan Macapatan dan bermain kartu yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika melekan menjaga orang yang meninggal, kegiatan macapatan itu terus berkembang dan diiringi oleh gamelan mulut. Daripada acara melekan diisi dengan macapatan maka para wali menambahakan tutur dakwah dan menambahkan alat musik kentrung hingga dinamakan kesenian kentrung. Kentrung ini merupakan cikal bakal dari kesenian Jemblung. Seiring bertambahnya waktu instrument musik Kentrung ditambah dengan Jidor yang menghasilkan bunyi blung blung sehingga dinamakan kesenian Jemblung. (Wawancara, 2 Mei 2009)

4.3.1 Perkembangan Jemblung dari Zaman ke Zaman

Sejak muncul pada abad ke 15 (Wawancara, 21 maret 2009) Jemblung terus mengalami perkembangan sampai sekarang. Hal itu bisa dilihat dari pergeseran fungsi ataupun perkembangan lakon yang dialami oleh kesenian ini. Melihat perkembangan yang dialami oleh Jemblung dapat diklarifikasikan menjadi 3 zaman mulai lahirnya Jemblung sampai perkembangan saat itu hingga saat ini, yaitu:

1. Zaman Awal Islam

Pada zaman ini Jemblung lahir bermula dari akulturasi antara wayang dengan agama Islam. Jemblung terus menyebar dari daerah asalnya banyumas kedaerah-daerah lainnya, karena Jemblung digunakan sebagai media dakwah. Lakon/ceritanya masih seputar dakwah Islam yang dilakukan oleh para wali.Kesenian ini masih menjadi sarana dakwah para wali belum berfungsi untuk hiburan masyarakat.

2. Zaman Kolonial

Seperti kesenian tradisional lainnya keberadaan Jemblung pada zaman kolonial tidak terlalu diketuhi perkembangannya tetapi tetap ada keberadaannya. Hal ini bisa dilihat dari lakon Jemblung yang bercerita tentang perjuangan para pahlawan Islam seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawiradirjo, dan Kyai Mojo. Hal itu membuktikan bahwa Jemblung tetap ada pada zaman kolonial. Menurut Sujiman Jemblung pada masa ini selain digunakan media dakwah juga digunakan untuk menghimpun massa dalam melawan penjajah.

3. Zaman kemerdekaan sampai sekarang

Setelah Indonesia memprokamirakan kemerdekaan pada tahun 1945. Jemblung terus mengalami kemajuan yang pesat bahkan pada tahun 1960an, Jemblung terkenal di Karesidenan Kediri dan sekitarnya. Fungsi Jemblung telah berubah dari medis dakwah namun talah menjadi sarana hiburan bagi masyarakat. Sampai saat ini Jemblung mulai terus mengalami perkembangan namun keberadaannya mulai tersingkirkan oleh kesenian modern

4.3.2 Alasan Dinamakan Jemblung

Terdapat dua pendapat yang dirujuk dalam alasan penamaan Jemblung.(http://www.maryadi.blogspot.com) Pendapat pertama diambil berdasarkan bunyi yang dihasilkan oleh instrument yang mengiringi cerita Jemblung. Pendapat yang kedua berdasarkan nama salah satu tokoh cerita menak yakni Jemblung Marmadi. Menurut pendapat yang pertama, instrumen terbang atu Jidor Jemblung yang berukuran besar apabila dipukul menghasilkan suara blung…..blung….blung. oleh karena itu seni bercerita yang menggunakan terbang yang berukuran besar itu disebut Jemblung. Pendapat yang kedua bermila dari cerita menak bernama Marmadi. Murmadi mempunyai badan besar dan perut buncit. Orang yang mempunyai potongan seperti itu diberi sebutan Jemblung. Sehingga nama Marmadi menjadi Jemblug Marmadi sedangkan seninya diberi nama Jemblung. Dari dua pendapat diatas, pendapat yang lebih dapat diterima adalah pengertian yang didasarkan oleh tiruan bunyi (pendapat pertama) (Wawancara 7 Mei 2009)

4.2 Upaya Upaya yang Dilakukan untuk Mengembangkan Kesenian Jemblung

Karena keberadaannya yang mulai terpinggirkan seiring datangnya kesenian modern, maka dilakukan berbagai upaya untuk mengembangkan serta melestarukan kesenian ini. Upaya tersebut muncul dari inisiatif dalang Jemblung yang ingin menarik minat masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestaruan kesenian Jemblung. Upaya itu berupa penambahan lakon yang dulunya berkisar Hikayat Amir Hamzah sekarang ditambah lakon perjuangan Islam. Dan lakon bisa juga disesuaikan dengan permintaan. Selain itu juga ada tambahan instrumen musik dengan menambahkan alat musik seperti kenong, tengeruh, dimplung dan lain-lain. Ada juga tambahan dengan memasukkan musik campur sari dan musik gambus ala timur tengah agar Jemblung lebih menarik lagi (Wawancara, 21 Maret 2009) Ada lagi upaya yang dilakukan oleh seniman Jemblung untuk mengembangkan kesenian ini yaitu dengan mengadakan visualisasi atau penggambaran dari tokoh-tokoh yang ada dalam lakon Jemblung. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesan monoton dalam pementasan jemblung, karena selama ini lakon dalam tokoh jemblung hanya digambarkan melalui suara saja tidak ditampilkan dalam bentuk boneka seperti wayang. Oleh karena itu diadakan visualisasi berupa wayang dalam pementasan Jemblung saat ini, tetapi hanya pemeran lakon saja yang divisualisasi (Wawancara 7 Mei 2009) Selain itu, upya yang dilakukan untuk mengembangkan Jemblung dengan mengikuti berbagai festival budaya seperti event Traditional Expo yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara Kediri. (Observasi, 7 Mei 2009)

Namun berbagai upaya dalam mengembangkan Jemblung di atas tidak boleh meninggalkan 5 ciri khas Jemblung yang asli. Ciri khas Jemblung yang tidak boleh ditinggalkan ialah:

1. Cerita atau Lakon

Ciri khas Jemblung yang tidak boleh ditinggalkan ialah cerita yang merunut pada Hikayat Amir Hamzah atau cerita yang menyangkut masalah penyebaran agama Islam, seperti cerita Wali Songo.

2. Sholawatan dan Lagu (gending Jemblung)

Dalam hal ini shalawatan dan lagu tidak bisa dipisahkan dari pementasan Jemblung, kerena ada dua dalang dalam Jemblung Kediren, satu dalang berfungsi sebagai petutur kisah dan satu lagi sebagai sinden atau dalang sholawatan. Dalang sholawatan hanya bertugas menyanyikan lagu sholawat seperti Sholawat Tombo Ati, Sholawat Mujiat dan lain-lain. Dalam melagukan sholawatpun juga ada perbedaan tiap daerah. Untuk daerah Kediren lagu atau cengkoknya kenceng/lurus sedangkan daerah lainnya cenderung lekuk ( Wawancara 7 Mei 2009)

3. Humor yang bernafaskan parikan

Dalam setiap pementasan Jemblung, homor atau guyonan tidak dapat dihilangkan. Disini dalang Jemblung dituntut untuk selalu menciptakan suasana segar dan baru yang dilakukan dengan geguyon (Kelakar) penuh canda. Dan geguyon tersebut harus bernafaskan parikan atau pantun. Dan parikan tersebut harus mengandung humor.

4. Interaksi dalang dengan Penonton

Selain dituntut untuk menciptakan suasana segar dan baru, dalang Jemblung juga harus pandai berinteraksi dengan penonton interaksi tersebut bisa berupa tanya jawab atau permintaan kritik dan saran. Interaksi tersebut bisa dilakukan pada saat Jemblung pentas atau setelah Jemblung pentas

5. Misi Dakwah

Ciri khas Jemblung yang benar-benar tidak boleh ditinggalkan ialah misi dakwahnya. Dalam setiap pementasannya Jemblung selalu mengandung misi dakwah untuk mengajak taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena Jemblung adalah kesenian Jawa Islami yang digunakan sebagai sarana dakwah yang bertujuan memberi penjelasan kepada masyarakat sekaligus mengajak iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain upaya yang dilakukan oleh seniman Jemblung untuk mengembangkan kesenian ini, upaya untuk mengembangkan serta melestarikan Jemblung juga dilakukan oleh pemerintah. Hal ini terbukti dengan mengirim delegasi Jemblung ke beragai festival budaya namun upaya itu dirasa kurang oleh dalang Jemblung.

Banyak juga kendala-kendala yang dirasakan oleh seniman Jemblung dalam mengembangkan kesenian Jemblung diantaranya :

  1. Belum terbentuknya wadah perkumpulan/paguyuban seniman Jemblung sehingga para seniman sulit bertukar informasi mengenai Jemblung.
  2. Kesenian ini kurang diminati oleh kaum muda sehingga regenerasi yang dilakukan oleh seniman Jemblung kurang berjalan
  3. Banyak kesenian modern yang lebih digemari oleh masyarakat sehingga membuat Jemblung terpinggirkan.

4.3 Keberadaan Kesenian Jemblung Saat Ini Ditengah Banyaknya Kesenian Modern

Jemblung saat ini bisa dikatakan hampir punah kerena sedikit sekali jumlah seniman Jemblung yang masih eksis atau bertahan. Hal itu didukung dengan banyaknya kesenian modern yang semakin digandrungi oleh masyarakat daripada kesenian tradisional sehingga Jemblung mulai tidak dikenal, terpinggirkan, dan dianggap kuno. Apalagi Jemblung kurang dinikmati olek kaum muda dan peminat Jemblung rata-rata orang tua. Untuk saat ini Jemblung hanya dipentaskan dalam rangka tertentu, seperti peringatan hari besar, atau dalam rangka memenuhi Hajatan. Jemblung pun kurang terpublikasi sehingga keberadaanya mulai tidak dikenal. Oleh karena itu dalam setiap pementasannya, dalang mengemban misi dari pemerintah untuk melestarikan keenian ini jangan sampai punah, karena Jemblung merupakan warisan budaya yang serat akan makna filosofis dan religius serta tak ternilai harganya (Wawancara 21 Maret 2009).

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Sebagai halnya karya ilmiah, kesimpulan merupakan intisari dari pembahasan yang didasarkan pada kajian pustaka serta seperangkat metode penelitian sebagai upaya untuk menemukan jawaban dari masalah penelitian. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut

5.1.1 Kesenian Jemblung

Jemblung merupakan kesenian tradisional Jawa yang menjadi kesenian tradisional rakyat. Jemblung merupakan teater tutur yang dimainkan oleh 7-10 orang, dimana ada dalang yang menyampaikan cerita atau lakon., ada pemain yang memainkan alat musik .Dalang dan pemain bisa juga merangkap memerankan tokoh yang ada dalam lakon. Dalam pertunjukan Jemblung modern juga terdapat sinden dan wayang sebagai visualisasi tokoh dan tambahan instrument musik campursari. Hal itu dilakukan untuk menambah minat penonton untuk menyaksikan Jemblung. Lakon yang diceritakan di jemblung disadur dari hikayat Amir Hamzah, selain itu juga bisa mengambil lakon perjuangan Islam.

5.1.2 Fungsi Jemblung

Selain sebagai hiburan, tayub juga mempunyai fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi dakwah : Jemblung digunakan sebagai media dakwah oleh para wali untuk mengajak masyarakat Jawa memeluk agama Islam

2. Fungsi Sosial : Jemblung dijadikan sebagai wadah sosialisasi bagi para warga yang menyaksikan pertunjukan Jemblung selain itu Jemblung juga menjadi salah satu ritual dalam upacara Ruwatan masyarakat Jawa.

3. Fungsi Komersial : Jemblung sekarang dijadikan sebagai media mencari nafkah oleh seniman Jemblung.

4. Fungsi Penyuluhan : Jemblung dijadikan sebagai media penyuluhan oleh pemerintah berkenaan dengan program pemerintah.Selain itu Jemblung juga dijadikan wadah promosi seperti pada event Traditional Expo di Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara Kediri.

5.1.3 Sejarah Jemblung

Ada dua pendapat mengenai sejarah Jemblung, yaitu Jemblung diciptakan oleh Wali kalangan Abangan. Prosesnya ketika Sunan Kalijaga mengakulturasi beberapa kesenian Jawa untuk dijadikan sebagai media dakwah hingga lahirlah Jemblung. Jemblung berasal dari akulturasi antara wayang yang masih berbau Hindu dengan ajaran agama Islam. Sedangkan pendapat Jemblung diciptakan oleh Wali Putihan prosesnya berawal dari tradisi macapatan dalam acara nguyen yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa yang berkembang menjadi Macakanda. Karena mendapat penagruh dari Wali Putihan yang mengharamkan music, Macakanda berubah menjadi Gamelan mulut. Seiring perkembangan zaman gamelan mulut ditambah alat Kentrung menjadilah kesenian Kentrung, kemudian ditambah lagi Jidor yang menghasilkan bunyi blung hingga menjadi kesenian Jemblung.

5.1.4 Upaya upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kesenian Jemblung

Beberapa upaya dilakukan seniman Jemblung agar Jemblung tetap eksis dan tidak punah. Berbagai upya yang telah dilakukan ialah :

1. Menambah lakon Jemblung dengan berbagai variasi serta mengangkat topic yang sedang hangat di masyarakat.

2. Menambah musik campursari dan musik padang pasir untuk menarik perhatian penonton

3. Melakukan visualisasi tokoh dalam lakon Jemblung berupa wayang untuk menghindari kesan monoton ketika menyaksikan Jemblung.

4. Menghadirkan Sinden wanita untuk lebih menyegarkan suasana.

5. Mengikuti berbagai festival budaya untuk mempromosikan Jemblung

5.2 Saran-saran

Tujuan pokok dari penelitian ini adalah memberikan saran-saran kepada seluruh lapisan masyarakat. Adapun saran-saran yang dapat kami berikan dalam penelitian ini adalah:

5.2.1 Dinas Pariwisata dan Kesenian Kabupaten serta Kota Kediri

Agar selalu mengadakan pembinaan terhadap grup Jemblung Putra Budaya serta yang lain dan membuat jadwal Jemblung secara pasti agar dapat ditentukan harinya sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu acara penunjang pariwisata di Kabupaten dan Kota Kediri

5.2.2 Grup Jemblung Putra Budaya dan Taruna Budaya

Agar mensosialisasikan kesenian Jemblung pada masyarakat luas agar tidak punah. Selain itu diperlukan kepanitiaan dalam mengkoordinasi kegiatan dalam padepokan, sehingga kegiatan tidak harus langsung ditangani oleh pihak Dinas Pariwisata.

5.2.3 Pemerintah Kabupaten dan Kota Kediri

Agar menambah upaya-upaya yang perlu dilakukan agar kesenian Jemblung tetap eksis dan mampu bersaing dengan kesenian modern. Serta meningkatkan perhatian pada kesenian Jemblung agar Jemblung tetap menjadi kesenian khas serta kesenian tradisional rakyat di daerah Kediri dan sekitarnya.

5.2.4 Masyarakat

Agar sering mengadakan kesenian Jemblung sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang untuk menjaga kelestarian kesenian Jemblung agar tidak punah. Diperlukan sikap lapang dan terbuka untuk menerima kesenian Jemblung di tengah-tengah masyarakat.

0 komentar: