BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Balakang
Selama ini yang kita ketahui tentang kesenian tradisional rakyat Jawa, terutama di daerah Jawa Timur mungkin hanyalah wayang, jaranan atau reog, tetapi ternyata ada kesenian tradisional yang menggabungkan antara musik tradisional Jawa dengan selingan dakwah Islam. Kesenian ini namanya Jemblung.
Memang agak asing di telinga kita jika mendengar kata jemblung. Maklum, kesenian ini mulai tidak dikenal oleh masyarakat. Keberadaan mulai terpinggirakan seiring semakin banyaknya kesenian modern yang digandrungi oleh masyarakat, sehingga Kesenian Jemblung dianggap kuno dan ketinggalan zaman.
Semua itu akibat pergeseran fungsi yang dialami oleh kesenian ini, dulu kesenian ini digunakan sebagai media dakwah tapi sekarang fungsinya telah bergeser sebagai kesenian pentas. Inilah kosekuensi dari jaman globalisasi di mana kebudayaan dari luar bebas masuk sehingga kebudayaan masyarakat asli mulai tak tampak. Karena kita tahu sekarang masyarakat lebih menyukai kesenian modern yang notabene berasal dari luar negeri dari pada kesenian tradisional yang asli dari negeri sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusam masalah merupakan upaya yang menyatakan secara tersirat pertanyaan-pertanyaan, mengingat demikian pentingnya dalam penelitian, maka sesuai dengan judulnya dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1. Permasalahan yang berkenaan dengan kesenian jembung yang meliputi sub permasalahan sebagai berikut :
1.1 Apa itu kesenian Jemblung?
1.2 Bagaimana sejarah kesenian jemblung?
2. Permasalahan yang berkenaan dengan perkembangan serta keberadaan Kesenian Jemblung
2.1 Apa upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kesenian Jemblung?
2.2 Apa kendala yang dihadapi untuk mengembangkan kesenian Jemblung?
2.3 Bagaimana keadaan kesenian jemblung saat ini di tengah banyaknya kesenian modern?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai rumusan masalah tersebut, maka tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memecahkan dua pokok masalah, yaitu mengenai budaya dan perkembangan serta keberadaan kesenian Jemblung. Tujuan penelitian ini dapat dirinci kedalam beberapa tujuan permasalahan sebagai berikut :
1.2.1.1 Untuk menganalisis seni pertunjukan Jemblung. Tujuan pokok ini dapat dirinci menjadi tujuan yang lebih khusus
1.1 Untuk mengetauhi kesenian Jemblung.
1.2 Untuk mengetauhi bagaimana sejarah kesenian Jemblung.
1.2.1.2 Untuk menganalisis perkembangan serta keberadaan Kesenian Jemblung. Tujuan pokok ini dapat dirinci kedalam beberapa tujuan yang lebih khusus sebagai berikut
2.1 Untuk menganalisis upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan Kesenian Jemblung.
2.3 Untuk menganalisis keberadaan kesenian Jemblung sekarang ini di tengah banyaknya kesenian modern.
1.3 Manfaat Penelitian
Penelitaian yang berjudul “ Kesenian Jemblung Sebagai Salah Satu Kesenian Tradisional Rakyat Yang Mulai Terlupakan” ini diharapkan memiliki konstribusi penting bagi berbagai pihak antara lain sebagai berikut:
1.Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai modal telaah dalam rangka mengupas tentang seni tradisional Jemblung. Demikian juga diharapkan dapat menjadi informasi yang bermanfaat untuk memahami salah satu bagian bentuk kesenian yang merupakan warisan budaya.
2.Pemerintah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi sekaligus pertimbangan perlunya usaha pelertarian kesenian Jemblung sebagai salah satu seni kesenian tradisional rakyat.
3.Seniman Jemblung
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi untuk mengembangkan kesenian Jemblung agar tetap eksis dan tidak punah serta dapat dihargai dan diterima oleh masyarakat luas.
4.Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi untuk disampaikan kepada masyarakat agar lebih mengenal kesenin Jemblung serta dapat memahami pentingnya manfaat Jemblung dan sekaligus penghargaan terhadap hasil budaya nenek moyang.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini difokuskan kepada Kesenian Jemblung. Analisis mengenai perkembangan Kesenian Jemblung. Disamping itu juga mengenai Sejarah Kesenian Jemblung dengan upaya-upaya dan kendalanya dalam mengembangkan.mengenai ruang lingkup waktu penelitian ini membutuhkan 5 bulan untuk diselesaikan mulai dari tahap pengumpulan data sampai dengan kesimpulan. Mengenai ruang lingkup daerahnya penelitian ini berkisar di wilayah Kota Kediri.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Perubahan Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata budaya, kata budaya sendiri berasal dari kata Sansekerta yaitu buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Kata budaya dirunut dari arti kata majemuk budi daya atau kekuatan dari akal, akal atau budi itu mempunyai unsur-unsur cipta atau pikiran, rasa dan karsa atau kehendak. Hasil dari ketiga unsur itulah yang disebut kebudayaan (Yad Mulyadi, 1991: 20)
Orang yang pertama kali merumuskan definisi kebudayaan adalah E. B. Taylor (1832-1917), guru besar antropologi di Universitas Oxford pada tahun1883. Pada tahun 1871, E. B Taylor mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut : “Kebudayaan adalah mencakup ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat” (M. Effendhie, 1992:2)
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga terjadi keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan (Posman, 2003 :172). Definisi-definisi perubahan kebudayaan banyak diutarakan para sarjana sosiologi dan antropologi antara lain:
- Samuel Koening yang mengatakan perubahan kebudayaan menunjuk pada modifikasi yang terjadi dalam pola – pola kehidupan manusia.
- Selo Soemarjan mengatakan perubahan kebudayaan adalah perubahan keseluruhan pada lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem social.
Perubahan-perubahan menjalar dengan cepat dan merupakan gejala yang normal dikenal dengan istilah Globalisasi. Faktor perubahan kebudayaan tersebut ada yang internal yaitu berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang eksternal yaitu berasal dari luar masyarakat.
Faktor internalnya adalah:
- Adanya ketidak puasan terhadap sistem nilai yang berlaku
- Adanya individu yang menyimpang dari sistem nilai yang berlaku
- Adanya penemuan baru yang diterima oleh masyarakat
Faktor eksternalnya adalah :
- Adanya bencana alam
- Timbul peperangan
- Kontak dengan masyarakat lain (Posman, 2003:173)
2.1.1 Mekanisme Perubahan Kebudayaan
Mekanisme perubahan kebudayaan menurut Posman (2003: 176-182) terdiri atas beberapa sebab, yaitu:
2.1.1.1 Inovasi
Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari pembangunan sumber-sumber alam dan pengunaan teknologi yang menyebabkan adanya sistem produksi dan produk baru. Dalam setiap masyarakat terdapat individu yang sadar akan adanya berbagai kekurangan dalam kebudayaan mereka.
Oleh sebab itu, mereka berbuat sesuatu untuk memperbaiki kekurangan, muncullah para pencipta denagn penemuan-penemuan baru yang bersifat discovery maupun invention. Karena itulah proses inovasi sangat erat kaitannya dengan penemuan baru dalam teknologi.
2.1.1.2 Discovery
Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru baik berupa suatu alat baru ataupun ide baru.
- Kesadaran dari orang perorangan,
- Kualitas ahli-ahli dalam suatu kebudayaan, dan
- Perangsang bagi aktifitas-aktifitas penciptaan dalam masyarakat.
2.1.1.3 Invention
Penemuan baru (invention) menimbulkan pengaruh yang bermacam-macam di dalam masyarakat. Adapun jenis pengaruh tersebut adalah sebagai berikut:
- Suatu penemuan baru dapat menyebabkan perubahan dalam bidang antara lain seperti politik, sosial, dan pendidikan.
- Suatu penemuan baru menyebabkan perubahan-perubahan menjalar dari suatu lembaga kemasyarakatan ke lembagaan lain.
2.1.1.4 Difusi
Difusi dalah suatu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dan satu kelompok ke kelompok lain atau dari suatu masyarakat ke masyarakat lain. Dengan adanya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sehingga menjadi pendorong bagi pertumbuhan suatu kebudayaan.
1. Difusi intramasyarakat
Difusi intramasyarakat adalah proses difusi yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri, dipengaruhi oleh beberapa faktor:
- Suatu pengakuan bahwa unsur yang baru tersebut mempunyai kegunaan,
- Pemerintah dapat membatasi proses difusi tersebut,
-
- Unsur baru yang berlawanan dengan fungsi unsur lama kemungkinan besar tidak akan diterima, dan lain-lain.
2. Difusi antarmasyarakat
Difusi antarmasyarakat adalah proses difusi yang terjadi antarmasyarakat satu dengan yang lainnya dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
- Adanya kontak antarmasyarakat tersebut,
- Paksaan dapat juga digunakan untuk menerima suatu penemuan baru,
- Pengakuan akan kegunaan penemuan baru,
- Kemampuan untuk mendemonstrasikan manfaat penemuan baru, dan lain-lain.
2.1.1.5 Globalisasi
Globalisasi adalah proses terbentuk sebuah sistem organisasi dan sistem komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah yang sama. Beberapa faktor penyebab berkurangnya arti penting batas-batas negara antara lain, yaitu:
- Meningkatnya perdagangan internasional,
- Kemajuan sistem komunikasi dan alat perhubungan,
- Pariwisata, dan lain-lain.
2.1.1.6 Budaya Nasional
Budaya nasional adalah perwujudan rasa, karsa, dan karya bangsa. Wujud budaya nasional adalah bahasa, seni pakaian, dan perilaku.
2.1.1.7 Pembangunan
Pembangunan adalah usaha terencana dan terarah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia yang menuntut adanya perubahan sosial budaya sebagai pendukung keberhasilan. Perencanaan pembangunan sosial didasarkan pada suatu pengertian yang mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern.
2.1.1.8 Modernisasi
Modernisasi adalah proses perubahan masyarakat dan perubahan modern dalam seluruh aspek. Maksud dari modernisasi adalah mengadakan perubahan yang terarah bagi kemajuan serta perbaikan nasib manusia dimana dalam perubahan ini sering terjadi disorganisasi yaitu memudarnya atau melemahnya norma-norma dan nilai lama dalam sebuah masyarakat.
2.1.2 Budaya cenderung bertahan atau berubah sesuai situasi masyarakat
Setiap budaya cenderung untuk bertahan (tidak berubah) karena budaya digunakan sebagi pedoman hidup dan perubahan menggoyahkan keseimbangan sistem, akan tetapi pada kenyataan tidak ada kebudayaan yang tidak berubah. Dalam mempelajari budaya, selalu harus diperhatikan hubungan antara unsur-unsur yang mempengaruhi budaya tersebut
2.1.2.1 Budaya cenderung bertahan
Cenderung bertahannya budaya disebabkan beberapa unsur, yaitu:
1. Unsur Ideologi
Unsur Ideologi merupakan kumpulan gagasan, dasar serta tatanan yang baik dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Menyebabkan suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dan digunakan sebagai pedoman hidup.
2. Unsur kepercayaan
Semua aktifitas manusia yang berhubungan dengan kepercayaan atau religi didasarkan pada getaran jiwa, misalnya : upacaya hamil tujuh bulan dan upacara kelahiran.
3. Unsur seni
Seni melahirkan cinta kasih dan seni itu dapat melalui media musik, tari, lukis dan lain-lain sebagai hasil cipta manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang (Posman, 2003:151).
2.1.2.2 Budaya cenderung berubah
Budaya cenderung berubah karena adanya perubahan dalam unsur berikut:
1. Unsur Mata Pencaharian
Mata pencarian bersifat tradisional cenderung berubah menjadi satu sistem yang lebih maju. Perubahan tersebut disebabkan oleh:
- Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada,
- Sadar akan adanya kekurangan dalam budaya sendiri, dan
- Usaha-usaha menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
2. Unsur Sistem Teknologi
Kemajuan teknologi pada abad ke-20 telah mengubah pola hidup manusia secara keseluruhan. Perkembangan ini terlihat dari periode zaman yaitu zaman batu, zaman perunggu, dan besi kemudian berkembang sampai zaman modern.
3. Unsur Pengetahuan
Ilmu pengetahuan (science) bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segi kehidupan. Budaya cenderung berubah karena manusia berusaha mempelajari ilmu pengetahuan antara lain seperti ilmu Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari alam baik yang dihayati (Life Sciences) maupun yang tidak hayati (fisika) dan ilmu pengetahuan kerohanian mempelajari perwujudan spiritual kehidupan bersama manusia.
Yang didasarkan pada objeknya dari sudut sifatnya dapat dibedakan antara ilmu pengetahuan yang eksak dengan ilmu pengetahuan yang non eksak. (Posman, 2003:152)
2.2 Seni Pertunjukan
2.2.1 Pengertian Seni
Dalam bahasa Indonesia, salah satu arti seni adalah halus, sedangkan arti lainnya adalah kecil atau indah, dari kata seni inilah terbentuk kata kesenian yang dalam bahasa Belanda disebut schone kunsten atau fine art dalam bahasa Inggris. Semua kata tersebut memiliki pengertian yang sama dengan kata kesenian yaitu ketrampilan daerah.
Menurut John Dewey pengertian kesenian adalah mutu suatu serta hasilnya sekaligus. Maksudnya tidak sekedar produk dari setiap tingkah laku melainkan karya yang berbeda berdasarkan citra rasa keindahannya. (Tim MGMP, 2005:1)
2.2.2 Perkembangan Seni Pertunjukan
Sejarah
Pada tahap berikutnya yaitu zaman neolitikum masyarakat mulai hidup menetap dan mengenal pertanian. Bentu seni yang berkembang pada masa itu merujuk pada cerita rakyat upacara kesuburan dan penghormatan nenek moyang.
Berbagai pengaruh asing mulai masuk, mulai dari pengaruh Hindu dari
2.2.3 Ragam Seni Pertunjukan
2.2.3.1 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana ritual
Fungsi-fungsi ritual seni pertunjukan di
2.2.3.2 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana hiburan
2.2.3.3 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai presentasi estetis
Seni pertunjukan estetis biasanya didanai oleh para penonton dengan membeli karcis. Oleh karena itu, jenis pertunjukannya dinamakan pertunjukan komersial (commersial show) seperti wayang orang sriwedari dan ludruk.
2.2.3.4 Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana pariwisata
Di negara berkembang, seni pertunjukan yang disajikan kepada para wisatawan terutama mancanegara dapat tumbuh lebih subur. Seorang antropolog dan pemerhati seni J. Maquet mengemukakan seni pertunjukan untuk pariwisata telah mengalami metamorfosis berbeda dengan seni yang diciptakan untuk masyarakat lokal sendiri. Hal itu disebabkan karena para wisatawan asing memiliki budaya yang berbeda dan pasti selera estetisnya juga berbeda (Juju dan Kun, 2005:22).
2.2.4 Ragam Seni Pertunjukan Menurut Subjeknya
2.2.4.1 Seni Pertunjukan Keraton
Seni pertunjukan ini kebanyakan seperti pertunjukan wayang yaitu wayang boneka, wayang orang, dari data sejarah sekitar tahun 1900 di Indonesia sudah dikenal adanya wayang kulit yang diselenggarakan di istana kerajaan Kediri. Pada masa itu fungsi wayang hanya berupa media upacara untuk memanggil roh nenek moyang
2.2.4.2 Seni Pertunjukan Rakyat
Seni pertunjukan rakyat sangat banyak jumlahnya, hamper disetiap suku bangsa memiliki satu atau lebih kesenian rakyat. Di jawa timur sendiri banyak pertunjukan rakyat. Seperti wayang beber di Pautan serta kesenian rakyat Jemblung yang menyerupai wayang. Hanya dialog gamelang, dan sebagainya dilakukan dengan suara mulut. (Machoed Effendi, 1999:115)
2.2.5 Seni Pertunjukan Modern
Seni pertunjukan modern bermula dari teater yang dipentaskan. Perintis teater modern di Indonesia adalah satu rombongan teater yang disebut teater bangsawan. Tahun 1870-an di, Penang
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan jenis penelitian
Jenis pendekatan yang dilakukan ini adalah pendekatan kualitatif pada jenis peneliti deskriptif-analitif. Keutamaan penelitian kualitatif menurut
3.2 Kehadiran peneliti
Untuk mendapatkan fakta-fakta yang diperlukan, peneliti harus terjung langsung kelapangan. Kehadiran peneliti dilapangan bersifat nonpartisipatif yaitu peneliti tidak ikut terlibat secara langsung dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek penelitian, peneliti heanya berperan sebagai pewawawancara atau observer. Oleh karena itu, peneliti harus menentukan dan memilih
a. Penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk mendapatkan data dan iformasi secara umum
b. Peneliti di lapangan yang bertujuan untuk memperoleh data secara khusus
c. Kunjungan sewaktu-waktuyang bertujuan untuk melengkapi data-data yang telah terkumpul
3.3 Tehnik pengumpulan data
Data- data dalam penelitian diperoleh dari:
a. Studi pustaka
Studi pustaka merupakan suatu kegiatan dan pemilihan secara teratur dengan cara menggunakan bahan-bahan dokumentasi seperti buku, majalaah,
b. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab secara langsung antara sipenanya yang disebut pewawancara dengan si penjawab yang disebut respsnden atau infomen (M. Sitorus, 2003;36)
Pada dasarnya wawancara dalam peneliyian merupakan suatu kegiatan untuk mempeoleh informasi atau data dengan cara bertanya langsung kepada responden. Wawancara dilakukan denagan komunikasi secara langsung dengan secara langsung tatap muka, nmun berbeda dengan seperti biasa dilakukan setiap hari (Tim Sosiologi, 2000:121)
c. Observasi
Observasi adalah cara mengumpulkan data melalui pengamatan indrawidengan melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala yang terjada pada objekpenelitian secara langsung di tempat penelitian.(M. Sitorus, 2003;36)
3.4 Tahap-tahap penelitian
Dalam setiap penelitian diperlukan 2 macam tahap agar hasil yang ingin dicapai bias maksimal yaitu tahap pra langan dan tahap lapangan
1. Tahap Pra Lapangan
a. Menentukan topic dan judul yang akan diteliti
b. Merumuskan masalah yang hendak di angkat
c. Menentukan metode dan pendekatan yang sesuai dengan jenis peristiwa
d. Mencari referensi yang berhubungan dengan objek penelitian
e. Membuan pertanyaan untuk wawancara
f. Memilih narasumber yang sesuai
2. Tahap-tahap lapangan
Tahap-tahap ini merupakan cara utama untuk mendapatkan data meliputi:
a. Observasi
Untuk mengetauhi keadaan objek yang diteliti secara langsung, observasi ini dilakukan dengan cara mendatangai sejumlah pertunjuakan seni Jemblung diberbagai lokasi
b. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk memperoleh data selengkap mungkin mengenei seluk beluk Jemblung dan aktifitas yang dilakukan pemerintah dalam rangka pelestarian kesenian Jemblung
3.5 Prosedur dan tehnik Penelitian
Sebuah penelitian merupakan usaha untuk menjawab permasalahan dalam penelitian, maka diharuskan melalui serangkain kegiatan yang dilaksanakan dengan mengundahkan berbagai tahap secara rinci. Separti hal nya dalam penelitian sebuah budaya, proses ini menggunakan tahap-tahap sebagai berikut :
1) Tahap pengumpulan data
2) Tahap revisi data
3) Tahap reduksi data
4) Tahap analisa data
5) Tahap penyajian data
6) Tahap pengambilan kesimpulan, dan
7) Tahap penulisan hasil penelitian
mengenai metode dan tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan sumber data yang digunakan.
1. Tahap Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam rangka pengumpulan data yang tidak selalu sama antara sumber data yang lain, hal ini disesuaikan dengan jenis sumbsr data yang digunakan serta dimungkinkan agar lebih mudah bagi peneliti untuk mengumpulkan sumbsr data yang akan digunakan dalam penelitian.
a. Sumber data primer
Data primer adalah data yang didapat dari sumber data dari penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dan observasi.
b. Sumber data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain yang bukan sumber utama, biasanya data sekunder diperoleh melalui sumber tulisan. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan.
2. Tahap Revisi Data
Setelah semua data lengkap, maka dilanjutkan revisi atau perbaikan dengan jalan
a. Pengamatan yang mendalam
b. Memilih keabsahan yang ideal
c. Pengulangan
3. Tahap Reduksi Data
Setelah direvisi maka dilanjutkan dengan mereduksi data, dengan cara data yang terkumpul dan terekam dalam catan-catan lapangan kemudian dirangkum dan diseleksi. Merangkum dan menyeleksi data didasarka pada focus katagori atau pokok masalah tertentu yang telah ditetapkan dan dirumuskan sebelumnya:
Klasifikasi tersebut didasarkan pada permasalahan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
a. Kelompok data yang berkenaan dengan budaya seni Jemblung
b. Kelompok data yang berkenaan dengan perkembangan serta keberadaan seni Jemblung
4. Tahap Analisa Data
Setelah data dikumpulkan dan dideskrisikan langkah selanjutnya adalah melakukan anlisis data. dalam hal ini, konsep dari teori yang telah diuraikan di atas dapat dijadikan sebagai perangkat bantu analisis dalam memecahkan keempat permasalahan pada rumusan masalah yaitu:
4.1 Permasalahan tentang apa yang dimaksud kesenian Jemblung.
Tekhnik pengumpulan data pada permasalahan ini menggunakan sumber data primer berupa wawancara kepada dalang Jemblung serta observasi ke pertunjukan Jemblung.Untuk sumber data sekunder berupa studi pustaka serta mencari referensi dari internet . Wawancara dilakukan kepada Bapak Sujiman selaku pimpinan grup Jemblung Putra Budaya serta Bapak Maksum sebagai dalang Jemblung.Sedangkan studi pustaka dilakukan dengan mencari literatur yang berhubungan dengan masalah penelitian.
4.2 Permasalahan tentang sejarah kesenian Jemblung
Dalam hal ini,pemecahan masalah menggunakan sumber data primer berupa wawancara dan sumber data sekunder berupa mencari referensi dari internet.Wawancara dilakukan kepada Bapak Sujiman selaku pimpinan grup Jemblung Putra Budaya serta Bapak Maksum sebagai dalang Jemblung.
4.3 Permasalahan tentang upaya-upaya dalam mengembangkan kesenian Jemblung.
Tekhnik pengumpulan data pada permasalahan ini menggunakan sumber data primer berupa wawancara.Wawancara dilakukan kepada Bapak Maksum sebagai salah satu dalang Jemblung dan Bapak Sujiman selaku pimpinan grup Kesenian Jemblung Putra Budaya.
4.4 Permasalahan tentang keberadaan kesenan Jemblung di tengah kesenian modern.
Dalam hal ini tekhnik pengumpulan data menggunakan sumber data primer berupa wawancara terhadap Bapak Maksum sebagai salah satu dalang Jemblung dan kepada Bapak Sujiman selaku pimpinan Grup Jemblung Putra Budaya.
5. Tahap Penyajian Data
Tahap Penyajian Data adalah proses menyajikan data-data yang telah didapatkan, direvisi, direduksi, dan dianalisis kedalam bentuk laporan yang sistematis.
6. Tahap Pengambilan Kesimpulan
Pangambialan kesimpulan adalah menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
7. Tahap Penulisan Hasil Penelitian
Adapaun tahap yang paling terakhir dalam suatu penelitian. Seluruh data yang telah disimpulkan akan ditulis ke dalam suatu karya tulis yang sesuai dengan sistematika penulisan karya Ilmiah.
SKEMA PROSEDUR DAN TEKNIK PENELITIAN
Pengumpulan data Analisis data Pengambilan Kesimpulan Penulisan Hasil Penelitian

![]()
![]()

![]()
![]()
BAB IV
PEMBAHASAN
Kota Kediri terletak di wilayah selatan bagian barat Jawa Timur. Wilayah Kabupaten kediri diapit oleh dua gunung yang berbeda sifatnya, yaitu Gunung Kelud di sebelah Timur yang bersifat Vulkanik dan Gunung Wilis disebelah barat yang bersifat non vulkanik, sedangkan tepat di bagian tengah wilyah Kabupaten Kediri melintas sungai Brantas yang membelah Wilayah Kabupaten Kediri menjadi dua bagian, yaitu bagian Barat sungai Brantas: merupakan perbukitan lereng Gunung Wilis dan Gunung Klotok. dan bagian timur Sungai Brantas.
Struktur wilayah Kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Mayoritas Kota Kediri (80,17%) berada pada ketinggian 63-100 meter dari permukaan laut yang terletak sepanjang sisi kiri-kanan Kali Brantas.
Sehingga pada umumnya air tanah di Kota Kediri dalam keadaan jernih (kedalaman air tanah 3-12 m) dan dapat dimanfaatkan untuk air minum (sumur gali, sumur pompa) terutama bagi penduduk yang tidak mendapat fasilitas air minum PDAM.
Kota Kediri mempunyai curah hujan rata-rata antara 1000-2000 mm pertahun. Curah hujan tidak merata sepanjang tahun, bulan kering Mei-Oktober dan bulan basah November-April.
Wilayah dataran rendah terletak di bagian timur sungai, meliputi Kec. Kota dan kec. Pesantren, sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto yang mana di bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m).
Mayoritas Kota Kediri (80,17%) berada pada ketinggian 63-100 meter dari
permukaan laut yang terletak sepanjang sisi kiri-kanan Kali Brantas.
Secara geografis Kota Kediri terletak diantara 7o45 Lintang Selatan dan - 7o55 Lintang Selatan dan 111o05 Bujur Timur - 112o03 Bujur Timur
Keadaan geologi Kota Kediri dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Alluvium : hampir 77,49% (4.921 Ha) wilayah Kota Kediri terbentuk dari Kedirian induk alluvium.
b. Young Quertenery Volcanic Product : terdapat di bagian timur Kota Kediri dengan luas 1.127 Ha (17.78%), wilayah ini merupakan tanah pertanian yang
subur karena berasal dari K edirian vulcanic muda (Gunung Kelud).
c. Undefferentiated Vulcanic Product : kelompok K edirian ini terdapat disebelah barat Kota Kediri yang terletak pada daerah berbukit seluas 300
Secara administratif, Kota Kediri berada di tengah wilayah Kabupaten Kediri dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah utara : Kec. Gampengrejo dan Kec. Grogol
Sebelah Selatan : Kec. Kandat dan Kec. Ngadiluwih
Sebelah Timur : Kec. Wates dan Kec. Gurah
Sebelah Barat : Kec. Grogol dan Kec. Semen
Wilayah Kota Kediri, secara administratif terbagi menjadi 3 wilayah kecamatan, yaitu:
Kecamatan Kota, dengan luas wilayah 14,900 Km2 terdiri dari 17 Kelurahan
Kecamatan Pesantren, dengan luas wilayah 23,903 Km2 tediri dari 15 Kelurahan
KelurahanKecamatan Mojoroto, dengan luas wilayah 24,601 Km2 tediri dari 14 kelurahan. (http://bisniskediri.blogspot.com)
4.1.2 Hikayat Amir Hamzah
Hikayat Amir Hamzah adalah suatu karya sastra yang menceritakan peristiwa dan kejadian yang berlaku pada abad ke-7 di Timur Tengah. Tokoh yang memegang peranan penting adalah Amir Hamzah bin Abdul Mutalib (paman Nabi Muhammad saw.). Dalam sastra Jawa, cerita Amir Hamzah dikenal dengan nama Serat Menak yang kemungkinan besar disadur dari HAH Melayu. Teks Amir Hamzah dalam Serat Menak jauh lebih luas daripada dalam HAH sebab orang Jawa suka menambah dan memperluas semua cerita yang dibacanya (Poerbatjaraka, 1954:109; Yock Fang, 1982:151). Teks Amir Hamzah Melayu disadur ke dalam kesusastraan Jawa diperkirakan pada zaman Mataram, yakni abad ke-16-17 dan banyak dikenal orang di daerah-daerah Pesisir Utara, Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Versi Jawa ini dipengaruhi oleh cerita Panji yang pada saat itu berkembang di Jawa (Poerbatjaraka, 1940:3). Serat Menak sebagaimana HAH merupakan cerita yang panjang dan luas. Beberapa redaksi Serat Menak ditulis di istana-istana Jawa Tengah; dan yang pertama-tama di istana Kartasura pada tahun 1639 atas kehendak Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sri Paduka Paku Buwana I (Pangeran Puger). Adapun yang mendapat perintah bernama carik Narawita. Serat Menak Kartasura ini terdiri atas 145 pupuh (Poerbatjaraka, 1940: 2, 9- 30). Pada awal abad ke-18, Pujangga Keraton Surakarta Yasadipura menulis kembali cerita-cerita menak ini. Teks Serat Menak yang disusun oleh Yasadipura I ini dikenal dengan versi Yasadipura atau versi Surakarta, yang merupakan terjemahan langsung dari versi Kartasura (Poerbatjaraka, 1954: 148). Hingga awal abad ke-20, Serat Menak paling sedikit sudah empat kali diterbitkan, yaitu oleh C.F Winter pada tahun 1854 di Batavia; yang kedua ditulis oleh R. Ngabehi Jayasubrata dan diterbitkan oleh Penerbit Van Dorp, Semarang dalam 11 jilid, tanpa tahun terbit; kemudian tahun 1933 diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam 46 jilid, dan kemudian diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982 dalam bahasa Indonesia. Beberapa judul di antaranya adalah (1) Menak Sarehas, (2) Menak Lare (4 jilid), (3) Menak Serandil, (4) Menak Sulub (2 jilid), (5) Menak Ngajrak, (6) Menak Demis, (7) Menak Kaos, (8) Menak Kuristam, (9) Menak Biraji, (10) Menak Kanin, (11) Menak Gandrung, (12) Menak Kanjun, (13) Menak Kandabumi, (14) Menak Kuwari, (15) Menak Cina (5 jilid), (16) Menak Malebari (5 jilid), (17) Menak Purwakanda (3 jilid), (18) Menak Kustup (2 jilid), (19) Menak Kalakodrat (2 jilid), (20) Menak Sorangan (2 jilid), (21) Menak Jamintoran (2 jilid), (22) Menak Jaminambar (3 jilid), (23) Menak Talsamat, dan (24) Menak Lakat (3 jilid). Serat Menak didukung oleh banyak naskah, tersimpan di berbagai tempat, di dalam dan di luar negeri (Pigeaud, 1967; Poerbatjaraka, 1 40; Vreede, 1892). Dalam sastra Jawa kata menak berarti wong sing kepenak, ‘orang yang selalu enak hidupnya, luhur, misalnya Amir Hamzah‘ (Effendi, 1977:22-23). Versi Jawa ini menjadi sumber saduran versi Bali (Yock Fang, 1982: 151). Di kalangan masyarakat Jawa cerita menak dituangkan pula dalam bentuk wayang golek menak dan selanjutnya digubah dalam bentuk fragmen tarian lepas, yang disebut tari golek menak. Tarian ini diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono IX, dan dicoba disempurnakan oleh Tim Penyempurnaan Tari Golek Menak di bawah pimpinan Prof.Dr.R.M. Soedarsono pada tahun 1988 (Pigeaud, 1967: 212-217; Hooykaas, 1947: 155; Soedarsono, 1989: 37-69). Wayang adalah alat dakwah Islam yang sangat hebat. Alat ini telah diwariskan oleh para wali (Wali Songo). Perkembangan sejarah pewayangan tidak dapat terlepas dari perkembangan kebudayaan, keagamaan, dan politik di Indonesia, khususnya di Jawa. Islam mulai berkembang di Jawa diawali dengan berdirinya kerajaan Demak dan runtuhnya kerajaan Majapahit. Pada saat itulah, wayang mulai berkembang dan disempurnakan oleh para wali. Jadi, wayang sangat besar peranannya dalam penyebaran agama Islam.
4.2 Kesenian Jemblung
Seni pertunjukan rakyat sangat banyak jumlahnya dan hampir ditemukan disetiap daerah. Dari sekian banyak seni pertunjukan rakyat terdapat kesenian Jemblung yang asli dari daerah Banyumas Jawa Tengah. Jemblung merupakan salah satu jenis teater tutur yang unik dan spesifik khas Banyumasan yaitu merupakan terater tutur yang tidak menggunakan peralatan musik tradisional dan para pemainnya mengandalkan suaranya sebagai musik pengiring. Dengan suaranya sendiri para pemainnya menirukan bunyi Gamelan bahkan merangkap memainkan peran tokoh yang dibawakan. Jemblung biasanya dimainkan oleh 4 atau 5 orang. Kalau 4 terdiri dari 3 laki-laki dan 1 perempuan, salah seorang dari 4 pemain itu menjadi dalang dan sekaligus menjadi pemain.
Bentuk pementasan Jemblung sangat sederhana dan cukup dilakukan di dalam rumah, karena pemainnya hanya 4 atau 5 orang.
Untuk lakon cerita yang disajikan tidak ubahnya seperti cerita Wayang lainnya. Sebab, Jemblung merupakan akulturasi antara Wayang dengan agama Islam. Jadi masih terdapat pengaruh Hindu dengan Agama Islam. Sehingga lakon dalam Jemblung seperti cerita Wayang pada umumnya, dalam Jemblung Banyumasan sering juga mengambil cerita menak atau golek menak yang sering disebut Babat Menak atau Serat Menak .Ceritanya banyak menyangkut masalah penyebaran agama Islam antara lain cerita yang sangat populer ialah cerita :Wong Agung Minak serta Serat minak.Cerita serat Minak sering dimainkan oleh wayang golek. Cerita Menak juga dimainkan oleh wayang Tingul .Dengan cerita dan tokoh yang terkenal Amir Hamzah dan Umar Maya . Dalam Jemblung pun tokoh yang terkenal disebut disebut Umar Maya dan Umar Madi .Tidak menutup kemungkinan cerita yang dihidangkan dapat berupa cerita rakyat daerah Banyumas atau cerita Panji yang terkenal. Kesenian Jemblung sebagai sebuah produk budaya, juga mengalami difusi atau penyebaran ke daerah lain dan terus mengalami perkembangan sampai sekarang. Penyebaran Jemblung ke daerah lain sampai daerah
Suatu ketika Saudagar Dul Jalal jatuh cinta kepada seorang wanodyayu (wanita cantik) yang bernama Nyai Muridal Sari. Nyai Muridal ini memiliki pusaka Peksi Cucak Ijo (Burung Cucak Hijau) yang kalau dimakan akan membuat seseorang menjadi Satria. Terus saudagar Dul Jalal melamar Nyai Muridal dan Nyai Muridal menerimanya. Sejak saat itu Nyai Muridal berganti nama menjadi Nyai Dul Jalal. Tahun demi tahun dilewati dan mereka dikaruniai dua putra yang bernama Ahmad dan Muhammad. Mereka dipondokkan oleh orang tuanya ke negeri seberang. Suatu ketika Ahmad dan Muhammad pulang dari menuntut ilmu, mereka mendapati tidak ada orang di rumah. Pada saat itu mereka lapar, mereka melihat Burung Cucak Ijo dan berinisiatif untuk memakannya. Singkat cerita mereka memakan Peksi Cucak Ijo, dan kebetulan Dul Jalal pulang serta melihat hal itu. Dul Jalal marah besar dan langsung mengusir kedua putranya. Namun Nyai Dul Jalal tetap mendoakan kedua anaknya. Ahmad dan Muhammad merantau ke negeri Mesir, di tengah perjalanan mereka berhenti untuk minum di telaga. Ternyata air yang ada di telaga tersebut ialah air sakti yang bercampur dengan kekuatan Peksi Cucak Ijo sehingga membuat Raden Ahmad dan Muhammad menjadi seorang kesatria. Raden Ahmad berada di Negara Mesir yang diperintah oleh Ratu Candrasari. Melihat ketampanan Raden Ahmad membuat Ratu Candrasari mengutus gajah untuk melamarkan Raden Ahmad. Gajah menunaikan tugasnya, namun iktikad baik gajah tidak disambut oleh Raden Ahmad. Raden Ahmad malah mengajak berkelahi gajah, pertarungan berlangsung seru dan akhirnya dengan bantuan adiknya Muhammad, Ahmad berhasil mengalahkan gajah. Mendengar Gajah kalah Ratu Candrasari bergegas menyusulnya, dan akhirnya Candrasari bertemu Ahmad. Ahmad langsung jatuh hati dan akhirnya mereka sepakat menikah. Sementara Muhammad dinikahkan dengan Ratu Gandawati adik dari Candrasari. Akhirnya raden Ahmad menjadi raja dan bergelar Prabu Ganda Supeno. Sedangkan adiknya menjadi senopati dan bergelar Senopati Gandasari. Mendengar anaknya menjadi raja. Nyai Dul Jalal memutuskan kabur dan menemui anaknya. Akhirnya mereka bertemu dan memerintah Negara Mesir dengan bahagia. Itu semua berkat pusaka Peksi Cucak Ijo yang dimakan oleh Ahmad dan Muhammad sehingga membuat mereka menjadi raja Itu tadi salah satu lakon yang ada dalam pementasan Jemblung.
Meskipun Jemblung di daerah Banyumas dan
4.2.1 Fungsi Jemblung
Sejak Jemblung lahir pada abad ke-15 (Wawancara, 21 Maret 2009). Jemblung terus mengalami perkembangan sampai saat ini. Berbagai perubahan konvesional telah dialami oleh kesenian ini. Salah satunya pergeseran fungsi, fungsi Jemblung masa kini sudah berbeda dengan Jemblung dulu. Pada awal perkembangannya Jemblung digunakan sebagai media dakwah agama Islam oleh para wali. Pada zaman tersebut budaya Hindu masih kental di Nusantara dan orang Jawa sangat menyukai kesenian seperti Tembang dan Gamelan. Melihat peluang tersebut para wali mengakulturasi wayang dengan agama Islam hingga lahirlah Jemblung yang digunakan sebagai media dakwah para wali. Hal ini terus terjadi pada awal masuknya Islam pada zaman kolonialpun Jemblung masih digunakan sebagai media dakwah, itu terbukti dengan adanya lakon Jemblung yang mengisahkan Pangeran Diponegoro. Tahun 1960an Jemblung terkenal di wilayah Blitar dan Kediri, saat itu Jemblung berfungsi sebagai media dakwah dan komersialis, karena tawaran tawaran pentas yang mengalir deras akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama karena pamor Jemblung dari tahun ketahun semakin surut. Fungsi Jemblung sekarang menjadi fungsi komersialis dimana Jemblung dipentaskan dalam rangka tertentu. Seperti pada seorang hajatan, syukuran, atau Peringatan Hari Besar Islam seperti Maulid nabi dan Isra’ Mi’raj nabi. Jemblung sekarang juga ada fungsi penyuluhan fungsi ini merupakan progam pemerintah yang menyelipkan tentang progam-program pemerintah seperti KB, konvensi minyak gas dalam hal ini pemerintah bekerja sama dengan seniman Jemblung untuk menginformasikan progam pemerintah ketika pementasan Jemblung (Wawancara,21 Maret 2009)
4.3 Sejarah Kesenian Jemblung
4.3.1 Perkembangan Jemblung dari Zaman ke Zaman
Sejak muncul pada abad ke 15 (Wawancara, 21 maret 2009) Jemblung terus mengalami perkembangan sampai sekarang. Hal itu bisa dilihat dari pergeseran fungsi ataupun perkembangan lakon yang dialami oleh kesenian ini. Melihat perkembangan yang dialami oleh Jemblung dapat diklarifikasikan menjadi 3 zaman mulai lahirnya Jemblung sampai perkembangan saat itu hingga saat ini, yaitu:
1. Zaman Awal Islam
Pada zaman ini Jemblung lahir bermula dari akulturasi antara wayang dengan agama Islam. Jemblung terus menyebar dari daerah asalnya banyumas kedaerah-daerah lainnya, karena Jemblung digunakan sebagai media dakwah. Lakon/ceritanya masih seputar dakwah Islam yang dilakukan oleh para wali.Kesenian ini masih menjadi sarana dakwah para wali belum berfungsi untuk hiburan masyarakat.
2. Zaman Kolonial
Seperti kesenian tradisional lainnya keberadaan Jemblung pada zaman kolonial tidak terlalu diketuhi perkembangannya tetapi tetap ada keberadaannya. Hal ini bisa dilihat dari lakon Jemblung yang bercerita tentang perjuangan para pahlawan Islam seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawiradirjo, dan Kyai Mojo. Hal itu membuktikan bahwa Jemblung tetap ada pada zaman kolonial. Menurut Sujiman Jemblung pada masa ini selain digunakan media dakwah juga digunakan untuk menghimpun massa dalam melawan penjajah.
3. Zaman kemerdekaan sampai sekarang
Setelah
4.3.2 Alasan Dinamakan Jemblung
Terdapat dua pendapat yang dirujuk dalam alasan penamaan Jemblung.(http://www.maryadi.blogspot.com) Pendapat pertama diambil berdasarkan bunyi yang dihasilkan oleh instrument yang mengiringi cerita Jemblung. Pendapat yang kedua berdasarkan nama salah satu tokoh cerita menak yakni Jemblung Marmadi. Menurut pendapat yang pertama, instrumen terbang atu Jidor Jemblung yang berukuran besar apabila dipukul menghasilkan suara blung…..blung….blung. oleh karena itu seni bercerita yang menggunakan terbang yang berukuran besar itu disebut Jemblung. Pendapat yang kedua bermila dari cerita menak bernama Marmadi. Murmadi mempunyai badan besar dan perut buncit. Orang yang mempunyai potongan seperti itu diberi sebutan Jemblung. Sehingga nama Marmadi menjadi Jemblug Marmadi sedangkan seninya diberi nama Jemblung. Dari dua pendapat diatas, pendapat yang lebih dapat diterima adalah pengertian yang didasarkan oleh tiruan bunyi (pendapat pertama) (Wawancara 7 Mei 2009)
4.2 Upaya Upaya yang Dilakukan untuk Mengembangkan Kesenian Jemblung
Karena keberadaannya yang mulai terpinggirkan seiring datangnya kesenian modern, maka dilakukan berbagai upaya untuk mengembangkan serta melestarukan kesenian ini. Upaya tersebut muncul dari inisiatif dalang Jemblung yang ingin menarik minat masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestaruan kesenian Jemblung. Upaya itu berupa penambahan lakon yang dulunya berkisar Hikayat Amir Hamzah sekarang ditambah lakon perjuangan Islam. Dan lakon bisa juga disesuaikan dengan permintaan. Selain itu juga ada tambahan instrumen musik dengan menambahkan alat musik seperti kenong, tengeruh, dimplung dan lain-lain.
Namun berbagai upaya dalam mengembangkan Jemblung di atas tidak boleh meninggalkan 5 ciri khas Jemblung yang asli. Ciri khas Jemblung yang tidak boleh ditinggalkan ialah:
1. Cerita atau Lakon
Ciri khas Jemblung yang tidak boleh ditinggalkan ialah cerita yang merunut pada Hikayat Amir Hamzah atau cerita yang menyangkut masalah penyebaran agama Islam, seperti cerita Wali Songo.
2. Sholawatan dan Lagu (gending Jemblung)
Dalam hal ini shalawatan dan lagu tidak bisa dipisahkan dari pementasan Jemblung, kerena ada dua dalang dalam Jemblung Kediren, satu dalang berfungsi sebagai petutur kisah dan satu lagi sebagai sinden atau dalang sholawatan. Dalang sholawatan hanya bertugas menyanyikan lagu sholawat seperti Sholawat Tombo Ati, Sholawat Mujiat dan lain-lain. Dalam melagukan sholawatpun juga ada perbedaan tiap daerah. Untuk daerah Kediren lagu atau cengkoknya kenceng/lurus sedangkan daerah lainnya cenderung lekuk ( Wawancara 7 Mei 2009)
3. Humor yang bernafaskan parikan
Dalam setiap pementasan Jemblung, homor atau guyonan tidak dapat dihilangkan. Disini dalang Jemblung dituntut untuk selalu menciptakan suasana segar dan baru yang dilakukan dengan geguyon (Kelakar) penuh canda. Dan geguyon tersebut harus bernafaskan parikan atau pantun. Dan parikan tersebut harus mengandung humor.
4. Interaksi dalang dengan Penonton
Selain dituntut untuk menciptakan suasana segar dan baru, dalang Jemblung juga harus pandai berinteraksi dengan penonton interaksi tersebut bisa berupa tanya jawab atau permintaan kritik dan saran. Interaksi tersebut bisa dilakukan pada saat Jemblung pentas atau setelah Jemblung pentas
5. Misi Dakwah
Ciri khas Jemblung yang benar-benar tidak boleh ditinggalkan ialah misi dakwahnya. Dalam setiap pementasannya Jemblung selalu mengandung misi dakwah untuk mengajak taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena Jemblung adalah kesenian Jawa Islami yang digunakan sebagai sarana dakwah yang bertujuan memberi penjelasan kepada masyarakat sekaligus mengajak iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain upaya yang dilakukan oleh seniman Jemblung untuk mengembangkan kesenian ini, upaya untuk mengembangkan serta melestarikan Jemblung juga dilakukan oleh pemerintah. Hal ini terbukti dengan mengirim delegasi Jemblung ke beragai festival budaya namun upaya itu dirasa kurang oleh dalang Jemblung.
Banyak juga kendala-kendala yang dirasakan oleh seniman Jemblung dalam mengembangkan kesenian Jemblung diantaranya :
- Belum terbentuknya wadah perkumpulan/paguyuban seniman Jemblung sehingga para seniman sulit bertukar informasi mengenai Jemblung.
- Kesenian ini kurang diminati oleh kaum muda sehingga regenerasi yang dilakukan oleh seniman Jemblung kurang berjalan
- Banyak kesenian modern yang lebih digemari oleh masyarakat sehingga membuat Jemblung terpinggirkan.
4.3 Keberadaan Kesenian Jemblung Saat Ini Ditengah Banyaknya Kesenian Modern
Jemblung saat ini bisa dikatakan hampir punah kerena sedikit sekali jumlah seniman Jemblung yang masih eksis atau bertahan. Hal itu didukung dengan banyaknya kesenian modern yang semakin digandrungi oleh masyarakat daripada kesenian tradisional sehingga Jemblung mulai tidak dikenal, terpinggirkan, dan dianggap kuno. Apalagi Jemblung kurang dinikmati olek kaum muda dan peminat Jemblung rata-rata orang tua. Untuk saat ini Jemblung hanya dipentaskan dalam rangka tertentu, seperti peringatan hari besar, atau dalam rangka memenuhi Hajatan. Jemblung pun kurang terpublikasi sehingga keberadaanya mulai tidak dikenal. Oleh karena itu dalam setiap pementasannya, dalang mengemban misi dari pemerintah untuk melestarikan keenian ini jangan sampai punah, karena Jemblung merupakan warisan budaya yang serat akan makna filosofis dan religius serta tak ternilai harganya (Wawancara 21 Maret 2009).
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Sebagai halnya karya ilmiah, kesimpulan merupakan intisari dari pembahasan yang didasarkan pada kajian pustaka serta seperangkat metode penelitian sebagai upaya untuk menemukan jawaban dari masalah penelitian. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut
5.1.1 Kesenian Jemblung
Jemblung merupakan kesenian tradisional Jawa yang menjadi kesenian tradisional rakyat. Jemblung merupakan teater tutur yang dimainkan oleh 7-10 orang, dimana ada dalang yang menyampaikan cerita atau lakon., ada pemain yang memainkan alat musik .Dalang dan pemain bisa juga merangkap memerankan tokoh yang ada dalam lakon. Dalam pertunjukan Jemblung modern juga terdapat sinden dan wayang sebagai visualisasi tokoh dan tambahan instrument musik campursari. Hal itu dilakukan untuk menambah minat penonton untuk menyaksikan Jemblung. Lakon yang diceritakan di jemblung disadur dari hikayat Amir Hamzah, selain itu juga bisa mengambil lakon perjuangan Islam.
5.1.2 Fungsi Jemblung
Selain sebagai hiburan, tayub juga mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi dakwah : Jemblung digunakan sebagai media dakwah oleh para wali untuk mengajak masyarakat Jawa memeluk agama Islam
2. Fungsi Sosial : Jemblung dijadikan sebagai wadah sosialisasi bagi para warga yang menyaksikan pertunjukan Jemblung selain itu Jemblung juga menjadi salah satu ritual dalam upacara Ruwatan masyarakat Jawa.
3. Fungsi Komersial : Jemblung sekarang dijadikan sebagai media mencari nafkah oleh seniman Jemblung.
4. Fungsi Penyuluhan : Jemblung dijadikan sebagai media penyuluhan oleh pemerintah berkenaan dengan program pemerintah.Selain itu Jemblung juga dijadikan wadah promosi seperti pada event Traditional Expo di Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara Kediri.
5.1.3 Sejarah Jemblung
5.1.4 Upaya upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kesenian Jemblung
Beberapa upaya dilakukan seniman Jemblung agar Jemblung tetap eksis dan tidak punah. Berbagai upya yang telah dilakukan ialah :
1. Menambah lakon Jemblung dengan berbagai variasi serta mengangkat topic yang sedang hangat di masyarakat.
2. Menambah musik campursari dan musik padang pasir untuk menarik perhatian penonton
3. Melakukan visualisasi tokoh dalam lakon Jemblung berupa wayang untuk menghindari kesan monoton ketika menyaksikan Jemblung.
4. Menghadirkan Sinden wanita untuk lebih menyegarkan suasana.
5. Mengikuti berbagai festival budaya untuk mempromosikan Jemblung
5.2 Saran-saran
Tujuan pokok dari penelitian ini adalah memberikan saran-saran kepada seluruh lapisan masyarakat. Adapun saran-saran yang dapat kami berikan dalam penelitian ini adalah:
5.2.1 Dinas Pariwisata dan Kesenian Kabupaten serta Kota Kediri
Agar selalu mengadakan pembinaan terhadap grup Jemblung Putra Budaya serta yang lain dan membuat jadwal Jemblung secara pasti agar dapat ditentukan harinya sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu acara penunjang pariwisata di Kabupaten dan Kota Kediri
5.2.2 Grup Jemblung Putra Budaya dan Taruna Budaya
Agar mensosialisasikan kesenian Jemblung pada masyarakat luas agar tidak punah. Selain itu diperlukan kepanitiaan dalam mengkoordinasi kegiatan dalam padepokan, sehingga kegiatan tidak harus langsung ditangani oleh pihak Dinas Pariwisata.
5.2.3 Pemerintah Kabupaten dan Kota Kediri
Agar menambah upaya-upaya yang perlu dilakukan agar kesenian Jemblung tetap eksis dan mampu bersaing dengan kesenian modern. Serta meningkatkan perhatian pada kesenian Jemblung agar Jemblung tetap menjadi kesenian khas serta kesenian tradisional rakyat di daerah Kediri dan sekitarnya.
5.2.4 Masyarakat
Agar sering mengadakan kesenian Jemblung sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang untuk menjaga kelestarian kesenian Jemblung agar tidak punah. Diperlukan sikap lapang dan terbuka untuk menerima kesenian Jemblung di tengah-tengah masyarakat.

0 komentar:
Posting Komentar