BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuaan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Salah satu jenis kebudayaan atau kesenian yang masih dipertahankan di Jawa Timur adalah Jaranan. Dilihat dari segi persebaran kebudayaan (culture area) seni Jaranan bukanlah produk seni tradisional masyarakat Kediri saja. Hampir di semua wilayah di Jawa Timur terutama di lembah Sungai Brantas mengenal seni tradisional ini. Mulai dari Malang, Blitar, Tulungagung, hingga Kediri. Di kabupaten Kediri terdapat beberapa kesenian Jaranan yang dapat dinikmati diantaranya Jaranan Senterewe, Pegon, Dor dan Jowo.
Jaranan Jowo merupakan salah satu kesenian Jaranan yang mengandung unsur magic dalam tariannya. Di mana pada puncaknya penari akan mengalami trance (kesurupan) dan melakukan aksi berbahaya yang terkadang di luar akal manusia.
Jaranan merupakan kesenian khas daerah Kediri Jawa Timur yang sangat populer. Kesenian Jaranan menyuguhkan berbagai atraksi menarik yang kadang mampu mengakibatkan rasa takjub. Atraksi gerak pemain dengan diiringi tabuhan gamelan serta sesekali diselingi unsur magic menjadikan kesenian ini layak ditonton. Jaranan atau istilah populernya kuda lumping, merupakan salah satu bentuk seni tradisional yang hingga kini masih eksis di hati masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah kebudayaan atau kesenian Jaranan di Kediri?
2. Apa yang dimaksud dengan kesenian Jaranan di Kediri?
3. Sebutkan macam-macam Jaranan di Kediri?
4. Adakah unsur-unsur mistik dalam kesenian atau kebudayaan Jaranan?
5. Bagaimana cara melestarikan kesenian Jaranan?
BAB II
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Data
Dalam observasi ini kami melakukan penelitian dan melakukan wawancara pada seorang seniman Jaranan. Bapak Suparni alias Kecek Kendang yang merupakan salah satu seniman Jaranan yang berasal dari Desa Ngronggo Kediri. Setelah kami melakukan observasi dan penelitian, inilah data yang kami dapatkan.
- Kesenian Jaranan yang beredar pada masyarakat Kediri sekarang ini merupakan budaya asli Kediri yang diwariskan secara turun-temurun.
- Sejak kesenian Jaranan bertumpu pada legenda Ratu Kediri yaitu Dyah Ayu Songgolangit.
- Ada tiga macam jenis kesenian Jaranan yang berkembang pada masyarakat.
- Adanya unsur-unsur mistik dalam kesenian Jaranan.
- Upaya-upaya yang dilakukan para seniman dalam melestarikan Jaranan.
B. Pembahasan
- Sejarah Awal Mula Jaranan
Awal mula adanya kesenian Jaranan pada masyarakat Kediri adalah berasal dari kerajaan Kediri. Al kisah ratu kerajaan Kediri yaitu Dyah Ayu Songgolangit mempunyai kecantikan yang diperebutkan oleh para ksatria. Banyaknya ksatria yang ingin meminang ratu Dyah Ayu Songgolangit membawa ratu Kediri ini mengadakan Pelemboyo (permintaan) yang isinya. Barang siapa yang mampu memenuhi sumur dengan emas sehingga membentuk kukusan, maka ia akan menjadi suamiku.
Salah satu ksatria yang melamar ratu Kediri adalah Prabu Singo Barong dari kerajaan Blitar. Namun pada akhirnya dapat dikalahkan. Raja Bantar Angin yaitu Klono Suwandono yang kesaktiannya tak ada yang menandingi dari sekian banyak pelamar. Dalam perjalanannya melamat ratu Kediri, Klono Suwandono dibekali Adipati Bantar Angin dengan pecut pusaka dan kepang dari bambu yang dijadikan kendaraan untuk melamar ratu Dyah Ayu Songgolangit. Klono Suwandono telah berusaha memenuhi pelemboyo (permintaan) ratu Kediri atau biasa disebut dengan Dewi Sekartaji.
Setelah sekian lama Suwandono mengisi sumur tersebut dengan emas timbul kecurigaan pada dirinya. Karena sumur tersebut belum juga penuh. Kecurigaan Klono Suwandono ini membuatnya penasaran terhadap isi sumur yang sekian lama diisi dengan emas. Rasa penasaran ini membuat Klono Suwandono ingin terjun ke dalam sumur dan melihat langsung apa yang sebenarnya terdjadi dalam sumur dan kebocoran ini memang disengaja oleh Dewi Sekartaji. Saat Klono Suwandono berusaha menutupi kebocoran tersbeut Dewi Sekartajio menutup sumur dan membiarkan Klono Suwandono terkurung dalam sumur dan akhirnya Ratu Dyah Ayu Songgolangit memutuskan untuk tidak menikah. Bukti adanya sumur ini sampai sekarang masih dapat kita lihat pada monumen Sekartaji yang berada si pusat kota Kediri.
Kesenian Jaranan merupakan perpaduan antara seni tari dan seni musik yang dilakukan oleh 6 penari yang menggambarkan suatu peristiwa atau kejadian pada masa kerajaan Kediri. Tarian tersebut diiringi oleh gamelan dan gendingan jowo. Gamelan jowo tersebut meliputi Gong, Kendang, Sarong, Kenong, Dewalang dan lain-lain. Dalam kesenian Jaranan biasanya terdapat atraksi-atraksi yang menegangkan di luar akal manusia.
- Macam-Macam Kesenian Jaranan Di Kediri
Jaranan di Kediri dapat dibedakan menjadi tiga macam:
a. Jaranan jowo, merupakan salah satu kesenian Jaranan yang mengandung unsur magic dalam tariannya. Di mana pada puncaknya penari akan mengalami trance (kesurupan) dan melakukan aksi berbahaya yang terkadang di luar akal. Ciri umum dai Jaranan ini adalah pemainnya membawa senjatan tongkat.
b. Jaranan Senterewe, merupakan salah satu kesenian Jaranan yang mengedepankan kreatifitas gerak dengan iringan musik yang dinamis. Ciri umumnya dalah para pemainnya makan sante dan rawe.
c. Jarana Pegon dan Dor merupakan salah satu kesenian Jaranan yang mempunyai ciri umum para pemainnya bertelanjang dada.
- Unsur Mistik Dalam Kesenian Jaranan
Pada jaman dahulu unsur-unsur mistik masih melekat kuat dalam kesenian Jaranan. Sehingga menimbulkan tarian-tarian yang berbau kesurupan tapi pada zaman sekarang ini unsur-unsur mistik dalam kesenian Jaranan lebih didominasi adanya minuman keras dan kesenangan bagi para penari.
- Upaya Melestariakan Jaranan
a. Dengan tetap mempertahanan kesenian Jaranan sehingga budaya yang harus tetap dijaga
b. Mengadakan pementasan Jaranan di daerah sekitar
c. Tetap mengadakan pelantihan generasi-generasi penerus agar tidak punah
d. Menjaga dan menyimpan alat-alat Pengrawe (gamelan) dan kostum Jaranan itu sendiri.
BAB III
KESIMPULAN DAN SOLUSI PENYELESAIAN
A. Kesimpulan
Jaranan merupakan suatu kesenian yang menjadi budaya pada masyarakat Kediri yang diturunkan secara turun-temurun hampir semua wilayah Jawa Timur terutama di lembah Sungai Brantas mengenal seni tradisional ini. Mulai dari Malang, Tulungagung, Blitar dan Kediri.
Seni Jaranan (Kuda Lumping) yang berkembang pada masyarakat Kediri ini, didasarkan pada tokoh Dyah Ayu Songgolangit dari kerajaan Kediri. Jaranan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
- Jaranan Pegon (Dor)
- Jaranan Jowo
- Jaranan Sentrelawe
Cara melestarikan Jaranan adalah dengan tetap mempertahanklan seni Jaranan ini sehingga suatu kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Jawa Timur
Unsur-unsur mistic yang ada pada Jaranan sekarang ini lebih didominasi dengan muniman keras atau obat-obatan dan kesenangan.
B. Saran
Seharusnya kita sebagai anak bangsa kita harus melestarikan budayam kesenian dan tradisi bangsa kita. Jangan sampai kita lupa dan malu terhadap budaya yang kita punya. Karena budaya juga aset negara yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu, jangan sampai budaya kesenian dan tradisi kita diambil oleh negara lain.
Politik Pakem Jaran Kepang Ala Kota Kediri
Jaran Kepang, hampir mustahil orang tak mengenal jenis kesenian ini. Di Jawa Timur, Jaranan menjadi salah satu kesenian rakyat paling khas. Penampilannya atraktif, ekspresif dan dinamis.
Di berbagai daerah, kesenian Jaranan sering disebut dalam banyak nama. Di Ponorogo disebut Jathil, di tempat lain Senterewe, atau juga dikenal dengan nama Jaranan Pegon. Penampilan kesenian ini cukup sederhana. Dimainkan oleh 4 sampai 6 orang yang mengapit kuda-kudaan dari anyaman bambu, menari-nari diiringi alunan Ketuk Kenong, Gong Gumbeng, Kendang dan Terompet, dan berujung pada atraksi ndadi atau kesurupan (trance) yang menjadi kekhasan Jaranan. Di tengah masyarakat, berbagai atraksi itulah yang menjadikan Jaranan sangat populer dan menarik minat banyak penonton.
Bukan hanya di kampung-kampung, yang kehadirannya untuk memeriahkan ritual-ritual tradisional seperti Sedekah Bumi atau Ruwatan Desa. Akhir-akhir ini Jaranan sering tampil untuk memeriahkan festival-festival budaya di kota-kota Jawa Timur. Para panitia biasanya merasa kurang sreg, kalau Jaranan tidak ikut serta. Bahkan Jaranan sering dapat posisi istimewa sebagai pembuka berbagai festival, skala besar maupun kecil. Berbagai modifikasi pun tak jarang dilakukan, agar lebih tampil menarik, katanya. Tak aneh, banyak jenis Jaranan kini menyertakan alat musik modem dalam setiap kali tampil, seperti Keybord dan drum.
Begitu populernya kesenian ini di Jawa Timur, tak heran kalau pemerintah Kota Kediri kini sedang berupaya keras mengangkat Jaranan sebagai simbol identitas daerah. Rupanya Kota Kediri memang hendak mengikuti tren yang belakangan ini marak. Seiring dengan otonomi daerah beberapa kota beramai-ramai membangun identitas kotanya yang khas, unik dan spesifik, seperti Banyuwangi dengan Gandrungnya, Ponorogo dengan Reyognya, dan kini Kediri dengan Jaranannya.
Dalam pengamatan Desantara baru-bare ini, Pemda Kota Kediri tengah berusaha membuat pakem resmi Jaranan khas Kota Kediri, yang nanti akan dijadikan Simbol Identitas. Menurut keterangan beberapa pejabat setempat. Proyek ini memang diusung Dinas Pariwisata, Dewan Kesenian Kota Kediri (DK3), dan rencananya melibatkan para sejarawan Kediri.
Program Dinas Pariwisata untuk tahun ini dan satu tahun mendatang adalah mencari pakem Jaranan terlebih dahulu. Karena itu kita sedang melakukan pengembangan dan pembimbingan pada Jaranan-Jaranan yang ada di Kediri. Ujar Guntur, salah satu pejabat Dinas Pariwisata di Kediri yang terlibat dalam proyek ini. Adapun pembimbingan yang dimaksud Guntur tak lain adalah tampilnya seniman-seniman Jaranan di Taman Wisata Selomangleng yang secara rutin diagendakan setiap Minggu.
Pakem
Pakemisasi, saat ini memang jadi agenda penting pemda Kota Kediri, entah atas nama pelestarian atau pembentukan identitas Kota. Sejarahwan, seniman dan para sesepuh Kota Tahu itu rencananya akan dikerahkan untuk mendukung program itu menyusul disepakatinya Jaranan sebagai simbol identitas. Mereka mulai menggali data-data kesenian Jaranan, sejarah Jaranan di sungai Brantas, asal-usuinya zaman pra Islam, sampai mencari akar sejarah kota Kediri yang katanya masih dalam perdebatan.
Tapi susahnya, Jaranan di Kediri tidak hanya berbilang, tapi bermacam-macam pula. Bukan hanya tak mudah bahkan hampir mustahil mencari akar yang sah dan tunggal di tengah macam-macam Jaranan itu. Belum lagi kesenian Jaranan, yang seiring dengan perubahan zaman, juga terus berusaha memperbarui diri, menyesuaikan dengan kebutuhan komunitasnya. Penuturan Mbah Ketang ini mungkin baik kita simak. Seniman Jaran Kepang di tiga zaman ini bilang gerakan Joget pada Jaranan punya banyak pakem. Kalau Jaranan Wijaya Putra itu punya 24 macam, 5 hingga 6 gerakan, ujarnya. Nah, bila demikian alangkah sulitnya mencari pakem tunggal dalam Jaranan. Sanjoyo Putro 24 gerakan, Joyoboyo 14 gerakan, dan Ronggolawe hanya
Belum lagi bila masing-masing kelompok Jaranan punya pakem yang menjadi bagian dari ritual dan warisan leluhur yang tidak bisa dirubah atau dikombinasikan dengan yang baru. Dua komunitas Jaranan, Wijaya Putra dan Sanjaya Putra, bisa menjadi contoh. Mbah Ketang bercerita, Pakem bagi dua komunitas ini harus selalu digunakan pada saat-saat pertunjukan. Baru setelah pakem itu usai tampil, Jaranan baru atau hasil kombinasi bisa dipertunjukkan. Bagi Sanjaya dan Wijaya meningalkan pakem berarti menghilangkan naluri Jaranan dan menghina tinggalan leluhur. Dalam pandangan mereka yang bisa berubah hanya peralatannya, bukan pakemnya.
LainWijaya Putra, lain pula Jayabaya Putra. Komunitas terakhir ini selalu mengkreasi Jaranan yang hendak tampil dengan yang baru, atau paling tidak menggabungkan antara yang tradisional dengan yang modern. Alasan mereka karena masyarakat menginginkannya. Misalnya lagu-lagunya dicampur dengan iringan musik samroh ataupun dangdut, yang biasanya lalu ditambah unsur linden, alat musik drum dan keyboard. Jadi selera pasarlah yang menjadi acuan di sini. Hal yang lama juga dilakukan Jaranan Ranggalawe, yang mengedepankan keindahan tarian Jaranan.
Jelaslah di sini, tiap jenis Jaranan punya pakem sendiri-sendiri. Lalu pakem manakah yang hendak diingini dan dipilih menjadi identitas?
Berebut pengaruh
Di samping pakemisasi yang menyisakan sejumlah problem seperti standar apa yang dipakai, oleh siapa, pakem mana yang layak dan mana yang harus disingkirkan serta berbagai seleksi yang melibatkan banyak kepentingan, beberapa komunitas Jaranan di Kediri kini mulai berupaya sating berebut pengaruh. Kalau para seniman selama ini hanya bersaing memperebutkan penonton, di antaranya melalui perang tarif, dan melibatkan persaingan antara Jaranan yang dikelola para dan Jaranan paguyuban, tampaknya para seniman Jaranan kini sedang berebut sesuatu yang lain. Mereka beramai-ramai mencari peluang agar Jaranan miliknya yang diakui. Jaranan model pegon, senterewe, maupun dor saling berkompetisi, mendeklarasikan miliknya sebagai yang paling patut dijadikan pakem.
Beberapa seniman yang tergabung dalam paguyuban-paguyuban setidaknya mengaku resah. Selain harus bersaing dengan para bos pemilik Jaranan, mereka juga harus melayani perang klaim, dan pada akhirnya bersaing berebut akses ke kekuasaan. Saya merasa kasihan. Sebab saya kira Jaranan yang kecil itu nanti tidak akan bisa hidup. Begitu kata Pak Gendut yang juga anggota Jaranan Wijaya Putra Kota Kediri. Nasib para seniman ini tentu akan lebih tragis, bila Jaranan nantinya hendak dipakemkan, diseragamkan!
Selain Gendut, Mbah Ketang pun kini mulai risau, mengingat konsep pakemisasi pemerintah ini cenderung berbeda dengan pemilik Jaranan. Pakem bentukan Dinas Pariwisata, kata Mbah Ketang, tidak berakar pada ruang batin komunitas Jaranan, tetapi sekadar untuk kepentingan industri pariwisata, yang keuntungannya pun belum tentu benar akan dinikmati komunitas seniman.
Yang pasti, proyek ini kini jalan terus. Dinas Pariwisata dan DK3 terus berusaha mendekati para seniman agar proyek pembentukan identitas Kota Kediri usai tahun 2008. Mereka tampaknya tak radar, kalau apa yang disebut identitas asli itu temyata dengan susah payah dan Begitu juga itu sendiri yang hanya mungkin bisa ditemukan bila realitas yang beragam itu diseragamkan dalam wujud yang tunggal. Jika pertanyaannya adalah demi keuntungan siapa, bukankah kepentingan si pembentuknya akhimya lebih dominan ketimbang kepentingan komunitas seniman sendiri?
Pak Poyo (Seniman Jaranan)
Posted by Mh. Nurul Huda on 8 November 2006
Pak Poyo: Seniman Jaranan Di Tengah Perubahan Perawakannya agak kurus dengan postur lumayan tinggi. Nampak peluh masih belum kering membasahi sekujur tubuhnya.
Meski wajah terlihat lelah, Pak Poyo, begitu orang memanggilnya, tersenyum lebar saat Desantara menghampirinya. Pria berumur 70 tahunan itu adalah seniman Jaranan yang sehari-hari bekerja mengayuh becak dan mengangkut sampah malam harinya. Siang itu, dia memang baru saja mengantar penumpang yang menjadi langganannya demi upah untuk menyambung hidup keluarganya.
Hidup pak Poyo barangkali menjadi salah satu potret nasib seniman Jaranan di Kediri belakangan ini. Karena berkesenian hidup pas-pasan, ia harus banting tulang mencari kerja sampingan. Memang benar Dinas Pariwisata sering memanggil mereka untuk tampil di taman wisata Selomangleng. Tapi perhatian pemerintah terhadap kesenian dan seniman sendiri rupanya masih minim. Di samping upah yang mereka terima amat kecil, mereka rupanya hanya dijadikan sarana meramaikan tempat-tempat wisata saja.
Biar begitu, berkesenian bagi bapak beranak 5 dan 6 orang cucu ini adalah jalan hidup, dunia yang tidak bisa ditinggalkan. "Walau sampai tua nanti saya akan terus berkesenian," tutur Pak Poyo yang memandang Jaranan sebagai tuntunan yang harus dilestarikan. Jaranan, bagi dia, berarti peran agar kita belajar dengan sungguh-sungguh, belajaro sing tenanan. Maksudnya dalam menjadi seniman harus punya tekad, tidak ragu dalam belajar.
Dengan filosofi ini, tak heran kalau hidup Pak Poyo boleh dibilang sepenuhnya demi eksistensi Jaranan. Terbukti meski pahit getir menimpa hidup komunitasnya, ia tetap teguh bertahan dan mengembangkan kesenian yang pernah sangat populer di zaman Orde Lama itu.
Pak Poyo memang menjadi saksi sejarah terang dan redupnya nasib kesenian dan Para seniman Jaranan di Kota Tahu ini. Ia pun mengenang.
Dulu sekitar tahun 63-64-an, Jaranan sangat populer di Kediri. LKN, LEKRA, dan Lesbumi, semuanya memiliki kesenian Jaranan. Waktu itu para seniman bisa hidup rukun, berdampingan satu same lain. Ketiga ormas itu bersaing dalam menciptakan kesenian, dan mengembangkan kesenian sesuai dengan misinya masing-masing," ujar Pak Poyo bercerita.
"Tapi sejak 1965 keadaannya sangat menyedihkan. Jaranan dianggap miliknya PKI. Semua seniman yang dianggap komunis dibunuh. Punden-punden seperti di Selomangleng dirusak. Sepertinya seniman pada waktu itu tidak ada yang hidup tenang. Kemanapun kami melangkah, selalu dihantui rasa takut dan was-was."
"Dari 1965 sampai awal 1970-an kesenian Jaranan lumpuh total. Kecuali Jaranan yang ikut LKN atau Lesbumi. Itupun hanya beberapa Jaranan saja," katanya lagi.
Di tengah belum hilangnya rasa was-was ini, baru tahun 70-an Pak Poyo dan teman-temannya menghidupkan kembali Jaranan. Dan sejak 1977 setelah berdirinya Samboyo Putro, Jaranan mulai mendapat pengakuan pemerintah. Itu pun karena Samboyo Putro didirikan oleh mantan Polwil Kediri, setelah di sana sini dipaksa berubah dengan tampilan yang lebih sopan, kalem, sumeh dan guyup, tidak liar seperti sebelumnya.
Kini, setelah hampir empat dekade, zaman sudah berubah. Pak Poyo tidak lagi menghadapi tekanan militer dan tuduhan komunisme. Tapi ia harus bersaing dengan industri hiburan modern yang makin hingar bingar. Belum lagi, upaya pemda kota Kediri belakangan ini untuk membangun simbol identitas diri dengan menciptakan pakem tunggal-seragam. Apakah semua itu masih menyisakan ruang hidup dan perbaikan nasib komunitas seniman Jaranan seperti dia? Barangkali Pak Poyo sambil mengayuh becak kesayangannya, kini tengah berharap harap cemas, (pewawancara: Edi Purwanto)
Sumber: www.rumahkultural.com
Ketika Jaranan “Thik” Melawan Reog
Oleh: Mh. Nurul Huda, Ahmad Zainul Hamdi dan Jamal Mustofa
Panggung, bagi Jaranan Thik, rupanya bukan semata arena pertunjukan. Area itu benar-benar menjadi tempat di mana keaslian identitas dikisahkan dan eksistensi mereka ditegaskan.
Siang itu, suara gamelan yang rancak, dinamis dan nyaring itu mulai menghentak. Serentak enam orang para penari berwajah sangar, berkumis dan berjenggot lebat dengan pakaian serba hitam memasuki arena panggung. Gerakannya kasar, tangan mengepal dan kaki mengentak-ngentak sambil sesekali posisi sating berhadapan.
Syandan Demang Ngebel, Warok Suro Joyo beserta punggawanya sedang menggelar pesta besar. Mereka menikmati makanan hasil dari berburu para prajurit dan punggawanya di hutan. Selesai pesta, beberapa babak kemudian, di atas panggung muncul sosok bertopeng kepala naga (barong). Berbalut kain hitam, sosok ini menari-nari penuh liukan tak terduga. Dikisahkan sang naga yang merupakan penjelmaan sukma babi, mengamuk dan memporak-porandakan seluruh kademangan Ngebel. Banjir bandang pun menenggelamkan seluruh penduduk negeri. Tak ada yang bertahan kecuali Rondo Dadapan, yang dalam cerita itu tidak larut dalam pesta besar.
Selesailah legends Naga Baru Minting. Tapi pertunjukan belum usai. Seseorang yang sejak awal berdiri di samping gapura naga yang juga pintu gerbang panggung tiba-tiba mengejang. Tubuhnya terlihat kaku dan terjatuh di lantai. Namun sejurus kemudian ia pun menari-nari atraktif. Matanya melotot dan meloncat-loncat menakutkan. Orang-orang sering menyebutnya sebagai ndadi atau kesurupan yang menjadi ciri khas kesenian Jaranan.
Ya, Siang itu Jaranan Thik Turonggo Sakti atau yang sering disebut oleh komunitasnya sendiri sebagai "Reyog Thik", sedang pentas. Penonton dibuat terhibur. Kadang mereka terpingkal-pingkal lantaran ceritanya berbumbui dialog dan tarian lucu. Kadang pula dibuat tercengang oleh atraksi-atraksi nekat. Mereka menikmati bukan saja ritual ndadi yang khas dalam setiap Jaranan, tapi juga tari-tarian baru yang mengisahkan legends Telaga Ngebel yang membedakannya dengan JarananJaranan di daerah lain, seperti sentherewe, Jaranan, jaran kipang dan lainnya. Kehadiran gamelan yang mirip Reyog dan juga kehadiran tokoh yang menyerupai warok dengan pakaian serba hitam menambah penampilan Jaranan Thik ini lebih unik. Menghadirkannya sebagai yang juga "khas Ponorogo".
Di Dusun Ngradi yang menjadi bagian dari wilayah desa Singgahan itu, Jaranan Thik yang dikernas dalam cerita Naga Baru Klinthing yang mengisahkan asal usul Telaga Ngeber bisa dibilang sebuah perkembangan baru. Lantaran pada awalnya Jaranan Thik adalah tarian pagon (kuda lumping biasa) tanpa ndadi, dan ritual kesurupan itu baru masuk setelah ada pengaruh dari Jaranan lain.
Entah bagaimana kisah itu hadir. Yang jelas, cerita itu diyakini terkait dengan mass lalu munculnya Jaranan Thik. Sebagaimana dituturkan Sugito, salah seorang seniman Jaranan Thik. Penyebaran Jaranan di berbagai daerah lantaran peran Raden Mas Broto yang membawa kesenian ini ke bagian timur Gunung Wilis seperti Tulungagung, Trenggalek dan Kediri. Mas Broto adalah pemuda Trenggalek yang diperebutkan oleh dua orang warok Ponorogo bernama Suro Menggolo dan Suro Gentho untuk dijadikan menantu. Sebuah cerita yang juga dijadikan pijakan komunitas Jaranan Thik kalau lebih tua ketimbang Reyog. Karena Reyog merujukkan dirinya pads sejarah pertarungan Batoro Katong dan Ki Ageng Tutu yang datang lebih belakangan.
Dominasi Reyog
Bagi orang yang tidak mengenal pergulatan Jaranan Thik atau mereka yang terlanjur percaya Reyog sebagai satu-satunya kesenian asli Ponorogo, pengakuan mengenai Jaranan Thik yang ash Ponorogo ini terdengar mengada-ada. Bahkan ditolak. Sebagaimana kesaksian Agus yang anggota tim kreatif Turonggo Sakti, perihal tokoh-tokoh Reyog di Ngradi yang terangterangan menolak Jaranan Thik. Tidak jarang kehadiran Jaranan Thik dianggap ingin menggusur ikon budaya Ponorogo itu. seperti terlontar dari mulut konco-konco Reyog, "sudah punya Reyog kok ngurusi kesenian lain, tidak asli Ponorogo lagi."
Nasib serupa rupanya dialami pemain Jaranan Thik yang lain. Ahmad Isnen, misalnya. sejak menggeluti Jaranan Thik, pria yang kini ketua paguyuban Jaranan thik Turonggo Akti ini pernah menerima cemoohan. "Dudu kesenian asli kok diuripi. Ngurusi senterewe (thik) keluargane opo arep dipakani rawe? (bukan kesenian asli kok dihidupi. Dengan menghidupi santerewe, apa keluargamumau diberi makan rawe?). demikian kata mereka memperolok. Olok olokan semacam itu boleh dibilang sebagian saja respon warga dan beberapa komunitas dan beberapa komunitas di daerah yang masuk desa singgahan. Yang dalam benak mereka, Jaranan Thik bukanlah kesenian asli Ponorogo. Hanya Reyoglah yang asli, dan karenanya yang lain pantas mati.
Bisa jadi keputusan Pemda menetapkan Reyog sebagai ikon budaya daerah Ponorogo ikut andil mendorong situasi ini. Di desa-desa hingga ke dusun-dusun, Reyog menikmati privelese dari para aparat pemerintah. Menerima dana pengembangan, undangan pertunjukan, dan seterusnya yang nota bene tak pernah dinikmati seniman lain non-Reyog macam Jaranan Thik. Tak jarang pula aparat desa ikut memusuhi atau menunjukkan sikap tak mengenakkan kepada komunitas Jaranan Thik lantaran dianggap akan menggeser kedudukan Reyog yang sudah mapan di Singgahan. Yang semuanya ini menunjukkan betapa kesenian di Ponorogo sedang menuju ke arah proses penunggalan yang serius dan sistematis.
Namun demikian bukan berarti komunitas seniman Jaranan Thik berdiam diri tanpa upaya agar bisa diterima oleh warga Reyog. Mengingat berkonflik dengan Reyog bukan saja bisa memicu perpecahan antar warga, tetapi juga tidak menguntungkan bagi keberlangsungan Jaranan Thik. Komunitas Jaranan Thik meminta Pak Saiman dalam posisinya sebagai tokoh Reyog Singgahan, menjadi ketua Turonggo Sakti. "Supaya bisa menjembatani komunikasi antara seniman Jaranan Thik dengan Reyog," tutur Mahfud yang juga penggagas Jaranan Thik Turonggo Sakti.
Dalam hal ini pulalah seniman Thik nampaknya amat menyadari pentingnya kreatifitas performance di atas panggung. Seperti terekam di bagian awal catatan ini, pementasan Jaranan Thik dengan paduan legenda Naga Baru Klinthing yang merujuk pads sejarah Telaga Ngebel semakin menegaskan bahwa Jaranan Thik sebenarnya tidaklah asing bagi orang Ponorogo. Apalagi unsur warok yang menjadi bagian dari inti pertunjukan, secara langsung mendekatkan Jaranan Thik dengan ikon keponorogoan yang telah terlanjur diidentifikasikan dengan keReyogan. Di atas panggung Jaranan Thik tidak lagi menampilkan imajinasi tentang dunia luar yang jauh di sans. Melainkan sesuatu yang intim, akrab, dan yang sudah lama dikenal.
Jaranan Thik, seperti halnya dilakukan Reyog, kini tengah membangun cerita tentang keaslian identitas dan situs sejarahnya di Ponorogo. Keduanya tidak harus dan memang tidak perlu dipertentangkan, lantaran Jaranan Thik memiliki situs sejarahnya sendiri, begitu pula Reyog. Lagi pula rekaman kisah Jaranan Thik ini nampaknya toh lebih merupakan semacam esensialisme strategic keluar dari marginalisasi, bukan? [Liputan oleh Ahmad Zainul Hamdi] Sumber: www.rumahkultura.com
DAFTAR PUSTAKA
http://desantara.org/v3.generated, 23 Desember 2008, 07: 59
www.rumahkultural.com, 8 November 2006
Iqro’

0 komentar:
Posting Komentar