Welcome to my blog :)

rss

07 Maret 2009

PERKEMBANGAN SEJARAH BUDAYA INDONESIA

PERUBAHAN MASYARAKAT DAN BUDAYA

PERKEMBANGAN SEJARAH BUDAYA INDONESIA

Mahluk hidup sudah ada di bumi sekitar 600.000.0000 tahun lalu. Mahluk hidup di alam mempunyai kemampuan untuk mempertahankan diri dan menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan hidupnya dengan melakukan evolusi

Segolongan hewan yang termasuk dalam golongan besar atau phylum chordata sudah muncul di bumi kira-kira 500 juta tahun silam.

1) Australopithecus

Yang dianggap sebagai mahluk cikal bakal manusia (species Homo erectus) adalah Australophitecus (kera dari selatan) yang ditemukan fosilnya dari afrika selatan pada tahun 1925. australophitecus termasuk famili hominidae dengan kapasitas otak rata-rata 250 cc, tinggi sekitar 125 cm, dan berat 25 kg. mahluk ini hidup di bumi sekitar 10 juta sampai 5 juta tahun yang lalu dan semua fosil-fosilnya ditemukan di Afrika timur dan Selatan. Ada 3 species dalam genus Australophitecus, yaitu Australophitecus Africanus, Australophitecus Robustus, Australophitecus Boisei, dengan penemuan ini maka terbukti bahwa nenek moyang manusia berasal dari Afrika bukan dari Asia.

2) Phitecanteropus

Subfamili lain dari famili hominidae ialah homininae yang muncul di bumi sejak 2,5 juta tahun yang lalu. Anggota-anggota dari sub famili ini sudah dapat berjalan dengan dua kaki dan dapat membuat alat-alat menurut tradisi tertentu. Tanganya sudah dapat menggengam dengan cermat, suatu hal yang mutlak diperlukan untuk membuat alat yang lebih teliti, juga volume otaknya sudah lebih besar dan tidak ada yang lebih rendah dari 750 cc.

Homininae terdiri atas dua generasi, Phitecanteropus dan homo. Genus Pithecanteropus sudah muncul dikala plestosen awal, homo baru di kala plestosen akhir. Pithecanteropus tinggi tubuhnya sudah sama dengan manusia sekarang dengan volume otak antara 750 – 1300 cc, tetapi kulit otaknya belum begitu berkembang dibandingkan dengan homo. Gigi-giginya sudah lebih kecil demikian juga rahang dengan otot kunyahnya dibandingkan dengan Australopithecus.

Phitecanteropus hidup antara 2.000.000 – 200.000 tahun yang lalu. Jenisnya yang hidup di Indonesia adalah Pithecanthropus Erectus dan Pithecantropus Soloensis (lebih maju). Phitecantropus terdiri atas beberapa species dan tersebar luas di dunia. Selain di Indonesia mereka hidup di China, Afrika, dan bahkan di Eropa. Pada zaman plestosen akhir pithecanteropus punah karena berevolusi kearah homo.

3) Homo Neanderthalensis

Homo yang sudah mempunyai otak yang lebih besar isinya antara 1000 – 2000 cc. kulit otak sudah berkembang lebih lanjut. Dengan demikian kemahiran tangan dan kepandaiannya telah membuat alat-alat berkembang pesat, struktur social makin kompleks dan bahasa sudah mulai digunakan. Kemahiran menggenggam dengan cermat sudah sempurna demikian juga dengan kemampuan berdiri tegak. Reduksi gigi, rahang, dan otot-otot kunyah bertambah sehingga terdapat dagu pada rahang bawah, wajah mundur kebawah tengkorak dan tonjolan-tonjolan tempat perekatan otot makin halus.

Ada dua jenis species genus homo, yaitu homo neanderthalensis dan homo sapiens, yang pertama mungkin sudah ada sejak 250.000 tahun lalu, sedangkan yang belakangan baru muncul kira-kira 40.000 tahun lalu homo neanderthalensis belum mengalami proses pemunggilan pada mukanya sehingga masih terdapat tonjolan yang besar pada bagian atas keningnya, tulang atap tengkoraknya masih lebih tebal dari manusia sekarang. Alat pengunyah juga belum dapat mereduksi lebih lanjut sehingga rahang, gigi, geraham, dan otot-otot masih besar. Kemampuan berbahasa masih pada permulaan sekali. Sampai saat ini tidak terdapat sisa-sisa homo neanderthalensis di Indonesia sampai sekarang. Temuan dari wajak (homo wajakensis )adalah homo sapiens

4) Homo Sapiens

Jika homo neanderthalensis mendiami Eropa, Asia, dan Afrika maka homo sapiens sudah mendiami semua benua di Bumi. Reduksi alat pengunyah umumnya sudah jauh sehingga gigi-giginya mereduksi dalam jumlah besar beserta tonjolannya. Rashan mengecil dan Tempat pelekatan otot-otot tidak kasar. Otaknya tidak begitu besar dari homo neanderthalensis, tetapi tonjolan diatas kening umumnya sudah lenyap. Struktur mulut, hidung, tenggorokan dan dasar tengkorak sudah memungkinkan komunikasi dengan bahasa.

Species ini terbagi lagio kedalam beberapa ras atau sub species. Ras adalah kelompok besar dalam suatu species yang memiliki bayak ciri-ciri yang sama, tetapi tidak cukup berbeda sehingga masih mampu saling berkembang biak. Diantara homo sapiens yang masih hidup sekarang, pada umumnya dikenal tiga ras pokok yang tersebar luas yaitu ; Mongoloid, Kaukasoid dan Negroid.

Perkembangan otak terjadi baik dalam ukuran maupun dalam struktur. dari Australophitecus ke phitecanthropus isi tengkorak menjadi berlipat dua. Dari pithecantropus ke homo membesar rata-rata 1,5 kali. Perkembangan yang terpenting dalam pembesaran otak pada manusia ialah membesarnya secara luar biasa bagian dahi dan samping. Hal ini berhubungan dengan perkembangan keinginan dan prakarsa serta pengendaliannya, kepribadian, daya simak, pemikiran dan asosiasi, serta integrasi pengalaman, dengan demikian sampailah kita pada perkembangan biososial manusia yang terpenting dalam aspek ini ada tiga hal, yaitu pembuatan alat, organisasi social, dan Komunikasi.

A. Perkembangan Jenis Kebudayaan Masyarakat Prasejarah

Kebudayaan telah ada sejak jaman dahulu. Ini membuktikan pada masa itu sudah ada kehidupan manusia sebagai pendukungnya. Hal ini dapat diketahui dengan diketemukannya alat-alat peninggalan prasejarah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Alat-alat tersebut menunjukkan pola-pola kehidupan masa lalu yang masih sangat primitif, yang kemudian mengalami perkembangan kearah taraf perbaikan.

Untuk mengetahui bagaimana kebudayaan awal di Indonesia dan perkembangannya berikut ini akan diuraikakn penggambaran cirri-ciri kehidupan masyarakat prasejarah.

  1. Ciri-ciri kehidupan masyarakat prasejarah

Pada jaman batu tua (PalaeoLithicum) penghidupan manusia merupakan pengembara yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain (nomaden). Mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap, melainkan berpindah-pindah tergantung pada binatang buruannya dan hasil tanah sekitarnya. Kehidupan mereka masih tergantung kepada alam. Dari hasil alat-alat yang ditemukan dapat diketahui sedikit tentang penggunaanya ialah untuk berburu, menagkap ikan dan mengumpulkan keladi,ubi,buah-buahan, dan lain-lain. Pada saat itu belum dikenal dengan bercocok tanam. Cara penghidupannya dengan mengumpulkan bahan-bahan makanan dari hasil berburu dan meramu (food gathering)

Berdasarkan hasil penelitian dari fosil-fosil yang ditemukan dapat diketahui bahwa pendukung kebudayaan palaeolithicum, yaitu:

  • Meganthropus Palaeo Javanicus (Manusia Raksasa Jawa Purba)

  • Pithecanthropus

  • Homo

Memasuki jaman batu tengah/ madya, pola-pola kehidupannya mengalami perubahan sebagian masyarakat sudah bertempat tinggal menetap di Gua-gua daerah pantai maupun di gua-gua pedalaman. Mata pencaharian mereka sudah memasuki tahap berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut

Pada zaman neolithicum masyarakatnya sudah mempunyai tempat tinggal yang tetap dengan mendirikan rumah di atas tiang yang dilengkapi dengan tiang (rumah tangga). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari binatang buas dan banjir. Dalam membangun rumah mereka kerjakan secara bergotong royong dan rumah tersebut dipakai untuk menampung beberapa keluarga inti. Mereka sudah membentuk masyarakat secara teratur dengan adanya pemilihan pemimpin dan kerja yang lebih kompleks, misalnya pertanian, peternakan dan sudah bias menghasilkan makanan sendiri (Food Producing).

Pendukung kebudayaan Neolithicum adalah bangsa Austronesia yang merupakan nenek moyang bangsa Indonesia, kebudayaan semakin berkembang pada zaman tersebut. Mereka sudah mengenal bercocok tanam tingkat lanjut dan pertanian sudah mengenal system perairan secara intensif

  1. Peralatan Yang Dipakai Masyarakat Prasejarah

Peralatan pada zaman batu dikerjakan secara kasar (tidak dihaluskan) hal ini terjadi karena pada waktu itu teknologi yang dikuasai manusia masih sangat sederhana, alat-alat yang dihasilkan tidak banyak ragamnya hanya berupa kapak tidak bertangkiai yang disebut chopper, kebudayaan yeng tertua di Indonesia digolongkan ke dalam dua golongan:

    1. kebudayaan Pacitan

    2. Kebudayaan Ngandong

Kebudayaan Pacitan berbentuk kapak genggam, sedangkan kebudayaan Ngandong alat-alatnya banyak terbuat dari tulang disamping kapak genggam dari batu. Ada di antaranya yang dibuat dari tulang binatang menjadi semacam alat penusuk (belati) dan ada juga yang terbuat dari tanduk rusa.

Kebudayaan Megalithicum (Batu Besar)

Kebudayaan Megalithicum ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar. Batu-batu ini biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapatkan bentuk yang diperlukan, adapun hasil dari kebudayaan megalithicum adalah:

a. Menhir

Bentuknya seperti tiang atau tugu yang didirikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang sehingga menjadi benda pujaan. Menhir ini mungkin pengaruh dari kebudayaan mesir kuno yaitu obelisk yang merupakan lambing dewa matahari. Menhir ini diketemukan di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.

b. Punden Berundak

Punden berundak merupakan bangunan batu yang bertingkat untuk digunakan sebagai pemujaan arwah nenek moyang. Dinamakan punden berundak karena bentuknya berundak seperti anak tangga. Bagian teratas dianggap paling suci. Punden berundak terdapat di Lebak Sibedug (banten Selatan) dan di lereng bukit yang di Jawa timur.

c. Dolmen

Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesajen untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen terdapat kuburan atau dipakai tempat untuk meletakkan mayat. Dolmen tersebut kemudian disebut kuburan batu. Dolmen ditemukan antara lain di daerah bondowoso.

d. Sarkofagus

Sarkofagus atau keranda batu bentuknya seperti lesung, tetapi mempunyai tutup dan terbuat dari batu. Didalamnya ditemukan mayat dan bekal kubur berupa periuk, kapak persegi, perhiasan, serta benda-benda perunggu dan besi. Sarkofagus banyak ditemukan di Bali, disana dianggap sebagai barang yang memiliki kekuatan magis.

e. Waruga

Kubur batu ini berbentuk kubus atau bulat. Waruga banyak ditemukan di daerah Sulawesi utara dan Sulawesi tengah.

f. Arca

Diantara arca-arca mungkin ada yang melambangkan nenek moyang dan menjadi pujaan. Kebanyakan dari arca itu melukiskan manusia dan binatang. Binatang yang digambarkan ialah gajah, kerbau, harimau, dan monyet. Arca-arca semacam itu banyak ditemukan di Sumatera Selatan (Pasemah) lampung, jawa tengah, dan jawa timur. Megalith yang terkenal adalah dataran tinggi Pasemah, disana terdapat patung-patung prajurit dengan topi logam (helm) dan balut-balut kaki yang menutupi betis sedang menunggangi kerbau atau gajah. Beberapa prajurit membawa nekara perunggu kecil pada punggungnya.

Penelitian Von Heine Gelderen menunjukkan bahwa di Nias berkembang kebudayaan Megalithicum Muda (neo Megalith). Hasil-hasil kebudayaannya dikerjakan lebih halus daripada kebudayaan megalith sebelumnya dan lebih bersifat prafan (Duniawi). Contohnya batu lompat, neo gade, sitilu bagi, meja untuk menari, dan kursi

SISTEM KEPERCAYAAN ZAMAN PRASEJARAH

Akulturasi kebudayaan Hindu – Buddha

Indonesia telah mengadakan hubungan dengan Asia sejak zaman prasejarah. Hal ini dapat diketahui dengan penyebaran alat-alat kebudayaan Neolithic dan Logam (kebudayaan Dongson). Pada jaman sejarah indonesia kuno sekitar abad I-XV pengaruh hindu dari India sangat dominan di Indonesia, pengaruh hindu masuk ke indonesia melalui hubungan dagang dengan India selatan. Dalam proses masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia, pada waktu itu masyarakat Indonesia sudah mempunyai kebudayaan yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kepercayaan (bentuk rumah di Jawa tengah), yaitu Joglo dan di Jawa timur seperti Srotong. Ciri khas kebudayaan kita masih tampak, meskipun budaya hindu telah mengalami percampuran dengan budaya Indonesia sehingga timbullah akulturasi Indonesia-Hindu

Berkembangnya pengaruh Hindu itu berlangsung secara damai dan yang menjadi tempat berkembangnya pengaruh hindu adalah pusat-pusat kerajaan, berdasarkan bukti bahwa yang menyebarkan pengaruh hindu adalah para Brahmana, hal ini dapat kita buktikan dengan berkembangnya bahasa sansekerta di Indonesia, dimana bahasa tersebut di India dipergunakan oleh kaum brahmana.

Pada zaman prasejarah sistem kepercayaan dari zaman megalithicum yang berdasarkan atas animisme, totemisme, dan dinamisme tetap berkembang, tetapi datang pengaruh dari India yaitu berupa agama Hindu dan Budha. Terjadilah asimilasi antara kepercayaan asli dengan agama hindu dan budha sehingga berkembanglah agama hindu dan budha yang bercorak khas Indonesia. Dalam seni bangun keagamaan pun, seni bangun candi sangat dipengaruhi oleh seni bangun punden berundak dari zaman megalithicum. Arca-arca nenek moyang yang terdapat di candi, perwajahannya dilukiskan sebagai dewa-dewa hindu dan budha demikian juga permainan wayang yang merupakan upacara pemujaan arwah telah diberi cerita Ramayana dan Mahabarata.

1). Agama Hindu

Agama hindu berintikan pemujaan kepada banyak dewa yang masing-masing memiliki kekuatan alam. Diantara dewa-dewa itu yang paling terkemuka adalah trimurti yaitu tiga dewa antara lain: Brahma (pencipta), Wisnu (Pemelihara), Siwa (Perusak).

Masyarakat Hindu dibagi atas empat Kasta (catur warna), yaitu :

  1. Brahmana (para pendeta)

  2. Ksatria (raja dan bangsawan)

  3. Waisya (pedagang dan buruh menengah)

  4. Sudra (petani dan buruh kecil, juga budak)

2). Agama Buddha

pada mulanya agama budha merupakan suatu ajaran yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari lingkaran samsara (penderitaan) dan mencapai moksa, dalam usaha mendapatkan jalan menuju moksa agama budha menempuhb jalan sendiri. Bahasa suci agama budha adalah bahasa pali yang mula-mula merupakan bahasa daerah magadha. Kitab suci agama budha disebut Tripitaka (3 keranjang), disebut demikian karena terdiri atas tiga himpunan yang masing- masing berisi pokok ajaran agama Buddha.

Ketiga pitaka itu adalah:

  1. Winayapitaka, kitab yang berisi segala macam peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup pemeluknya.

  2. Sutrantapitaka, kitab ini berisi wejangan-wejangan sang Buddha.

  3. Abhidharmapitaka, kitab ini beriisi penjelasan dan kupasan mengenai soal keagamaan.

Pendiri agama Budha adalah Sidharta yaitu putra raja kapilawastu, Sudhodana dengan permaisuri Maya yang lahir 563 SM. Ia telah meninggalkan istana untuk menjadi pendeta sehingga disebut Sakyamuni (pendeta dari keluarga sakya). Ketika bersemedi di Bawah pohon yang nantinya disebut pohon bodhi di desa Gaya, Sidharta memperoleh bodhi atau kebangunan (kesadaran yang sempurna) pada bulan purna waisaka (April-Mei)

Budha mengajar pertama kali di taman rusa di desa Sarnath, benares. Ia mengajar selama 45 tahun sampai wafatnya di usia 80 tahun di kusinagara (483 SM). Keempat kota tempat terjadinya peristiwa penting dalam kehidupan Budha Gautama dijadikan kota suci, yaitu kapilawastu, Bodhgaya, Sarnath (Banares), dan Kusinagara, serta mejadi tujuan ziarah penganut Budha.




DAFTAR PUSTAKA

  1. Soekmono, R.tt. 1988. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta:Kanisius

  2. Aris Tanudirjo, Daud. 1993. Sejarah Perkembangan Budaya di Dunia dan di Indonesia. Yogyakarta:Widya Utama

0 komentar: