BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di era komunikasi sekarang ini, notebook atau yang lebih keren laptop sudah tidak hanya menjadi gaya hidup lagi dan telah beralih fungsi menjadi sebuah kebutuhan. Bahkan bagi pelajar sudah dituntut untuk menguasai komputer. Terbukti dengan adanya pelajaran Teknologi Informatika bagi siswa SMP maupun SMA. Seperti pada siswa Akselerasi yang notabane berbeda dengan kelas lain, dimana waktu belajar yang mereka tempuh hanya 2 tahun, notebook sangat dibutuhkan sebagai penunjang kegiatan belajar.
Apalagi siswa akselerasi dituntut menguasai materi lebih cepat, sehingga para guru “sedikit” mengubah cara mengajar di kelas. Para siswa dituntut aktif dalam mengerjakan tugasnya dalam bentuk file sehingga lebih praktis, mudah serta cepat. Tugas tersebut harus diketik secara rapi dalam bentukan file microsoft word atau powerpoint. Sehingga dibutuhkan notebook sebagai sarana mengerjakan tugas dengan cepat dan dapat dikerjakan dimana saja apalagi siswa aksel juga harus beberapa ekstrakurikuler yang banyak menyita waktu. Dengan adanya notebook mereka dapat memanfaatkan waktu seminim mungkin untuk mengerjakan tugasnya.
Selain bagi siswa akselerasi notebook juga dibutuhkan bagi guru yang mengajar kelas karena notebook bisa menjadi sarana pembelajaran yang edukatif dan komunikatif yang mengharapkan agar siswa akselerasi tidak merasa bosan dalam KBM. Di kelas Akselerasi disediakan notebook bagi guru yang mengajar yang dihubungkan dengan LCD dan layar yang biasa digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam bentuk powerpoint, word maupun macromedia flash.
Di sekolah favorit sudah menggunakan internet sebagai salah satu penunjang kegiatan belajar mengajar dengan menetapkan area hotspot di sekolah, dimana siswa dapat mengakses internet secara bebas di notebook masing-masing. Saat ini internet merupakan salah satu sumber pengetahuan yang lebih luas dari pada buku pelajaran, aksesnya pun cepat dan mudah.
Namun dibalik semua itu tetap terdapat suatu pertanyaan apakah keberadaan notebook di kelas memang merupakan suatu kebutuhan atau hanya menjadi suatu tuntutan gaya hidup saja. Seperti halnya di kelas Akselerasi apakah siswa benar-benar membutuhkan atau untuk mengikuti tren di sekolah lain yang sudah maju. Hal itulah yang melatarbelakangi kami untuk menyusun karya tulis yang berjudul Peran Notebook Dalam Kelas Akselerasi di MAN Kota Kediri 3 Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup.
I.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimana kegiatan belajar mengajar di kelas akselerasi?
Bagaimana peran notebook dan komputer dalam menunjang kegiatan belajar mengajar siswa Akselerasi?
Apa keuntungan yang dirasakan oleh guru dan siswa dengan adanya perangkat multimedia, notebook/komputer sebagai penunjang KBM di kelas Akselerasi?
Bagaimana cara siswa akselerasi memanfaatkan notebook sebagai penunjang belajar?
Apakah siswa Akselerasi memiliki notebook karena tuntutan gaya hidup?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Untuk menganalisa bagaimana kegiatan belajar mengajar di kelas akselerasi.
Untuk mengetahui peran notebook dalam menunjang kegiatan belajar mengajar siswa akselerasi
Untuk mengetahui keuntungan apa yang dirasakan guru dan murid dalam menggunakan multimedia, notebook/komputer sebagai penunjang KBM siswa akselerasi.
Untuk mengetahui bagaimana cara siswa akselerasi dalam memanfaatkan notebook sebagai penunjang belajar.
Untuk mengetahui keberadaan notebook di kelas Akselerasi merupakan suatu kebutuhan atau hanya tuntutan gaya hidup.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitihan yang berjudul “Peran Notebook Dalam Kelas Akselerasi di MAN Kota Kediri 3 Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup” ini diharapkan memiliki kontribusi penting bagi berbagai pihak antara lain sebagai berikut:
Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi “modal telaah” dalam mengupas tentang keberadaan notebook di dalam kelas Akselerasi yang sudah digunakan di beberapa sekolah maju. Demikian juga diharapkan dapat menjadi informasi yang bermanfaat untuk menunjang kegiatan belajar mengajar ke depannya.
Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi sekaligus pertimbangan tentang keberadaan notebook di tengah kelas Akselerasi. Apakah siswa memang benar-benar membutuhkannya atau hanya mengikuti sekolah yang sudah maju.
Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi untuk mengembangan sikap siswa terhadap keberadaan notebook di dalam kelas serta sikap menerima notebook sebagai suatu perkembangan teknologi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kelas Akselerasi
Akselerasi (Acceleration) secara singkat diterjemahkan dengan “Percepatan”. Semiawan C (1997) membagi 2 (dua) pengertian Akselerasi yaitu:
Pengertian Pertama : Akselerasi sebagai model layanan pembelajaran dengan cara lompat kelas, misalnya bagi siswa berbakat yang memiliki kemampuan unggul diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran pada kelas yang lebih tinggi.
Pengertian kedua tentang Akselerasi menunjuk pada peringkasan program, sehingga dapat dijalankan dalam waktu lebih cepat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menganalisis materi pelajaran dengan mencari materi yang esensial dan kurang esensial.
“Pengertian acceleration menurut Pressey (1949) suatu kemajuan yang diperoleh dalam program pengajaran, pada waktu yang lebih cepat atau usia yang lebih muda daripada yang konvensional”
Sedangkan menurut para Ahli program akselerasi pelajaran adalah percepatan pelajaran bagi peserta didik yang cerdas. Yang melampaui usianya. (Hawadi, Reni Akbar, DR—2004.)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas Akselerasi adalah kelas dimana peserta didik mendapatkan pelajaran di usia yang lebih tua tetapi dengan kecerdasannya yang melalui ujian tertentu dan proses pendidikan akselerasi dianggap mampu menyelesaikan pelajaran yang harusnya diberikan pada anak beberapa tahun lebih tua dari padanya. Contohnya anak kelas tiga SD setelah melalui program akselerasi anak tersebut mungkin memenuhi syarat untuk diberikan pelajaran kelas lima atau kelas enam SD.
Penerapan program akselerasi sendiri didasarkan undang-undang yaitu undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional pasal 8 ayat 2. (http://www.cedana.wed.id)
Melalui program akselerasi, anak akan mendapat keuntungan, karena memperoleh bantuan pengajaran seusai dengan bakat dan intelektualnya. Dengan program percepatan diharapkan siswa berbakat tidak bosan dikelas, sehingga tidak menganggu, mengacau kelas, dan anak dapat maju terus dengan cepat.
Namun dipihak lain, tak sedikit yang berpendapat bahwa kelas akselerasi justru membuat siswa tidak bisa mengembangkan kemampuan sosialisasi mereka. Dalam pandangan mereka, anak-anak berbakat itu tak beda dengan anak pada umumnya yang membutuhkan lingkungan bergaul yang sepadan dengan emosi anak. Anak-anak itu juga membutuhkan penghargaan, perwujudan diri, dan pendidikan nilai kemanusiaan.
Di Kediri sendiri sekolah yang mengadakan program akselerasi baru 3 sekolah yaitu SMAN 1 Kediri, MTs Ar-Rahmah dan MAN Kota Kediri 3.
2.2 Notebook
Komputer jinjing (populer dalam bahasa Inggris: laptop, notebook, atau powerbook) adalah komputer bergerak yang berukuran relatif kecil dan ringan, beratnya berkisar dari 1-6 kg, tergantung ukuran, bahan, dan spesifikasi laptop tersebut.
Sumber daya komputer jinjing berasal dari baterai atau adaptor A/C yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai dan menyalakan laptop itu sendiri. Baterai laptop pada umumnya dapat bertahan sekitar 1 hingga 6 jam sebelum akhirnya habis, tergantung dari cara pemakaian, spesifikasi, dan ukuran baterai.
Sebagai komputer pribadi, laptop memiliki fungsi yang sama dengan komputer destop (desktop computers) pada umumnya. Komponen yang terdapat di dalamnya sama persis dengan komponen pada destop, hanya saja ukurannya diperkecil, dijadikan lebih ringan, lebih tidak panas, dan lebih hemat daya. Komputer jinjing kebanyakan menggunakan layar LCD (Liquid Crystal Display) berukuran 10 inci hingga 17 inci tergantung dari ukuran laptop itu sendiri. Selain itu, papan ketik yang terdapat pada laptop juga kadang-kadang dilengkapi dengan papan sentuh yang berfungsi sebagai "pengganti" tetikus. Papan ketik dan tetikus tambahan dapat dipasang melalui soket USB maupun PS/2 jika tersedia.
Berbeda dengan komputer destop, komputer jinjing memiliki komponen pendukung yang didesain secara khusus untuk mengakomodasi sifat komputer jinjing yang portabel. Sifat utama yang dimiliki oleh komponen penyusun laptop adalah ukuran yang kecil, hemat konsumsi energi, dan efisien. Komputer jinjing biasanya berharga lebih mahal, tergantung dari merek dan spesifikasi komponen penyusunnya, walaupun demikian harga komputer jinjing pun semakin mendekati destop seiring dengan semakin tingginya tingkat permintaan konsumen. (www.wikipedia.org)
2.3 Sistem Pendidikan Nasional
Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia lndonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Sistem pendidikan juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berkeinginan untuk maju. Iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri sendiri dan budaya belajar di kalangan masyarakat terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif, dan berorientasi ke masa depan.
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Berdasarkan pada Undang-undang tersebut, sistem pendidikan nasional dibedakan menjadi satuan pendidikan, jalur pendidikan, jenis pendidikan, dan jenjang pendidikan.
2.3.1 Satuan Pendidikan
Satuan pendidikan (sekolah atau luar sekolah) menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah.
2.3.2 Jalur Pendidikan
Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan. Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.
2.3.3 Jenis Pendidikan
Sistem pendidikan nasional terdiri dari tujuh jenis pendidikan yaitu pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional. Pendidikan umum merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan luar biasa merupakan pendidikan yang khusus diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau mental.
Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu Departemen atau Lembaga Pemerintah Nondepartemen. Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan.
Pendidikan akademik merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan profesional merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu.
2.3.4 Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas: Pendidikan Dasar; Pendidikan Menengah; dan Pendidikan Tinggi. Selain jenjang pendidikan di atas, diselenggarakan pendidikan prasekolah. Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah baik di lembaga pemerintah, nonpemerintah, maupun sektor swasta dan masyarakat.
Pendidikan Dasar merupakan pendidikan sembilan tahun terdiri atas program pendidikan enam tahun di sekolah dasar dan program pendidikan tiga tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari dua jenis sekolah yang berbeda yaitu sekolah umum dan sekolah keterampilan. Pendidikan Dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.
Pendidikan Dasar merupakan pendidikan wajib belajar yang memberikan para siswa dengan pengetahuan dan keterampilan. Sebagai tambahan pada pendidikan dasar, terdapat Madrasah Ibtidaiyah, yang setingkat dengan Sekolah Dasar dan Madrasah Tsanawiyah yang setingkat dengan sekolah Lanjutan Tingkat Pertama umum yang berada di bawah pengelolaan Departemen Agama.
Pendidikan Menengah disiapkan untuk lulusan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan dan pendidikan keagamaan. Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Lama pendidikan tiga tahun untuk sekolah umum dan tiga atau empat tahun untuk sekolah kejuruan.
Sebagai tambahan pada sekolah menengah, terdapat Madrasah Aliyah yang setingkat dengan sekolah menengah umum yang berada dalam pengelolaan DepartemenAgama.
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan dari pendidikan menengah yang terdiri dari pendidikan akademik dan profesional. Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Lama pendidikan tinggi tiga tahun untuk program diploma atau empat tahun untuk program sarjana. Sesudah tingkat sarjana dapat meneruskan ke program Pascasarjana selama dua tahun dan dapat meneruskan ke program Doktor tiga tahun kemudian.
Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar dilingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Pendidikan prasekolah antara lain meliputi pendidikan Taman Kanak-kanak, terdapat di jalur sekolah, dan Kelompok Bermain, serta Penitipan Anak di jalur luar sekolah. Taman Kanak-kanak diperuntukan anak usia 5 dan 6 tahun untuk satu atau dua tahun pendidikan, sementara kelompok bermain atau penitipan anak diperuntukan anak paling sedikit berusia tiga tahun.
Jenis pendidikan luar sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan keagamaan, pendidikan jabatan kerja, pendidikan kedinasan, dan pendidikan kejuruan. Pendidikan luar sekolah dapat meliputi kursus-kursus, kelompok belajar seperti Paket A, Paket B, dan Kejar Usaha dan kegiatan lainnya seperti magang (http://smka-smr.sch.id)
BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan untuk memperoleh gambaran secara nyata terhadap peran “notebook” dalam menunjang kegiatan belajar mengajar siswa akselerasi serta keberadaannya di kelas Akselerasi, apakah benar-benar dibutuhkan atau hanya sebagai tuntutan gaya hidup.
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini membutuhkan waktu selama 3 bulan terhitung mulai awal bulan Oktober 2008 sampai awal bulan Januari 2009.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas Akselerasi di MAN Kota Kediri 3.
Sampel
Penelitian ini menggunakan sampel semua anak Akselerasi di MAN Kota Kediri 3 yang mempunyai notebook.
Informan Penelitian
Guru yang mengajar di kelas Akselerasi.
Desain Penelitian
Dengan menggunakan angket yang daftar pertanyaannya disesuaikan dengan macam data yang dibutuhkan, keterangan tersebut dirinci pada tabel di halaman selanjutnya.
Tabel 1. Rincian Data dan Nomor Soal pada Kuisioner
-
No.
Data
Nomor Soal
1.
Keberadaan notebook di kelas akselerasi
1, 2
2.
Intensitas penggunaan notebook
3
3.
Penggunaan dalam pelajaran
4
4.
Alasan pentingnya notebook sehubungan dengan pelajaran
5, 6
5.
Keuntungan dengan adanya notebook
7
6.
Keinginan untuk memiliki notebook
8
7.
Alasan ingin memiliki notebook
9
Tabel 2. Rincian Data dan Nomor Soal pada Angket Guru
| No | Data | Nomor Soal |
| 1. | Perlunya notebook bagi kelas Akselerasi | 1 |
| 2. | KBM di kelas Akselerasi yang efektif | 2 |
| 3. | Keuntungan adanya perangkat Multimedia | 3 |
3.6 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data ( Arikunto, 2005:102-10103 ).
Penelitian diawali dengan mendefinisikan dan merumuskan permasalahan yang akan diteliti. Setelah itu dilakukan pelaksanaan penelitia dengan cara Studi Pustaka (Library Research) untuk mendapatkan data dan informasi yang berhubungan dengan penelitian ini. Selanjutnya dilakukan penelitian lapangan (Field Research) untuk mengumpulkan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik:
Angket
Angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna ( Arikunto, 2005 102-103). Penelitian ini menggunakan angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk penelitian ini. Angket yang kami gunakan meliputi angket terbuka dan angket tertutup.
Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si peneliti dengan objek penelitian. (Idianto Muin, 2006:147)
Metode wawancara atau tanya jawab dilakukan langsung dengan narasumber terpilih yang digunakan untuk menggali informasi yang dibutuhkan.
Observasi
Observasi (pengamatan langsung) merupakan metode pengumpulan data dengan mengamati secara langsung di lapangan. Mengamati bukan hanya melihat, melainkan juga merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian-kejadian yang ada. (M. Sitorus, 2003:36)
Dalam penelitian ini pengamatan dilakukan pada kelas Akselerasi dengan mengamati secara langsung kegiatan yang dilakukan oleh para siswa.
Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan bukti-bukti dan keterangan-keterangan seperti gambar, kutipan, dan bahan refensi lain yang kami dapatkan dari buku-buku pelajaran, buku ilmu pengetahuan maupun literatur dari internet.
Teknis Analisis Data
Adapun metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis, yaitu dengan melakukan interprestasi secara kualitatif terhadap data yang telah didapat dengan bantuan tabel frekuensi dan persentase.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Profil MAN Kota Kediri 3
Sejarah Singkat MAN Kota Kediri 3
MAN Kota Kediri 3 terletak di Jl. Letjend Soeprapto No. 58 Kota Kediri. Dahulu bernama SGAI yang setahun kemudian diubah namanya menjadi Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGAP N), yang kemudian, namanya diubah lagi menjadi Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Kediri pada tahun 1960.
PGAN Kediri, pindah ke gedung baru, Jl. Letjend. Soeprapto no 48 pada tahun pelajaran 1966-1967. Berdasarkan SK. Mentri agama. No. 16 dan 17/1978, pada tanggal 16 Maret 1978, kelas 1, 2 dan 3 PGAN 4 thn berubah menjadi Tsanawiyah sedangkan eks PGAN 6 tahun menjadi PGA.
Mulai 1 Juli 1992 tepatnya tahun ajaran 1990/1991 secara resmi PGAN Kediri dialihfungsikan menjadi MAN 3 Kediri. Alih fungsi ini berdasarkan SK. Mentri agama. RI tanggal 27 Januari 1992 no 42. Sebagai Kepala MAN 3 Kediri pertama kali adalah Bpk. Drs. H. Soeparno.
Sejak alih fungsi PGAN Kediri menjadi MAN 3 Kediri, tepatnya pada bulan Juli 1992, sekolah ini telah mengalami banyak penyempurnaan dan kemajuan yang sangat pesat, apalagi setelah sekolah yang beralamat di Jl. Letjen Suprapto no 58 ini termasuk salah satu dari 25 Madrasah Aliyah yang terpilih dalam program peningkatan mutu pendidikan Kontrak Prestasi tahun 2007 di seluruh Indonesia.
Kemajuan MAN 3 Kediri yang semakin membanggakan bisa dilihat dari sarana pembelajaran yang modern, fasilitas fisik yang lengkap, program-program madrasah yang dapat diunggulkan, prestasi sekolah maupun siswa di berbagai event perlombaan tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional.
Keadaan dan Lingkungan Sekolah
Identitas Sekolah
1. Nama Sekolah : Madrasah Aliyah Negeri Kota Kediri 3 (MAN Kota Kediri 3)
2. Alamat Madrasah :
a. Jalan : Jl. Letjend. Supraprto 58 Kediri
b. Desa : Banjaran
c. Kecamatan : Kota
d. Kota : Kediri
e. Propinsi : Jawa Timur, Kode Pos : 64124
f. Nomor Telepon : (0354) 687876
g. Fax : (0354) 691771
h. E-mail : man_3_kdr@yahoo.co.id
3. NSM : 31135702036
4. Tahun Berdiri : 1992
5. Nama Kepala Madrasah (Tahun 2007-….) : Drs. H. ABU AMAN
4.1.2.2 Data Guru dan Pegawai
Jumlah guru dan pegawai pada tahun 2007/2008 :
a. Guru Tetap : 49 orang
b. Guru Tidak Tetap : 21 orang
c. Pegawai Tetap : 2 orang
d. Pegawai Tidak Tetap : 16 orang
Jumlah : 88 orang
Sumber : Arsip Madrasah Aliyah Negeri 3 Kediri
MAN 3 Kediri memiliki beberapa ciri yang dimiliki madrasah negeri ini, yang hampir sama dengan madrasah-madrasah yang lain, yaitu kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan mulai pukul 07.45 – 13.30 dari pelajaran–pelajaran agama dan pelajaran–pelajaran umum selama satu minggu (6 hari).
Pelajaran – pelajaran agama meliputi:
Aqidah Akhlak
Qur’an Hadits
Bahasa Arab
Fiqih
SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)
Sedangkan pelajaran – pelajaran umum meliputi:
Matematika
Teknologi Informatika dan Komunikasi ( TIK )
Kewarganegaraan
Biologi
Geografi
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan ( PENJASKES )
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Kimia
Kesenian
Ketrampilan IPA Terapan
Fisika
Sosiologi
Sejarah
Akuntansi
Ekonomi
Bahasa Asing
Kewirausahaan
(Iqro’. 2006. hal 27-28.)
Beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang sekarang ini aktif dikembangkan oleh para siswa-siswi MAN 3 Kediri adalah sebagai berikut:
SKI (Study Kerohanian Islam)
KIR (Kelompok Ilmiah Remaja)
Pers Jurnalistik
Pramuka
Teater
Olahraga
Pecinta Alam
TPQ (Taman Pendidikan Al-Qura’an)
Kesenian
10. PMR (Palang Merah Remaja)
11. KOPSIS (Koperasi Siswa)
12. PKS (Patroli Keamanan Sekolah)
(Iqro’. 2007. hal 30-33)
Kegiatan Belajar Mengajar Kelas Akselerasi
Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia lndonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (http://smka-smr.sch.id)
Sepertihalnya kelas yang lainnya, kelas Akselerasi bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memilki sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif, dan berorientasi ke masa depan. Namun bedanya kelas Akselerasi menyingkat satu semester yang normalnya ditempuh selama 6 bulan disingkat menjadi 4 bulan. Sehingga kelas Akselerasi berbeda dengan kelas lainnya. Disini guru harus lebih aktif dalam mengajar siswa.
Kegiatan belajar mengajar di kelas Akselerasi juga berbeda Kegitan belajar mengajar di kelas Akselerasi berbeda dengan kelas Reguler, perbedaannya pada saat menerangkan materi pelajaran biasa menggunakan multimedia sebagai penunjang pembelajaran sehingga siswa dapat secara langsung menyaksikan tayangan tersebut. Sedangkan di kelas regular siswa harus bergantian untuk menggunakan fasilitas multimedia. Selain itu pada saat presentasi siswa akselerasi lebih bisa menangkap materi karena ditunjang dengan adanya komputer, LCD, dan speaker.
Sedangkan menurut Bapak/Ibu Guru kelas Akselerasi Kegiatan Belajar Mengajar bagi siswa Aksel antara lain:
Diperlukan modul dan pemadatan pelajaran yang disertai penambahan jam pelajaran,
Siswa yang sudah mempunyai notebook tinggal memahami pelajaran melalui media itu serta ditambah cara belajar konversional (guru menjelaskan siswa memperhatikan),
Sering diskusi, debat materi antara guru dan siswa dan tidak lagi mencatat pelajaran dengan adanya notebook,
Hanya pelajaran UN saja yang diajarkan dan yang lainnya tinggal menyesuaikan,
Mengarah pada”Student Learning Centered” sehingga siswa lebih aktif dan guru sebagai fasilitator pembelajaran,
Dapat menciptakan KBM yang kondusif dan tidak memberatkan siswa Akselerasi serta dibutuhkan pemantauan Konselor atau BP yang lebih khusus,
Siswa harus mampu bekerjasama dengan temannya serta para pelajar harus berkoordinasi dengan komponen lain yang terdapat di dalamnya,
Interatif antara guru dan murid. (Wawancara, 25 November 2008)
Peran Notebook Dalam Menunjang Kegiatan Belajar Mengajar Siswa Akselerasi
Sebagian besar siswa Akselerasi mengaku mempunyai notebook maupun komputer dalam menunjang kegiatan belajar maupun tugas yang diberikan oleh guru.
Data kepemilikan notebook maupun komputer dari 23 siswa Akselerasi dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 3. Jumlah Kepemilikan Notebook/Komputer
-
No
Kepemilikan
Jumlah
1.
2.
Punya
Tidak Punya
15
8
Data yang menunjukkan 15 siswa yang memilki notebook maupun komputer. Sedangkan jumlah siswa yang memiliki notebook ada sekitar 6 siswa.
Dari 23 siswa Akselerasi yang mengaku pernah membawa notebook ke kelas dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 4. Keberadaan di Sekolah
-
NO
Membawa ke Sekolah
Jumlah
1.
2.
Pernah
Tidak Pernah
4
19
Dari 6 siswa yang memiliki notebook hanya 4 siswa yang mengaku pernah membawanya notebooknya ke sekolah, hal itu karena sebagaian siswa merasa tidak enak apabila membawa dan memakai notebook ke sekolah sedangkan siswa lainnya tidak memakainya.
Dalam menyelesaikan tugas tak jarang mereka dituntut harus mengerjakan dalam bentuk file word maupun presentasi powerpoint karena dianggap lebih efisien dan mudah diterima serta tidak menjemukkan.
Intensitas pengerjaan tugas dalam bentuk file dalam seminggu dapat dilihat pada table di bawah ini:
Tabel 5. Intensitas Pengerjaan Tugas dengan Notebook/Komputer
-
NO
Intensitas
Jumlah
1.
2.
3.
4.
2 Kali
Lebih dari 3 kali
Sering (tidak menentu)
Jarang
2
1
16
3
Siswa Akselerasi dituntut aktif dalam mengerjakan tugas-tugas, dan tak jarang para guru menyuruh mereka mengerjakan tugas dalam bentuk file. Intensitas pengerjaan tugas dalam bentuk file tidak dapat ditentukan namun mereka mengaku sering mendapat tugas tersebut.
Sedangkan pelajaran yang biasa menuntut siswa dalam mengerjakan tugas dalam bentuk file/print dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 6. Pelajaran dengan Tugas dalam Bentuk File
-
NO
Mata Pelajaran
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Bahasa Indonesia
Biologi
TIK
35
40
25
Sedangkan mata pelajaran yang sering menuntut mereka mengerjakan tugas dalam bentuk file adalah pelajaran Biologi, Bahasa Indonesia dan disusul dengan pelajaran TIK.
Pada pelajaran biologi kadang mereka harus mengumpulkan tugas yang didapat dari internet dan dikumpulkan dalam bentuk file word atau dalam bentuk print. Sedangkan pada pelajaran Bahasa Indonesia mereka biasa mengerjakan tugas karangan yang harus diketik rapi dan di print. Berbeda dengan tugas mata pelajaran TIK karena waktu mereka yang singkat mereka harus rela mengerjakan tugas TIK di rumah dan kemudian dikumpulkan dalm bentuk file sebagai syarat mendapatkan nilai.
Sebagian siswa mengatakan bahwa keberadaan notebook di kelas sangat diperlukan sebagai penunjang KBM. Namun beberapa siswa juga ada yang menyatakan bahwa notebook belum terlalu diperlukan bagi siswa Akselerasi.
Table pendapat siswa Akselerasi mengenai keberadaan notebook dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 7. Pendapat siswa Akselerasi mengenai keberadaan Notebook
-
NO
Pendapat
Jumlah
1.
2.
3.
Perlu
Tidak Perlu
Kurang Perlu
19
-
4
Beberapa siswa yang menyatakan bahwa notebook belum perlu karena notebook dikhawatirkan akan membuat siswa menyalahartikan keberadaan notebook pada jam kosong sehingga tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru. Selain itu diperlukan fasilitas hotspot dalam menunjang keberadaan notebook sedangkan di MAN Kota Kediri 3 belum tersedia sehingga kurang diperlukan notebook.
Adapun alasan perlunya notebook menurut siswa Akselerasi antara lain:
Memperluas pengetahuan dengan Teknologi Informasi,
Memudahkan mengerjakan tugas, bertukar data dan diskusi,
Mempermudah pembelajaran yang monoton sehingga belajar menjadi tidak membosankan atau menjenuhkan,
Menghemat waktu karena siswa tidak perlu menulis, tinggal mempelajari dari notebook masing materi yang dibuatkan guru,
Dapat digunakan untuk mengakses internet bila area hotspot diterapkan di MAN Kota Kediri 3,
Banyaknya tugas yang pengerjaanya menggunakan notebook atau komputer, selain itu beberapa guru biasa mengajar menggunakan multimedia sehingga bisa dikopi dan dipelajari lagi dirumah. (Wawancara, 25 November 2008)
Tabel 8. Pendapat Guru kelas Akselerasi mengenai keberadaan Notebook
-
NO
Pendapat
Jumlah
Prosentase
(%)
1.
2.
3.
4.
Perlu
Tidak Perlu
Belum Perlu
Tidak berpendapat
6
-
3
1
60
-
30
10
Adapun alasan perlunya notebook bagi siswa Akselerasi menurut Guru kelas Aksel antara lain:
Karena diperlukan peran Informasi dan Komunikasi sebagai salah satu pembelajaran karena banykanya materi pelajaran yang dipadatkan,
Diperlukan referensi dari internet yang bisa langsung di download ke dalam notebook masing-masing sebagai media pembelajaran,
Banyak software pembelajaran yang jika dipakai / diinstal akan membantu proses pembelajaran siswa Aksel,
Banyak membantu proses pengerjaan dan penyelesaian tugas-tugas dari guru,
Diperlukan media pembelajaran komunikatif yang akan memperkaya siswa dalam menyerap ilmu dengan waktu yang begitu singkat,
Agar siap materi belajarnya dan diformulasi yang efektif efisien (seperti universitas terbuka),
Diperlukan efektifitas pengajaran dimana waktu siswa tidak akan habis hanya untuk mencatat materi. (Wawancara, 25 November 2008)
Beberapa guru yang berpendapat bahwa siswa MAN Kota Kediri 3 belum memerlukan notebook karena materi yang diajarkan guru tergantung pada sikap siswa untuk lebih berhasil tanpa tergantung pada notebook, selain itu pada mata pelajaran tertentu seperti matematika misalnya dikhawatirkan mereka akan “copy paste” sehingga keberadaan notebook malah tidak efektif.
Keuntungan yang Dirasakan Guru dan Siswa dengan Adanya Mutimedia, Notebook/Komputer sebagai Penunjang KBM
Dengan adanya perangkat Multimedia di kelas membuat setiap guru serta siswa bebas memanfaatkannya sebagai penunjang KBM, seperti sebagai alat untuk memutar video yang berhubungan dengan materi yang diajarkan, alat penunjang ketika presentasi dan kegunaan lainnya.
Beberapa pendapat Guru mengenai keberadaan perangkat Multimedia di kelas serta adanya notebook sebagai penunjang KBM di kelas Akselerasi antara lain:
Mempermudah menyimpan data, mempercepat akses data yang diperlukan,
Efisien apabila materi yang ditampilkan cukup panjang (tanpa menulis), karena dapat ditampilkan dalam bentuk slide apalagi jika harus menampilkan gambar yang cukup rumit,
Sebagai variasi pembelajaran sehingga siswa tidak jenuh serta mempercepat transfer informasi dan komunikasi,
Sebagai media Audio visual yang paling efektif sehingga siswa lebih tertarik, hemat waktu dan hemat tenaga. (Wawancara, 25 November 2008)
Sebagian besar guru mengatakan bahwa multimedia merupakan pembelajaran yang efektif namun ada pula yang mengatakan bahwa pada mata pelajaran tertentu tidak diperlukan peran multimedia namun diperlukan situasi belajar yang konduktif dulu dan tidak ada hubunganya dengan multimedia.
Seperti pendapat para dewan guru mengenai keuntungan adanya multimedia di kelas, beberapa siswa juga sebagian besar berpendapat sama bahwa pembelajaran dengan multimedia membuat mereka lebih mudah menguasai materi, waktu yang diperlukan menjadi lebih cepat serta tidak membosankan. Selain itu mereka juga dapat mencopi materi yang diajarkan guru sehingga dapat dipelajari lagi dirumah.
Cara Siswa Akselerasi Memanfaatkan Notebook Sebagai Penunjang Kegiatan Belajar Mengajar
Beberapa guru yang kurang setuju dengan adanya notebook bagi setiap anak siswa Akselerasi mengatakan bahwa dikhawatirkan apabila notebook yang mereka bawa sebagai penunjang KBM malah disalahartikan dengan digunakan sebagai mainan karena sebelumnya mereka sudah membaca pelajaran yang disampaikan guru pada waktu itu. Jadi mereka merasa mampu dan tidak memperhatikan lagi pelajaran dengan bermain game di notebook.
Adapun yang dilakukan siswa Akselerasi dengan notebook yang mereka miliki dapat dilihat pada table dibawah ini:
Table 9. Kegiatan yang dilakukan siswa dengan Notebook
-
NO
Kegiatan
Prosentasi (%)
1.
2.
3.
4.
5.
Memanfaatkan dengan sebaik-baiknya
Mengerjakan tugas dan mencatat pelajaran
Browsing dan mendownload
Mencopi materi dari guru
Refresing
32
34
14
14
4
Dari data di atas dapat diketahui bahwa notebook sangat diperlukan bagi siswa Akselerasi. Mereka dapat juga menggunakannya sebagai alat untuk browsing materi-materi pelajaran apabila area hotspot jadi diterapkan di MAN Kota Kediri 3. Namun tak dapat dielakkan mereka juga ingin memanfaatkan notebook sebagai media refresing ketika jenuh dengan pelajaran yang monoton. Tetapi hanya sebagian kecil yang berpendapat begitu.
4.6 Faktor Keberadaan Notebook di Kelas Akselerasi
Saat ini notebook bukan lagi menjadi sesuatu yang baru di kehidupan masyarakat. Seiring dengan majunya teknologi membuat tiap orang berusaha untuk mengejar perkembangan tersebut. Seiring dengan perkembangan tersebut hadirlah kelas Akselerasi yang mulai menggunakan notebook dalam menunjang kegiatan belajarnya. Namun dibalik semua itu menimbulkan suatu pertanyaan, apakah siswa MAN Kota Kediri 3 benar-benar membutuhkan notebook atau hanya sebagai tuntutan gaya hidup sepertihalnya sekolah akselerasi lainnya.
Dari hasil angket pada 23 siswa Akselerasi diperoleh data sebagai berikut :
Tabel. 10. Keinginan siswa memiliki notebook
-
No.
Keinginan
Prosentase (%)
1.
Ada
96%
2.
Tidak
4%
Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa notebook merupakan idaman bagi anak Akselerasi, dari 23 sebanyak 22 anak menyatakan ingin memilikinya dengan alasan untuk mengerjakan tugas-tugas yang sering menuntut mereka mengerjakan dalam bentuk file sehingga mereka tidak perlu ke tempat rental. Selain itu mereka juga mengaku notebook dapat membantu Kegiatan Belaja Mengajar di kelas. Mereka juga dapat mengopi data yang dimiliki guru dan mempelajarinya di rumah. Selain itu notebook juga dapat digunakan untuk browsing apabila di MAN jadi dibuka area hotspot. Sedangkan sebanyak satu anak mengaku belum ingin memilki notebook dengan alasan perekonomian orangtuanya yang tidak mendukung.
Berikut kami lampirkan tabel pendorong siswa Akselerasi untuk memiliki notebook pada halaman berikutnya.
Tabel 11. Faktor pendorong memiliki notebook.
-
No.
Faktor
Prosentase (%)
1.
Kebutuhan (Manfaat)
77%
2.
Gaya Hidup
23%
Adapun pendapat siswa mengenai keberadaan notebook karena kebutuhannya sebagai berikut :
Membantu pembelajaran dan menunjang pembelajaran di kelas.
Memudahkan mengerjakan tugas.
Menghemat waktu, biaya dan tenaga karena tidak perlu pergi ke tempat rental.
Sedangkan pendapat siswa mengenai keberadaan notebook sebagai tuntutan gaya hidup di kelas Akselerasi adalah:
Mengikuti trend dan perkembangan Teknologi.
Keren, karena berbeda dengan komputer dan bisa dibawa kemana-mana.
Canggih, memenuhi tuntutan perkembangan yang serba cepat dan menghasilkan hasil yang akurat.
Siswa Akselerasi memang membutuhkan notebook sebagai penunjang KBM dan mengerjakan tugas yang menuntut dikerjakan dengan cepat untuk itu mereka membutuhkan notebook sebagai sarana atau alat yang efektif. Notebook memang merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Sehingga, apabila dilihat dari segi manfaat siswa Akselerasi dapat mengunakan notebook sebagai penunjang KBM tanpa harus memandang notebook sebagai alat yang harus dimiliki siswa Akselerasi sebagai bagian gaya hidup.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Diperlukan beberapa metode dan fasilitas tambahan bagi siswa Akselerasi yang memang berbeda dengan dari kelas reguler. Seperti metode pembelajaran yang lebih efektif, komunikasi antara guru dan murid serta perangkat multimedia di kelas yang dapat menunjang KBM.
Sebagian besar guru serta siswa kelas Akselerasi setuju apabila notebook digunakan sebagai penunjang KBM yang efektif, namun hal itu perlu ditunjang dengan adanya fasilitas hotspot di area MAN Kota Kediri 3 sehingga kehadiran notebook semakin efektif.
Sebagian besar siswa dan guru berpendapat bahwa perangkat multimedia dan notebook memiliki banyak keuntungan dalam menunjang KBM siswa di kelas, sehingga tercipta KBM yang efektif dan efisien.
Sebagian besar siswa Akselerasi mengaku akan memanfaatkan notebook dengan baik apabila notebook sudah digunakan di kelas, mereka juga mengatakan dengan notebook mereka akan mendownload dan mengopi beberapa file yang berisi materi pelajaran.
Siswa Akselerasi membutuhkan notebook dari segi manfaat sebagai penunjang KBM tanpa harus memandang notebook sebagai benda yang harus dimiliki siswa Akselerasi sebagai bagian gaya hidup.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah:
Kami berharap agar siswa Akselerasi mempunyai notebook sebagai media penunjang pembelajaran siswa di sekolah maupun dirumah mengingat begitu banyaknya keuntungan notebook bagi siswa.
Pihak sekolah yang sudah memprogramkan adanya area hotspot harap segera ditindaklanjuti, karena sangat berguna bagi semua siswa terutama siswa Akselerasi dalam menunjang KBM.
Para dewan guru diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas multimedia di kelas Akselerasi sebagai penunjang KBM yang efektif.
Pengunaan notebook di kelas lebih ditekankan pada segi manfaat agar apabila ada siswa yang belum dapat memilikinya nanti tidak akan menimbulkan kecemburuan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Berita Pendidikan : Mengenal Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia.http://smkasmr.sch.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=660&mode=thread&order=0&thold=0 (diakses tanggal 18 November 2008)
Anonim. 2007. Program Akselerasi, Perlukah? http://cendana.web.id/forum.index.php (diakses tanggal 18 November 2008)
Anonim. 2008. Notebook. www.wikipedia.org (diakses tanggal 18 November 2008)
Tim Redaksi Iqro’. 2007. IQRO’. Kediri: Hybrid.

1 komentar:
yaaaaaaaaaa
Posting Komentar