Welcome to my blog :)

rss

13 Maret 2010

Kelinci Si Penakut

Kelinci memang dari dulu terkenal sebagai hewan yang bernyali kecil, sering ketakutan tanpa alasan yang jelas, sesegera mungkin menyingkir bila dia merasa terganggu keamanannya.

Suatu hari, terlihat sekelompok kelinci sedang berkumpul di tepi sebuah sungai, mereka sibuk berkeluh kesah meratapi nyalinya yang kecil, mengeluh kehidupan mereka yang senantiasa dibayangi dengan mara bahaya. Semakin mereka ngobrol, semakin sedih dan ketakutan memikirkan nasib mereka.

Alangkah malangnya lahir menjadi seekor kelinci. Mau lebih kuat tidak punya tenaga, ingin terbang ke langit biru tidak punya sayap, setiap hari ketakutan melulu. Mau tidur nyenyak pun sulit karena terganggu oleh telinga panjang yang tajam pendengarannya sehingga matanya yang berwarna merah pun semakin lama semakin merah saja.

Mereka merasa hidup ini tidak ada artinya. Dari pada hidup menderita ketakutan terus, mereka berpikir lebih baik mati saja. Akhirnya mereka mengambil keputusan beramai-ramai hendak bunuh diri dengan melompat dari tepian tebing yang tinggi dan curam. Maka para kelinci terlihat berbondong-bondong menuju ke arah tebing.

Saat mereka melewati pinggir sungai, ada seekor katak yang terkejut melihat kedatangan kelinci yang berjumlah banyak. Tergesa-gesa si katak ketakutan dan segera meloncat ke sungai melarikan diri.

Walaupun si kelinci sering menjumpai katak yang melompat ketakutan saat melihat kelinci melintas, tetapi sebelum ini mereka tidak peduli. Berbeda untuk kali ini. Tiba-tiba ada seekor kelinci yang tersadar dari kesedihannya dan langsung berteriak, "Hei, berhenti! Kita tidak usah ketakutan sampai perlu harus bunuh diri.

Karena lihat lah, ternyata ada hewan lain yang lebih tidak bernyali dibandingkan kita yakni si katak yang terbirit-birit saat melihat kita! Mendengar kata-kata itu, kelinci yang lain tiba-tiba pikiran dan hatinya terbuka, seolah-olah tumbuh tunas keberanian di hati mereka. Maka dengan riang gembira mereka mulai saling membesarkan diri masing-masing, "iya, kita tidak perlu ketakutan!". "Tuh kan, ada mahluk lain yang lebih pengecut dari kita", "Iya, kita harus semakin berani". Perlahan-lahan mereka berbalik arah kembali kearah pulang dengan riang gembira dan melupakan niatnya untuk bunuh diri.


Pembaca yang budiman,

Saat keberuntungan sedang tidak memihak kepada kita, Jangan suka meratapi nasib yang dirundung malang seakan-akan hanya kitalah mahluk paling menderita di muka bumi ini. Lihatlah disekeliling kita. Masih begitu banyak orang yang lebih susah, sengsara dan sial dibandingkan kita. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan tetapi mampu menjalaninya dengan tegar dan tetap berjuang, kenapa kita tidak?

Apapun keadaan kehidupan kita hari, seharusnya kita jalani dengan optimis dan aktif, nasib tidak akan dapat kita robah tanpa manusia itu sendiri yang siap merobahnya, Karena sesungguhnya ‘sukses adalah hak setiap orang' success is my right, bagi siapa saja yang mau berjuang dengan sungguh-sungguh.

Salam sukses luar biasa!!!

Negeri muslim yang terkoyak

Negeri muslim yang terkoyak


Bulan September 2005, Majalah Sabili menurunkan sebuah artikel dalam rubrik-nya Telaah Khusus dengan judul Meramal Kehancuran Negeri-Negeri Islam (NO. 4 TH. XIII 8 September 2005/4 Sya’ban 1426). Artikel ini membahas hasil studi tentang failed state atau negara-negara yang bisa disebut akan hancur yang diterbitkan oleh Foreign Affairs yang bekerja sama dengan Fun for Peace.

Dalam artikel tersebut, Sabili membahas tentang 46 negara yang berkategori kritis, salah satunya adalah Pakistan. Tahun 2002, Pakistan berada pada urutan ke-14 di dalam daftar negara-negara berstatus kritis. Kini, di awal tahun 2010, PBB tegas memberikan status pada Pakistan sebagai negara yang paling tidak aman. Ternyata, hanya diperlukan waktu kurang dari lima tahun untuk menghancurkan sebuah negara berpenduduk Muslim terbesar kedua di dunia setelah Indonesia itu.

Peristiwa pemboman, sejak dua tahun yang lalu hampir rutin terjadi, setidaknya dua sampai tiga kali dalam sepekan. Bahkan memasuki tahun 2010, Pakistan disambut sebuah ledakan bom yang cukup besar, hampir 100 korban nyawa melayang. Bom meledak ditengah-tengah acara pertandingan bola voli, di Lakki Marwat, selatan Waziristan.

Beberapa hari sebelumnya, tepat 10 Muharram atau 28 Desember 2009, ketika peringatan Hari Asysyura yang dilakukan oleh warga syiah, bom besar meledak ditengah-tengah massa yang sedang melakukan pawai di tengah jalan

Dua kasus diatas terjadi karena alasan yang berbeda. Bom pertama karena konon wilayah yang diserang adalah wilayah pendukung anti-taliban. Sementara peristiwa kedua, alasan jelas karena syiah. Dua alasan ini menjadi sangat populer sebagai penyebab kekerasan yang terjadi di Pakistan. Dan yang menjadi korban, tidak lain adalah kaum Muslimin.

Bom yang terjadi didalam kelas di kampus Universitas Islam Internasional beberapa bulan lalu misalnya, 100% adalah umat Islam. 20 orang mahasiswa tewas seketika. Bahkan pada 27 Maret 2009, bom meledak di dalam Masjid ketika kaum Muslimin menunaikan shalat jumat. Hampir 70 orang tewas seketika di Masjid Jamrud itu. Kaum Muslimin memunguti serpihan tubuh mereka, menggali reruntuhan dengan tangan kosong dan berusaha memberi pertolongan. “Tidak mungkin seorang Muslim melakukan hal ini,” kata seorang yang turut menjadi korban.

Seorang lelaki yang berada didalam shaf shalat, meledakkan dirinya tepat setelah imam mengangkat takbir, “Allahu Akbar!” Apa yang terjadi disana? Siapa yang meledakkan diri itu? Apakah dia seorang Muslim juga? Lalu, apa alasannya? Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab, mengapa Pakistan menjadi seperti ini.

Apakah ada serangan yang ditujukan pada pasukan Amerika atau sekutu? Tentu saja selalu ada, seperti yang terjadi di perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Delapan anggota CIA tewas setelah sebuah bom meledak di kamp militer Amerika wilayah Khost. Tapi tetap saja, korban jatuh paling besar adalah umat Islam. Dan entah siapa yang harus bertanggung jawab.

Menurut data yang berhasil kumpulkan dari berbagai sumber, sejak tahun 2006 sampai bulan Mei 2009, kasus bom yang terjadi di Pakistan hampir 200 peristiwa. Dari peristiwa tersebut, korban tewas sebanyak 7364 jiwa, dan korban luka-luka sebesar 10.074 orang. Padahal masih pada bulan Mei, serangan bom masih terus berlangsung sampai tutup tahun dan entah berhenti sampai kapan. Apa yang sedang terjadi di Negara Muslim terbesar kedua di dunia ini?

Menurut pengamat intelijen, Soeripto, munculnya isu tentang aliran yang mudah dipertajam karena perbedaan pandangan dalam beragama menjadi alasan paling besar konflik umat Islam. “Misalnya, isu wahabi, itu siapa, dan dari mana sumbernya? Lalu siapa yang mempertajam isu syiah dan Sunni? Semua isu ini sebenarnya ada pabriknya. Pabrik yang membikin isu. Bagi saya, ini tidak terlepas dari upaya zionis yang mendapat dari dukungan dari negara-negara barat yang Islamophobi. Memang tidak semua kristiani begitu, tapi banyak tokoh seperti George W. Bush dan sejenisnya yang Islamophobi. Bahkan, mereka juga ikut memproduksi isu-isu seperti ini. Karena umat Islam tidak memiliki kemampuan kontra intelijen, lalu menganggap benar isu-isu yang mempertentangkan ini,” terang Soeripto.

Membidik Negeri Muslim

Konflik yang terjadi di negeri-negeri muslim, tidak semata karena faktor internal, melainkan juga eksternal. Hampir di seluruh dunia, umat Islam diperangi dengan berbagai cara. Ya, dengan senjata, politik, ekonomi, sosial hingga budaya.

Tak dipungkiri, kaum Muslimin kerap menjadi sasaran empuk keberingasan dan ketidakadilan. Tengok saja Asia, hingga saat ini Thailand Selatan tak pernah sepi dari pertumpahan darah. Di Filipina, Bangsa Moro tetap hidup dalam kondisi tertekan. Di Cina, Muslim Uighur mendapat perlakuan diskriminasi. Di India, Kashmir tak pernah jelas nasibnya. Indonesia di kipas-kipasi untuk berkonfrontasi dengan Malaysia sebagai target berikutnya.

Gejolak di Timur Tengah lebih dahsyat lagi, Suku Kurdi dibiarkan hidup dalam eksklusivitas untuk terus menentang rezim yang berkuasa, Irak berhasil dikoyak-koyak, Afghanistan terus digempur, Palestina dibiarkan terasing, Pakistan janga ditanya, tak pernah habis dirundung konflik. Iran sebentar lagi menjadi Irak kedua. Disharmoni Turki – Iran tetap terasa, Taliban dengan Rezim Afghanistan sulit dilerai.

Sehabis Asia dan Timur Tengah, Eropa sudah menjadi ladang pembantaian. Bosnia berdarah, Chechnya terus berjuang menjaga aqidah dari ancaman Rusia. Afrika pun dibidik, perang saudara terus berkecamuk di Somalia dan Sudan. Bukan tidak mungkin, akan ada Negeri Muslim lain yang terus digoyang kemelut, baik politik maupun ekonomi.

Kekuatan global itu bisa dirasakan, ketika stabilitas dalam negeri kian terancam oleh disintegrasi. Spionase ditanam untuk mencari kelemahan umat Islam yang besar dan kuat ini. Lihat saja, bagaimana Inggris menanam sembilan agen spionase (mata-matanya) ke beberapa negara Muslim untuk belajar mendalami Islam selama bertahun-tahun, termasuk mempelajari bahasa Arab, mengenal seluk beluk Islam sampai hal-hal yang paling kecil sekalipun. Misi mereka satu : hancurkan Islam secara masiv dari dalam.

Hampher, salah satu agen spionase muda asal Inggris yang terlatih, dikirim kementrian di London untuk melakukan tugas intelijen di sejumlah negara, seperti Mesir, Irak, Iran, Hijaz, dan Istanbul – saat masih menjadi pusat kekhalifahan Islam. Tugas pokoknya adalah menyesatkan ajaran Islam dan memasukkan orang-orang Islam ke dalam agama kristiani. Dibalik topengnya sebagai sosok yang sedang mendalami Islam, Hampher mengajak seorang pemuda labil untuk menciptakan sebuah sekte baru ajaran-ajaran yang jauh dari kemurnian Islam.

Menarik untuk dikaji, ketika Hampher punya rencana besar untuk menghancurkan negeri-negeri Muslim. Rencan ini terkuak dalam catatan harian yang ditulis Hampher dengan berbagai agendanya. “Sebetulnya yang membuat kami was-was bukanlah India dan Cina, tapi wilayah-wilayah yang dikuasai orang Islam. Oleh karena itu, kami membuat perjanjian dengan pihak Turki Ottoman yang tentu saja membawa keuntungan di pihak kami,” ungkap Hampher dalam catatan hariannya.

Ada beberapa kecemasan barat terhadap kehebatan Islam, diantaranya : Umat Islam sangat fanatik terhadap agamanya, Islam pernah menguasai pemerintahan, kehadiran ulama menjadi penghalang bagi kepentingan kolonialisasi, karena selalu menolak diajak kompromi untuk urusan duniawi. Apalagi jika ulama tersebut bisa memperngaruhi rakyat untuk menentang penjajahan.

Penghalang itulah menyebabkan para Islamophobi berkumpul dalam sebuah konferensi yang dihadiri para diplomat para tokoh-tokoh agama dari Rusia, Prancis, dan Inggris, termasuk kementrian Inggris. Di dalam konferensi tersebut, tercetus rencana untuk memecah belah umat Islam menjadi berkelompok-kelompok, mencari kelemahan, memicu perselisihan, menghasut penduduk untuk melawan negara dan ulama, serta mendorong umat ini meninggalkan agama asal kepada kristen, seperti yang terjadi di Spanyol.

Rekomendasi Spionase

Untuk merealisasikan kehancuran Islam itu, ditebarlah spionase-spionase yang menjadi kaki tangan barat ke seluruh negeri berpenduduk Muslim, termasuk Indonesia. Jika dulu, Belanda punya spionase Snouck Hurgronje, Inggri merekrut Thomas Edward Lawrence alias Lawrence of Arabia, Israel punya Johann Wolfgang Lotz, Hampher (Inggris) dan sebagainya. Agen-agen resmi negara, seperti CIA (AS), Mossad (Israel), M16 (Inggris) dan agen swasta lainnya punya andil untuk menghancurkan Islam. TE Lawrence, misalnya, ia ditugaskan untuk memprovokasi para kepala suku dan mengobarkan pemberontakan terhadap Monarki Turki, lalu terjadilah Revolusi Arab.

Di Indonesia, sosok Snouck Hurgronje dikenal sebagai spionase Belanda yang mempelajari Islam dan menyebarkan fitnah ditengah masyarakat Muslim. Dengan menggunakan pengetahuan tentang Islam dan sejarahnya, Snouck menjalankan siasat busuknya untuk mencari kelemahan umat Islam dari dalam. Di balik “penelitian ilmiah” itulah, ia melakukan aktivitas spionase, demi kepentingan penjajah dan melanggengkan kekuasaan kolonial. Dengan cara manipulasi, pengkhianatan, dan pura-pura masuk Islam, Snouck Hurgronje berganti nama menjadi Abdul Ghaffar, memperlajari Islam di Mekkah Al-Mukarramah, bahkan menunaikan ibadah Haji.

Selama di Hijaz, ia berbaur dengan masyarakat Indonesia yang mukim disana, dan menjalin hubungan erat dengan para ulama Mekkah dan Indonesia, khususnya asala Jawa, Sumatera, dan Aceh. Banyak data-data penting dan informasi yang diperoleh, saat uia memata-matai gerakan anti penjajahan, terutama ihwal rencana para Ulama Indonesia yang akan menyerukan jihad melawan Belanda di Tanah Air. Snouck kemudian menawarkan diri kepada pemerintah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Ia membaca laporan panjang yang berjudul “Kejahatan-kejahatan Aceh”. Laporan ini menjadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapi masalah Aceh.

Snouck lalu merekomendasikan, bahwa yang berada dibalik perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para Ulama. Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena ia yakin tokoh-tokoh itu hanya memikirkan duniawinya, mengamankan posisinya. “Islam membangkitkan kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda,” begitu statement Snouck. Itulah sebabnya, ia meyakinkan pemerintah Belanda, kekuatan Aceh bisa ditaklukkan bila ulamanya “dibersihkan”.

Siasat politik Devide et impera, pecah dan kuasai yang dilancarkan Snouck Hurgronje menjadi inspirasi dan terus di up-date oleh musuh-musuh Islam di era globalisasi sekarang ini. terbukti, spionase kaki tangan barat, kini ditanam negeri-negeri Muslim dan di setiap organisasi pergerakan Islam, dengan cara menebar virus sekuler-liberalisme ke alam otak intelektual Muslim. Agen-agen lokal berwajah melayu ini direkrut dan diracuni pola pikirnya, tentu saja dengan kucuran dana yang menjanjikan. Agen-agen Melayu ini ditebar untuk menjadi duri dalam daging di tubuh umat Islam.

Atas nama HAM, demokrasi, pengusung liberal dan pluralisme hendak memberangus Islam dengan cara menjegal perda-perda yang dianggapnya berbau syariat. Mereka tampil sebagai pembela maksiat, kaum homoseksual, pornografi, penghina Nabi, peleceh Al-Quran, penggugat syariat Islam, dan menyiapkan segudang amunisi untuk melumpuhkan pejuang syariat Islam. Bagi orientalis, ini adalah kemajuan besar.

Tak beda dengan Snouck, Hampher saat menjalankan tugas spionasenya, dibekali buku setebal seribu halaman berjudul “Cara Menghancurkan Islam” oleh sekretaris kementrian Inggris. Buku itu yang berisi informasi tentang sumber kekuatan dan juga titik lemah umat Islam in merupakan hasil pengamatan di bidang militer, ekonomi, pendidikan dan agama.

Ada beberapa strategi yang dikemukan Hampher untuk menjatuhkan Islam, diantaranya : Menimbulkan kontroversi dengan memicu kebencian diantara kelompok-kelompok yang bertikai, menyebarkan ketidakpercayaan, dan menerbitkan bacaan yang menimbulkan kontroversi; melenyapkan buku-buku tentang Islam sebanyak mungkin; Menjunjung kepentingan syurgawi sehingga lupa untuk dunia, memperbesar pengaruh tasawuf, menjebar umat Islam dengan prinsip zuhud; membujuk penguasa agar terus menjadi diktator dan kejam; Menghapus hukuman mati bagi para pembunuh denga Undang-Undang; membiasakan diri dengan gaya hidup bebas, korup, riba, drugs, miras, pornografi; Menebarkan kebencian untuk melawan ulama agar jauh dari Umat Islam; Mendukung oposisi untuk melawan pemerintah.

Apalagi? Dimunculkan chauvinisme, rasisme, dan nasionalisme diantara umat Islam untuk memecah belah pehatian mereka dengan heroisme masa lalu; Melegalkan alkohol, pejudian, perzinahan, babi dan perkelahian; Menyebarkan kecurigaan seputar jihad; Menghilankan ungkapan kafir adalah buruk; Menanamkan anggapan bahwa membangun gereja di negara Islam tidaklah haram dengan dalil-dalil tertentu; Menghalangi umat Islam beribadah dan membuat mereka lupa akan fungsi ibadah; Menghalangi pembangunan Masjid, melarang azan, menara, cadar, jilbab dan simbol Islam lainnya.

Selanjutnya, memasukkan unsur bid’ah dalam ajaran Islam dan mengkritik Islam sebagai agama teror; menghalangi pertambahan jumlah umat Islam dengan pembatasan jumlah kelahiran dan pelarangan poligami serta membatasi pernikahan. Misalnya, melarang pernikahan orang Iran atau Turki dengan Arab; Membatasi lembaga keagamaan dan hanya menjadi monopoli pemerintah; Memasukkan keraguan akan keotentikan Al-Qur’an ke dalam benak umat Islam.

Inilah era baru, perang pemikiran, perang tanpa senjata, perang yang tak menelan biaya mahal. Sudah saatnya, kaum Muslimin merapatkan barisan, agar tidak terkecoh dengan kedok mereka yang berbaju HAM, demokrasi dan pluralisme.