Welcome to my blog :)

rss

11 Mei 2009

Artikel

. Empat era perkembangan Teknologi computer :

Secara garis besar, ada empat periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer hingga saat ini. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker, Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era modern.

Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-

II. Era komputerisasi

Pemakaian komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa. Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi yang sedemikian ketat.
Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan administrasinya sehari-hari. Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Kunci dari keberhasilan perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat.


III. Era Globalisasi Informasi

Tidak ada negara yang mampu untuk mencegah mengalirnya informasi dari atau ke luar negara lain, karena batasan antara negara tidak dikenal dalam virtual world of computer. Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, Internet, Ekstranet, semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat. Terbukti sangat sulit untuk menentukan perangkat hukum yang sesuai dan terbukti efektif untuk menangkal segala hal yang berhubungan dengan penciptaan dan aliran informasi. Perusahaan-perusahaan pun sudah tidak terikat pada batasan fisik lagi. Melalui virtual world of computer, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh lapisan masyarakat dunia yang terhubung dengan jaringan internet. Sulit untuk dihitung besarnya uang atau investasi yang mengalir bebas melalui jaringan internet. Kebutuhan baru akan teknologi informasi yang cocok untuk perusahaan, yaitu teknologi yang mampu adaptif terhadap perubahan.

Tidak jarang perusahaan yang akhirnya harus mendefinisikan kembali visi dan misi bisnisnya, terutama yang bergelut di bidang pemberian jasa. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat canggih teknologi informasi telah merubah mindset manajemen perusahaan sehingga tidak jarang terjadi perusahaan yang banting stir menggeluti bidang lain. Bagi negara dunia ketiga atau yang sedang berkembang, dilema mengenai pemanfaatan teknologi informasi amat terasa. Di suatu sisi banyak perusahaan yang belum siap karena struktur budaya atau SDM-nya, sementara di pihak lain investasi besar harus dikeluarkan untuk membeli perangkat teknologi informasi. Tidak memiliki teknologi informasi, berarti tidak dapat bersaing dengan perusahaan multi nasional lainnya, alias harus gulung tikar.

IV. Perubahan Pola Piker Sebagai Syarat

Dari keempat era di atas, terlihat bagaimana alam kompetisi dan kemajuan teknologi informasi sejak dipergunakannya komputer dalam industri hingga saat ini terkait erat satu dan lainnya. Memasuki abad informasi berarti memasuki dunia dengan teknologi baru, teknologi informasi.



cerpen bahasa indonesei

ADA DUA LELAKI.

Keduanya adalah saudara kandung, Lahir di dalam keluarga yang taat beragama. Namun perilaku kedua orang itu berbeda dan akhirnya hidup mereka juga berbeda.

Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura tak pernah menyentuh minuman gelas apalagi meminumnya. Tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahromnya. Pernah dia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, Namun ia teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatan yang baik dan akalnya yang miulia ia dicintai oleh warga dan masyarakat.

Sedangkan adinya, berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil dikenal nakal. Sejak remaja sudah bias masuk tempat maksiat. Rumah bordil adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia mabuk dan melakukun berbagai maksiat di rumah bordil milaknya itu. Kadang ia juga ikut gerobolan perampok, untuk merampas harta orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang melakukan pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikakan telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahat itu membuat dirinya dibenci oleh masyarakat dan keluarga.

Suatu ketika ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah, merenung dalam kesepiannya. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya barkata padannya,

“Sejak kecil aku selalu berbuat kebaikan dan beribadah. Aku telah mendapat tempat dihati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikitpun. Kenapa kau tidak sesekali datang ketempat adikku menghibur diri di rumah bordilnya. Sesekali saja setelah itu aku bisa taubat. Dan membaca istigfar ribuan kali dalam sholat tahajjud. Bukankah Allah itu Maha Pengampun?”

Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya setan pun dengan sangat halus masuk melalui pori-pori ban aliran darah. Ia berkata pda dirinya sendirai,

“ Benear juga. Kenapa aku tidak sesekali menghibur diri? Hidup Cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan bertobat kepada Allah Swt. Di Maha Pengasih Lagi Maha Pengampun.’’

Sementara itu di rumah bordil. Adiknya juga merenung ia merasa jenuh dengan hidup yang ia jalani. Nuraninya berkata, sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam-macam maksiat telah aku lakukan. Apa aku akan hidup begini terus? Keluarga membenciku karena perbuatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik seperti kakak. Ah, bagaimana kalau aku telah mati. Bagaimana aku akan mempertanggungjawaban perbuatanku. Kalau begini terus aku kelak akan masuk neraka. Hidup susah di akherat sana. Sementara kakakku akan hidup nikmat da surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat turus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus. Nanti malam aku akn pergi kemasjid tempat kakak beribadah. Aku mencoba sholat dan ikut sholat. Aku mau kembali ke pangkuan Allah swt. Aku mau beribadah sepanjang sisi hidupku. Semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.’’

Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara itu melaksanakan niatnya masing-masing . Usai sholat magrib sang kakak kembali ke rumah, dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan rumah bordil begitu mendengar adzan magrib. Jalan yang di ambil dua bersaudara itu tidak sama sehingga keduanya tidak bertemu d itengah jalan.

Sampai di rumah bordir sang kakak mencari adiknya. Namun tidak ada. Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tau kemana adikny itu pergi.

Meskipun adiknya tidak ada, ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang di inginkan nafsunya di rumah bordir itu bersama para penaridan pelacur. Di tempat lain sang adik sampai di masjid tempat kakaknya biasa ibadah.

Ia sudah bertekat bulat untuk meninggal semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya ternyata tidak ada. Padahal kakaknya selalu iktikaf dalam masjid usai magrib sampai isya’. Ia bertanya pada penjaga masjid, namun ia tidak tau kemana ia perginya. Meskipun tidak ada kakanya, niatnya telah bulat. Ia melakukan sholat dan beristigfar sebanyak-banyaknya dengan mata bercucuran air mata.

Tiba-tiba bumi bergoncang dengan hebatnya.

Aws ada gempa! Ada gempa! Teriak orang orang di jalan. Orng-orang panic keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Takut kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam kenikmatan tobatnya tidak beranjak diri dalam masjid. Ia tidak merasa kalau tidak ada gempa. Demikian sang kakak yang sedang larut dalam rumah bordir. Ia tidak merasa sama sekali merasakan kalau ada gempa. Goncangan gempa malam itu cukup keras. Beberapa bangunan roboh termasu masjisd dan rumah bordil.

Keosokan harinya sang kakak ditemukan tewas di antara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang memelukan. Sedangkan adiknya ditemukan juga tewas dalam reruntuhan dalam masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dadanya.

Masyarakat yang tau ilwah kedua kaka beradik itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir, orang yang mereka dikenal ahli ibadah kok bias tewas dengan cara yang sedemikian tragis. Sedangkan adiknya yang dikenal ahli maksiat kok bias khusnul khotimah. Dengan peristiwa ini orang-orang diberi pelajaran berharga. Bahwa kematian bias dating kapan saja. Hanya Allah yang tau. Maka jangan sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Suapa tahu saat menuruti hawa nafsu itulah maut menjemput. Na’udzubillahi min dzalik. Bahwa niat baik itu harus dijaga, agar Allah swt. Menganugrahkan akhir hidup yang indah.

Akhir hidup yang diridhai-Nya

Ya allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dan keistiqomahan berada dalam jalan-Mu. Kharuniakanlah kepada kami husnul khotimah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.”